
seperti biasa Dikta membantu Alden untuk datang kesekolahan. namun saat itu beberapa siswi menghadang mereka berdua yang tengah berjalan dikoridor sekolah.
"mending lo gak usah dorongin Alden lah Dikta, nanti lo ketularan lagi jadi laki-laki yang gak bertanggung jawab!" sindir salah satu siswi.
saat itu Dikta tidak menatakan apapun, ia memilih untuk lanjut mendorong kursi roda Alden menuju ke kelasnya. mendapati sikap dingin dan acuh dari Dikta, para gadis itu menjadi geram.
"Dikta, kita ini perduli sama lo. kok lo malah cuekin kita si?" protes gadis-gadis itu.
"lagian lo kenapa si belain Alden yang jelas-jelas udah nikung lo, mana sekarang dia nyusahin lo banget kan?"
Damn
Dikta meninju tembok sehingga membuat siswi-siswi itu terdiam. Dikta menghunus tatapan tajamnya sehingga membuat beberaoa gadis menciut.
"gua heran sama kalian semua, dulu kalian tergila-gila sama Alden. tapi sekarang apa? kalian malah buli dia dan ngejatohin mentalnya. kalian pikir kamian lebih baik hmm?" Dikta menarik sudut bibirnya tersenyum smirk. ia kemudian meraih kembali Kursi roda Alden yang tercekat.
Dikta kemudian membawa Alden kes belakang sekolah untuk menenangkan Alden yang merasa carut marut.
"harusnya lu gak ngebelain gua didepan mereka Ta, gua emang pantes diginiin kok sama mereka. gua emang pecundang" ucap Alden yang tertunduk lesu.
"tu kan Dikta, dia itu dari dulu songong. udah lo bantuin masih juga gak terima kasih sama lo!"
suara yang baru saja muncul membuat Dikta dan Alden menoleh ke arah sumber suara. mereka melihat seseorang yang sangat mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Liyora.
"apa lo gak jijik sama dia Dikta? lebih baik lo jauhin dia, dia itu udah bikin manatan kesayangan lo itu b*nting. lo gak ngerasa dikhianatin sama dia?"
"gua lebih jij*k sama orang yang hobinya ngehujat orang lain, tapi gak bisa berkaca!"
Liyora menjadi kesal karena ucapan Dikta. ia merasa saat ini Dikta sudah berani untuk mengejek dirinya seperti itu. dan saat itu karena Liyora tidam bisa menahan kekesalannya, dengan kasar ia mendorong kursi roda Alden hingga Alden merasa kesakitan.
brak..
melihat hal itu Dikta segera membantu Alden dan mendudukannya di atas kursi rodanya kembali. is lalu memeriksa kaki Alden yang patah.
"kaki gua sakit banget Ta" Alden meringis kesakitan.
"kita ke rumah sakit sekarang!" Dikta segera membawa Alden untuk naik mobil. dan saat itu ternyata Friska sudah memperhatikan Liyora yang bersikap semena-mena terhadap Alden.
__ADS_1
"gue gak habis pikir sama lo Liyora!"
mendengar suara Friska, Liyora membalikan badannya dan menatap nayalang Friska yang sudah bersedekap. Friska juga tak kalah dari Liyora yang terlihat garang.
"oh si kupu-kupu malam gak terima ni ceritanya.."
"huh, lo bisa ngatain gue kaya gitu. tapi bener si yang diomongin sama Dikta, kalo lu itu emang gak bisa ngaca! lo itu lebih parah dari gue Liyora! lo ngejar-ngejar suami orang dengan nipu dia. dan satu lagi, lo juga ngehasut nyokapnya Sagakan sama kebohongan lo?!"
"berenti ngebacot lo Friska" Liyora ingin memuk*l Friska, namun Friska segera menangkis tangan Liyora.
"inilah yang namanya anarkis, dan lo ngelemparin tuduhan ini sama mba Lesya? hebat banget ya lo Ra? dan gue juga punya satu contoh anarkis yang pastinya bikin nyokapnya Saga jijik banget sama lo Liyora!"
"apa maksud lo Friska?"
tanpa mengucapkan apapun, Friska menunjukkan video saat Liyora membuat Alden terjatuh. dalam sekejap wajah Liyora berubah menjadi pucat pasi.
