
Hari sudah semakin siang. dan tepat jam makan siang, Arga mengajak Lesya pergi untuk meeting dengan kliennya yang barasal dari perancis. saat itu Arga sudah memikirkan hal apa yang akan ia lakukan terhadap Lesya.
seperti sekertaris pada umumnya, Lesya berjalan disamping sedikut dibelakang dari atasannya. ia tengah memeriksa kembali berkas yang harus ia gunakan untuk meeting yang beberapa saat lagi akan dilaksanakan.
"dimana kita duduk?" tanya Arga datar dengan terus berjalan dan keoala yang tegak dengan aura seorang CEO muda.
"sesuai permintaan bapak, kita akan duduk di sudut yang agak jauh dari panggung. karena bapak tidak ingin terganggu!"
"lalu kapan merekq akan sampai?"
"sekitar sepuluh menit lagi mereka akan sampai pak. dengan begitu kita mempunyai waktu untuk memeriksa berkas-berkas, agar terhindar dari kekeliruan atau apapun yang tidak kita inginkan"
karena Arga yang berhenti mendadak membuat Lesya lagi-lagi menabrak Arga. bedanya kali ini yang Lesya tabrak adalah punggung bukan bagian tubuh depan dari Arga.
"aw... emm maaf pak!"
"kamu ini becus bekerja atau tidak hemm? kamu bilang kita bisa terhindar dari masalah jika ada kendala di berkas kita? memangnya saya bayar kamu untuk apa kalau masalah seperti itu kamu masih mau memeriksanya disini?" masih dengan suara datarnya namun penuh penekanan, Arga terus membuat Lesya untuk lagi-lagi menahan kekesalannya.
"tolong bapak dengarkan saya pak. saya mengatakan hal itu hanya untuk memgantisipasi kejadian yang tidak diinginkam saja pak. kalau tentang memeriksa berkas, saya sudah lakukan itu beberapa kali. dan saya pastikan semuanya akan berjalan dengan lancar."
'haha lo pikir enak gue teken lo. gue tau apa yang lo maksud itu emang bagus dan gue akuin lo cukup cekatan sebagai sekertaris gue, sepertinya bukan hal yang baru buat lo. tapi gue lihat lo gak pernah melamar kerja dan dari interview ini pertama kali lo kerja. tapi sebagus apapun lo kerja, kalo lo suka cari masalah sama gue, jangan harap pekerjaan lo akan mudah' Arga sibuk bermonolog didalam benaknya. sementara Lesya justru semakin dibuat kesal oleh ucapan atasannya.
"kita sudah sampai pak!"
saat itu Arga dan Lesya menunggu klien mereka dengan saling membahas poin-poin penting dari projek yang akan mereka bahas. dan selang beberapa saat orang yang mereka tunggu telah tiba.
saat itu Arga bangkit dari duduknya untuk menyambut klien pentingnya dari luar negeri, begitupun dengan Lesya yang menjabat tangan dari klien Arga dengan mengukir senyum yang sangat natural dan menawan.
saat itu Arga menatap Lesya penuh makna. ia kemudian mendekat ke arah Lesya. "sekarang tugasmu untuk menjelaskan projek kita,aku mau mereka menyetujuinya. dan satu lagi, ka.u harus menggunakan bajasa mereka karena juru bicara mereka tidak bisa hadir hariö ini"lirih Arga
'sekarang lo mau apa coba? mana bisa lo bahasa perancis! dan setelah lo bikin masalah, gue dengan mudah bisa marahin lo. bahkan buat pecat lo gampang banget Lele.. haha lele? gue baru inget dia itu di panggil lele sama Dylan!'
"Très bien, messieurs, nous ferions mieux de commencer la réunion maintenant." Lesya kini memulai perbincangan.
[Baik tuan-tuan sekalian sekarang lebih baik kita mulai meetingnya sekarang.]
"Bien mademoiselle. Mais avant cela, je peux parler. Comme vous êtes très à l'aise dans notre langue?"
__ADS_1
[Baik nona.Tapi sebelum itun kalo boleh saya bicara.Sepertinya anda sangat fasih berbahasa kami?]
"Erm .. Il se trouve que je l'ai étudié. Alors je peux petit à petit " balas Lesya dan tersenyum mempeelihatkan barisan giginya yang seperti gigi kelinci
[Emm.. kebetulan saya pernah mempelajarinya. Maka dari itu saya bisa sedikit-sedikit]
saat mengetahui Lesya sangay fasih berbahasa prancis, Arga tercengang. ia melihat Lesya begitu berbakat untuk menjadi sekertarisnya.
