
Dikta menatap langit-langit kamarnya, ia masih berpikir tentang siapa orang yang mengawasinua saat bersama dengan Dita.
brak
suara pintu yang membentur dinding kamarnya membuyarkan lamunannya tentang orang yang ia duga mata-mata. Dikta terperanjat saat Alden sudah berdiri diambang pintu kamarnya.
"ngagetin gua aja lu Al! ada apa?"
Alden lalu menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur. ia membuang nafas kasar, kemudian memposisikan dirinya dengan menggunakan perut Dikta untuk ia jadikan alas kepalanya.
"minggir gak lu Al? atau mau gua-"
Dikta menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Alden bangkit dari pisisnya dan menatap dalam Dikta. tak lama kemudian, Alden justru memeluk Dikta.
"lepas gak Al? kalo enggak lo bakal gu-"
lagi-lagi Dikta menghentikan ucapannya karena reaksi dari Alden yang tidak biasa. saat itu Alden tiba-tiba menatap Alden dengan sorot mata yang sendu. "kenapa si Ta, nasib gua gini amat? kenapa setelah gua bener-bener cinta sama cewe, cewe itu bahkam gak ada rasa sedikitpun sama gua? kenapa doa justru milih cowok yang dulu musuhan sama dia!"
Dokta mengangkat sebelah alisnya "malsud lu mba Lesya?"
"iyalah siapa lagi? harusnya gua waktu itu deketin Lesya terus waktu Saga lupa ingatan! dengan begitu gua yakin Lesya bakalan luluh sama gua!"
"inget Alden, mba Lesya itu emang punya Saga. dan mungkin ini jadi pelajaran buat lu karna lu sering bikim hati cewe-cewe sakit, seperti apa yang lu rasain sekarang!"
seketika Alden menatap tajam Dikta yang kini dudukndi hadapannya. "lu tega banget si Ta sama sahabat lu sendiri ngomong kaya gitu?"
"yah gua emang ngomong apa adanya kali Al. lu pikir cewe-cewe itu gak ngerasain sakit apa tiba-tiba lu gandeng cewek lain, padahal kaliam masih berhubungan!"
"huh, bodo lah! gua pusing, intinya gua lagi patah hati!" Alden berbaring dengan tangannya yang ia gunakan untuk alas kepala dan matanya yang mulai terpejam.
"dari pada lu galau kayak gini, mending lu bantuin gua buat selidikin Dylan. apa iya dia orang baik?"seketika Alden yang mendemgar nama Dylan, ia membuka lebar kedua matanya.
"emang kenapa si Ta pakek nyelidikin dia?" namun dalam sesaat Alden tersenyum penuh arti "ah iya gua tau, lu pasti cemburu karna dia deket sama Friska kan? ngaku aja kalo lu emang masih ada rasa sama tu cewe!" sambung Alden.
"bukannya gitu Al, gua cuman kasihan sama Friska kalo sampek dia cuman di permainin sama sepuounya mba Lesya." Dikta terdiam sesaat kemudian membulatkan kedua manatanya menatap Alden.
"eh lu kenapa Ta, jangan bilang lu kesurupan?" Alden menepuk-nepuk wajah Dikta, dan Dikta lun segera menghempaskan telapak tangan Alden dari wajahnya.
"gua gak kesurupan tau Al, gua cuman baru sadar sekarang! gua yakin Dylan yang udah bikin Friska hamil!"
melihat raut wajah Alden yang tiba-tiba berubah, membuat Dikta menatap Alden penuh selidik. dan saat itu juga Alden merasa di perhatikan oleh Dikta membuat Alden sedikit gugup.
__ADS_1
"atau jangan-jangan lu tau soal ini Al?" Alden teridiam dengan metap dalam Dikta.
sementara itu, saat ini Lesya terlihat begitu kesal. dan hal itu membuat Saga yang tengah menyiapkan makan malam menjadi sesikut bingung.
"kamu kenapa sayang? kenapa pulang-pulang wajah udah ditekuk kaya gitu!"
"dengar Saga, tadi waktu aku pulang wawancara kerja, aku ketemu sama orang yang super-super nyebelin!"Lesya mendengus kesal.
"nyebelin kenapa sayang?" Saga mendudukkan Lesya di kursi dan menuangkan segelas air putih untuk Lesya.
dengan segera Lesya menenggak habis minuman itu. dan saat pandangan Lesya ke arah meja yang ada dihadapannya, Lesya membuka matanya lebar.
