
Setelah menerima pesan dari Doni, Andi kemudian bergegas untuk mencari Via. disepanjang jalan ia tidak berhenti mencemaskan Via.
hingga pandangannya berhenti di sebuah sepatu yang sangat ia kenal. ya, sepatu itu adalah milik Via.
"bukankah itu sepatu milik Via? kenapa bisa sepatunya ada disitu? "
Andi memungut sepatu yang tinggal sebelah. ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan pemilik dari sepatu tersebut. namun ia tidak menemukan Via. ia justru melihat sosok laki-laki yang keluar dari semak-semak.
"siapa laki-laki itu? dia tidak terlihat seperti brandalan! dia juga lumayan tampan, tapi berjalannya seperti orang mabuk"
"astaga, kenapa aku justru membicarakan orang itu. lebih baik aku mencari Via"
hiks
hiks
Terdengar suara tangisan dari balik semak-semak. karena merasa cemas, takut jika itu adalah Via, Andi segera berlari menuju sumber suara.
"Via"
Via yang sudah sangat kacau tidak sedikitpun melihat kearah Andi, ia justru semakin terisak dengan banyak luka kebiruan di tubuhnya. badannya yang sangat lemah bahkan tidak bisa bangkit.
"ada apa Via, apa yang terjadi? "
Andi hendak menangkup dagu Via, namun Via memundurkan wajahnya.
"jangan sentuh gue, jangan sentuh tubuh kotor gue Andi! "
tap tap tap
disaat itulah Doni juga datang membawa sepatu sebelah Via yang terjatuh di tepi jalan. yang satunya ditemukan oleh Andi sebelum ia menemukan Via.
"nona Via, ada apa? "
"kalian pergi, pergi dari sini" Via histeris sembari menggosok-gosok tubuhnya dengan kasar. saat itulah Doni mengerti dengan apa yang dialami Via, dan hal itu semakin terlihat jelas dengan keadaan Via yang kacau dengan pakaiannya yang sedikit robok-robek dibeberapa bagian.
__ADS_1
"Andi, bawa Via pulang. aku akan mencari siapa pelakunya"
ketika Doni bergegas, saat itu Andi menahannya. "jangan lakukan itu Pak Doni, jika kita melakukan ini sama saja kita akan memberitahu semua orang tentang apa yang menimpa Via. dan aku tidak ingin hal itu semakin melukai Via"
setelah memikirkan ucapan Andi, Doni sadar bahwa apa yang ingin ia lakukan bisa merusak reputasi Via saat ini. Doni lalu menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.
"baiklah, tapi aku akan mencari pelakunya dengan caraku. aku tidak akan membiarkan orang itu bebas berkeliaran diluar sana" Doni mengepalkan tangannya.
Setelah sampai di rumah, Via langsung masuk kedalam kamar mandi. cukup lama Via berada didalam hingga membuat Andi cemas.
tok tok
"Via, apa lo baik-baik aja? " hingga berulang kali Andi mengetuk pintu kamar mandi, namun Via tak kunjung membukakan pintu.
brak
Andi mendobrak pintu kamar mandi, saat itu Andi tidak menemukan Via didalamnya, hingga akhirnya ia memeriksa bathup dimana Via sudah menenggelamkan dirinya didalam sana.
Dengan segera Andi mengeluarkan Via dari dalam air. ia mencoba menyadarkan Via, namun tidak berhasil. akhirnya setelah Andi memberikan nafas buatan Via mulai kembali dalam kesadarannya.
"jangan sentuh gue Andi, gue ini perempuan kotor" ucap via dengan lemah dan tidak berdaya.
Saat itulah Andi semakin mengeratkan pelukannya.
"ssstt.. " tanpa memperdulikan ucapan Via, Andi mengangkat tubuh Via dan ia baringkan ke ranjang. saat itu Andi kemudian mengambil. baju ganti untuk Via.
Dan ketika Via sudah mengganti pakaiannya, Andi duduk di hadapan Via. ia mengobati beberapa luka yang ada di tangan Via.
Andi memegang tangan Via secara tiba-tiba hingga membuat Via terjingkat. hingga saat itulah Andi kembali menenangkan Via. tanpa Andi sadari ia mebitikkan airmata. Nadi kemudian memasukkan Via kedalam pelukannya.
"Maaf Via, maafin gue. gue gak penuh jagain lo"
Entah mengapa melihat Via yang terisak dalam tangisannya membuat Andi merasa sangat sakit. saat itulah Andi teringat ketika ia melihat seseorang yang keluar dari semak-semak dalam keadaan mabuk.
Sementara itu saat ini Lesya yang tengah menunggu Yoo joon yang masih koma, ia merasa begitu buruk karena tidak bisa membuat sahabatnya bahagia. padahal selama ini Yoo joon selalu membuatnya bahagia terlebih ketika dirinya sedang tidak baik-baik saja dengan Saga.
__ADS_1
"Sayang.. " suara Saga membuyarkan lamunan Lesya.
"Lesya, kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Dita?"
"aku tidak ingin bercerita denganmu Saga! aku masih sangat marah"
Bukannya membuat Saga takut, kemarahan Lesya justru terlihat sangat lucu baginya. bahkan ia mengulas senyum diwajahnya hingga membuat Lesya mwngerutkan dahinya.
"ada apa Saga? apa menurutmu lucu? "
"tidak Lesya"
"lalu kenapa kau menertawakanku? "
"aku tidak menertawakanmu, aku hanya senang istriku merasa cemburu. dan sepertinya aku harus berterima kasih kepada orang yang ingin mengirim surat itu. dengan begitu aku tau kalau istriku benar-benar sangat mencintaiku!"
"kau terlalu percaya diri Saga! "
"aku tidak terlalu percaya diri sayang. apa yang aku katakan ini benar adanya. aku senang kamu merasa marahelihat surat itu, itu artinya kau tidak suka jika aku memiliki hubungan dengan perempuan lain."
Saga lalu meraih tangan Lesya dengan lembut. keduanya menatap satu sama lain dengan lekat.
"Dengar Lesya, akibtidak mungkin mempunyai hubungan dengan perempuan manapun kecuali dirimu. dan aku bersumpah aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita. jika aku sampai berkhianat, aku rela kehilangan nyawaku sekarang-"
"sssttt" Lesya menutup mulut Saga dengan telapak tangannya.
"aku tidak suka kamu berbicara seperti itu Saga"
Mendapati sikap cemas dari Lesya membuat Saga tersenyum. ia tau jika Lesya masih sangat memperdulikannya.
.
.
. bersambung
__ADS_1