'ternyata gue salah nganggep lo remeh. lo justru pinter banget buat ngadepin mereka. lo cumam ngejelasin beberapa poin penting dari projek ini, mereka langsung setuju gitu aja!'
setelah kesepakatan terjadi, kini tersisa Arga dan Lesya di meja itu. saat itu Lesya segera menata semua berkas dan bersiap untuk kembali ke kantornya. namu saat itu, Arga justru masih duduk santai dengan menikmati kopi pesanannya.
"permisi pak, apa bapak tidak berniat untuk kembali ke kantor?"
seketika Arga melirik Lesya. ia tersenyum smirk dan kemudian menggerakan jari telunjuknya untuk menyuruh Lesya mendekat ke arahnya.
"gue tanya sama lo, disini siapa yang bosnya. lo atau gue?"
"maaf pak saya tidak bermaksud!"
"gue mau jawaban dari pertanyaan gue! bukan permintaan maaf dari lo"
"kalo gitu lo gak perlu tanyain apapun yang mau gue lakuin, paham!"
"baik pak, tapi saya mau kasih saran sama bapak. alangkah baiknya jika bapak menggunakan bahasa yang sopan untuk berbicara dengan karyawan anda!"
"huh.." Arga terkekeh mendengar saran dari Lesya. "gue bakalan sopan, sama orang yang sopan sama gue. kalo sama lo, jangan harap?" ketus Arga.
saat itu Lesya hanya menunggu Arga yang masih santai menghabiskan makanannya hingga beberapa jam dengan bermain ponsel genggamnya.
"maaf pak, saya harus pulang karena sudah waktunya pulang kantor."
saat itu Arga segera melihat arloji yang ada di tangannya. ia kemudian menyunggingkan senyum smirknya. "hari ini lo harus lembur. karena gue mau lo cari pembukuan kantor gue tahun 2013 tentang orangtua dari klien hari ini."
"tapi pak-"
"kalo lo berhasil nemuin malam ini juga, gue kasih lo bonus dua puluh juta"
__ADS_1
'sebenernya aku males ladenin bos kaya dia. tapi gue harus lakuin ini, karna kesempatan buat dapet uang segitu dengan cuman nyari pembukuan itu gak dateng dua kali'
"baik kalo gitu pak, saya akan mulai mencari sekarang!"
melihat Lesya yang begitu serius mencari pembukuan, Arga justru tersenyum penuh kemenangan. 'cari aja sampek rambut lo ubanan juga gak akan ketemu, karena pembukuan itu idah ada ditangan gue!'
"kalo gitu lo cari yang teliti, gue mau ke ruangan gue!"
"hemm"
'hemm? sumpah cuma dia lo yang berani hemen gue! liyat aja sebentar lagi gue kasih lo pelajaran!'
ketika Lesya tengah sibuk membuka satu persatu buku pembukuan, tiba-tiba lampu ruangan itu padam. dan seketika membuat Lesya ketakutan. itulah satu-satunya ketakutan Lesya, yaitu dengan gelap.
"permisi, disini listriknya padam. apa ada orang diluar?" itulah Lesya. jika sudah panik, ia tidak bisa berpikir jernih.
"sebelum aku pingsan, ada baiknya aku buru-buru keluar dari sini." namun saat Lesya menarik kenop pintu, pintu tersebut tidak bisa terbuka. dan saat itu nafas Lesya mulai tidak beraturan.
-
"kenapa sampai malem kaya gini Lesya belum pulang?" Saga terus melihat jam yang ada di dalam ponselnya.
"mending gua telfon aja"
tut tut
Saga mencoba beberapa kali untuk menghubungi istrinya, namun masih belum ada jawaban dari Lesya.
"padahal aktif, kenapa gak diangkat? huh, ini gak bisa di biarin lebih baik gua pergi kesana." Saga lalu mengingat-ingat perkataan Lesya sebelum ia berangkat ke kantornya. "ah iya, kalo gak salah perusahaan itu namanya ARLES COMPANY. sekarang lebih baik gua cari tau dimana perusahaan itu berada."
"akhirnya ketemu, ini emang lumayan jauh. lebih baik gua sekarang kesana"
.
.
.bersambung
__ADS_1
.