"Saga.."
"ya..."
"ini kamu yang nyiapin?"
Lesya terhenyak ketika menyaksikan meja makannya begitu banyak di penuhi oleh makanan.
"yup, aku sengaja siapin ini untuk kita! aku tau hari ini kamu pasti dapat pekerjaan, begitupun denganku!"
"jadi kamu juga dapet kerjaan Saga?"
"iya Lesya, ya.. walaupun aku cuman kerja jadi barista di sebuah coffie shop. tapi aku janji, aku akan bikin kamu bahagia."
Lesya merasa terharu saat suaminya mengatakan hal yang serius. karena bjsa kita tahu bahwa selama ini Saga tidak sering bersikap serius, dan hanya saat-saat tertentu ia bisa bersikap dewasa seperti saat ini.
"aku gak pernah masalahin apapun pekerjaan kamu Saga, asalkan pekerjaan kamu tidak merugikan atau melanggar apapun itu. dan yang paling penting itu kamu mau berusaha dan serius jalaninnya" Lesya menangkup wajah suaminua yang saat ini begitu dekat dengannya.
Saga kemudian bangkit dan menarik isyrinya kedalam pelukannya. namu saat itu, Lesya segera mendongak dan menatap Saga penuh selidik. "ada apa lagi?" ucap Saga.
"pekerjaanmu mengganggu sekolahmu atau tidak Saga? aku gak mau kalo sampek gara-gara itu pelajaran kamu terganggu."
Saga menatap teduh Lesya, ia menyibak helai rambut yang ada di wajah Lesya."kamu emang beda dari banyaknya perempuan yang pernah aku kenal. padahal kebanyakan perempuan akan mengutamakan pekerjaan apa yang dimiliki pasangannya. tapi ini, kamu justru mengutamakan sekolahku sayang!" ucap panjang lebar Saga sehingga membuat Lesya tersenyum.
"ya udah-udah, sekarang aku laper. kamu gak mau ngajakin aku makan ni?"
"dengan senang hati sayang.."
tetapi bukannya Saga duduk, justru ia menyalakan musik didalam ponselnya. dan saat itu tangannya terulur untuk mengajak Lesya berdansa.
__ADS_1
"Saga.. aku gak bisa.."
dengan Segera Saga meletakkan kedua tangan Lesya di atas pundaknya dan setelah itu, Saga meletakkan tangannya di pinggang Lesya.
alunan musik membuat pasangan itu semakin terhanyut kedalamnya. Lesya yang sudah merasa nyaman pun menyandarkan kepalanya didada bidang Saga dengan memejamkan matanya.
brakk...
tanpa Saga dan Lesya duga. saat mereka tengah berdansa, pintu rumah mereka di buka dengan kasar oleh beberapa orang. seketika Saga dan Lesya menoleh ke arah pintu.
"kalian siapa? kenapa kalian masuk tanpa izin ke rumah kami!"tanya Saga.
"halah kalian ini sewa rumah ini karena kalian mau berbuat mesum kan?" ucap salah satu orang.
"pak kami bukan pasangan sepeegi itu, kami sudah resmi menikah!" jelas Lesya.
"kalian pasti bohong! coba bapak-bapak dan ibu-ibu lihat. yang laki masih pakek seragam SMA, mana mungkin mereka sudah menikah.."
"iya betul, dasar pasangan mesum!"
"kita beri pelajaran aja mereka"
"tunggu! kami beneran udah nikah kok" Saga kini menggenggam tangan Lesya erat.
"mana buktinya, mana buku nikah kalian?"
"aduh, buku nikah ada di rumah mami!" bisik Saga. dan seketika Lesya menjadi sesimut takut melihat orang-orang yang begitu ingin menyerang mereka.
"tu kan bapak-bapak ibu-ibu, mereka diem aja. itu artinya mereka bohong kan!"
"udah kasih pelajaran aja mereka." dan saat itu warga beramai-ramai memukuli Saga dan Beberapa kali mengenai Lesya.
"aku gak bisa biarin ini, lagian kenapa si warga pakek mukulin mereka. harusnya mereka cukuo usir Saga sama Lesya. terpaksa kali ini aku sendiri yang harus menghentikan ini!" ucap seseorang dari luar rumah.
.
.
.bersambung
.
__ADS_1