"gimana kalo video ini gue kirim ke nyokapnya Saga? seenggaknya kita vakal ancur bareng-bareng kan Liyora?" ucap Friska dengan penuh ancaman.
Liyora yang tak tinggal diam ingin merebut ponsel milik Friska, sehingga terjadi pergulatan hebat antara Friska dan Liyora. hingga ketika Liyora melihat sebuah batu dan,
brug
"gue gak akan biarin lo bebas Liyora" dengan sisa-sisa tenaganya, Friska menekan tombol send kesebuah nomor.
dan saar itu terjadi Liyora lagi-lagi mengh*nt*m kepala Friska dengan batu yang tadi ia gunakan hingga Friska tidak sadarkan diri.
"udah gue bilang kan Friska, gak ada yang bisa ngelawan gue!" dengan senyum sinisnya Liyora melempar ponsel milik Friska kesebuah tong sampah sekolahan. setelah itu Liyora meninggalkan Friska begitu saja dengan terburu-buru.
_
Lesya saat ini tengah sibuk menyiapkan makanan, hari ini Arga memang tidak membiarkan siapapun keluar dari rumahnya, begitupun sebaliknya. ia juga tidak membiarkan siapaun dari luar yang bisa masuk kecuali Doni.
"eh lu kenapa si pak Arga, kenapa gak ngebolehin kita balik?" Saga protes dengan Arga yang saat itu duduk disebuah sofa dengan Laptop di mejanya.
"ini buat keamanan kalian, kalo kalian berdua gak sayang sama nyawa kalian, kalian bisa pergi sekarang!" tukas Arga yang terus menatap ke arah layar laptopnya.
"lu gak kasihan sama istri gua apa pak? dia dari kemaren belum ganti baju lo, mana bajunya kena darah bapak lagi!" Saga terus menggerutu.
__ADS_1
setelah mendengar ucapan Saga, Arga diam-diam melihat Lesya yang tengah menyiapkan makanan dimeja makan. ia mengerutkan dahinya ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh Lesya.
'apa yang dikatakan bocah ini emang bener, walaupun gue mau balas dendam. tapi dia udah ngerawat gue!'
saat itu Arga menghubungi tangan kanannya. ia memeeintahkan Doni untul membelikan sebuah baju santai untuk Lesya.
Lesya yang sudah menyiapkan makananpin mengajak Arga dan juga Saga untuk segera makan. ketika semuanya sedang menikmati makanan, saat itu Arga teringay akan sesuatu yang pernah Arvin katakan.
_Flashback On
"ada apa bang, jam segini main telfon. aku mau tidur, besok aku ada wawancara di universitas"
bukannya membalas ucapan Arga, saat itu Arvin justru terkekeh. dan hal itu membuat Arga kesal.
"aku matikan ya telfonnya-"
"eits jangan Arga, aku tertawa karna aku baru ingat kalau perbedaan waktu di negara yang kita tempati memang cukup lama. aku hanya ingin menawarimu makan siang!"
"apa kau tau Arga, kalau kamu disini pasti kamu sangat senang karna setiap hari ada seseorang yang selalu masakin kamu. dia masih dua tahun lebih muda darimu, tapi kemampuan memasaknya sudah sangat hebat!"
"apa? jadi abang punya lacar seusiaku? bukankah lebih baik dia ngejar pendidikannya dari pada dia pacaran sama abang? ah ya aku tau, dia oasti udah gak perduli sama pendidikannya, karna dia pikir setelah dia nikah sama abang, dia gak butuh buat nyari kerja, karna abang kan udah sukses, dia tinggal ongkang-ongkang kaki aja tu!"
"heiss jahan ngawur, dia itu jenius. jadi diusianya yang masih 16 tahun dia udah sarjana Arga! abang aja kadang minder sama dia, saat ini dia mulai belajar buat mengelola perusahaan orang tuanya."
"uhuk..uhuk.." Arga terbatuk-batuk diseberang sana, ia begitu terkejut dengan apa yang dia dengar dari kakaknya.
_Fkashback Off
'ternyata bener kata bang Arvin, masakannya emang enak banget'
namun saat itu Arga kesal karena melihat Saga yang terus bersikap romantis terhadap Lesya.
'tapi maaf bang Arvin, gue tetep akan balas dendam. enak aja dia lupain abang cuman gara-gara bocah tengil yang satu ini!'
.
.bersambung
__ADS_1
.