It'S Perfect

It'S Perfect
Matre


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam,sebuah ketukan membuat Lesya membuka matanya berat. ia perlahan bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"mama.."


"nak Saga, masuklah.." Nyonya Guntara menyuruh Saga untuk masuk kedalam kamar milik Lesya. "mama tinggal ke kamar ya."


ketika Saga sudah memasuki ruangan Lesya, Saga duduk di sebuah Sofa. pandangannya tak lekat dari pergerakan Lesya. ia menatap kesana kemari kemanapun Lesya melangkahkan kakinya, hingga terhenti saat Lesya duduk di tepian ranjangnya.


Saga mulai berjalan ke arah Lesya yang hanya terdiam dengan barbagai macam pikiran yang kurang baik. Lesya menarik nafasnya pelan ketika Saga duduk tepat di hadapannya.


"Sayang aku minta maaf! aku tau aku sudah kasar. aku sudah membuat kamu seperti ini" telapak tangan mendarat lembut dan mngusap mata Lesya yang bengkak akibat menangis.


namun seakan kembali dengan kesadarannya, Lesya menjauhkan wajahnya dari tangan Saga.


"jangan bersikap seperti lelaki baik-baik Saga!"seketika Saga menautkan kedua alisnya, bertanya-tanya akan sikap Lesya.


"apa maksudmu Lesya? aku gak ngerti apa yang kamu maksud.!"


"sudahlah aku tidak ingin berdebat.!"Lesya lalu hendak berdiri, namun Saga mencekal pergelangan tangan Lesya dengan erat namun tidak menyakitkan.


"apa ini semua karena masalah Liyora?" Saga menatap lekat manik mata Lesya.


Dan dengan segera Lesya mengibaskan Tangan Saga. namun karena tenaganya yang masih belum memadai Saga, Lesya tidak berhasil melepas tangan Saga.


"lepas aku bilang Saga!" Lesya memekik seraya kembali mengibaskan tangan Saga. namun lagi-lagi usahanya hanyalah sia-sia belaka.


"jangan kaya gini dong Lesya. gak ebak kan kalo mama denger?" sahut Saga


"tidak perlu menceramahiku Saga! selama ini aku sudah sabar menghadapi anak kecil seperti kamu. tapi kesabaranku selama ini ternyata kamu salah artikan!" ucap Lesya sembari menyeka air matanya yang lolos dari pelupuk matanya yang sedari tadi sudah ia tahan.


"aku tau umur kuta beda empat tahun Lesya, tapi aku sadar rasa sayang itu gak mamdang umur. dan kamu bujtiin itu karna kamu berhasil bikin aku jatuh cinta sama kamu Lesya. tapi kenapa kamu mengungkitnya lagi, selama dua bulan terakhir bahkan kita baik-baik aja dan gak pernah bahas soal itu kan Lesya?" begitu menggebu-gebu Saga ingin menunjukka rasa sayangnya terhadap Lesya.


"kamu benar, dua bulan terakhir kita baik aja-aja. tapi itu sebelum aku tau kamu akam jadi ayah dari anak wanita lain Saga!" Lesya memalingkan wajahnya seakan tidak mau Saga melihat airmatanya tumpah.


"tapi bukan aku ayahnya Lesya, bahkan aku ingat kalau malam itu aku tidak meminum alkohol. tapi entah kenapa alunbisa tidak sadar Lesya. tapi alu bersumpah, aku tidak melakukan apapun dengan Liyora." Saga kekeh membela diri agar Lesya percaya dengan apa yang ia katakan.


"tidak usah berkelit Saga! aku bahkan mendengar semua yang kamu katakan dengan Liyora saat kamu keluar dari kamar hotel! dan sekarang lebih baik kamu keluat daei kamar ini, karna aku tidak ingin sekamar dengan calon ayah dari wanita lain!" Lesya begitu emosional seraya mendorong Saga hingga keluar.


brakk


begitu keras Lesya menutup pintu hingga Nyonya Guntara keluar dari kamarnya dan menghampiri Saga yang masih mematung di depan kamar Lesya dengan tubuh yang tak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


"nak Saga, mari mama antar ke kamar lain. sepertinya Lesya masih butuh waktu sendiri" Saga masih enggan meninggalakan kamar Lesya, namun akhirnya ia mengikuti untuk pwegi kekamar lain.


dikamar itu nyonya Guntara mendudukkan Saga di sebuah sofa yang ada di kamar tersebut.


"sebenarnya apa masalah kalian, kenaoa Lesya bisa semarah ini Saga?" nyonya Guntara menatap nanar netra menantunya yang sendu.


Saga perlahan membalas tatapan dari ibu mertuanya, ia menghela nafas pelan.


💜💜


"lu tau siapa ayah dari anak Liyora Al?" Dikta menatap Alden yang tengah menikmati minuman dibawah naungan langit yang dipenuhi bintang.


Alden melirik sekilas kearah Dikta dan kembalin memandang langit yang bahkan memanjakan matanya. sesuai dengan isi hatimya yang cukup baik malam ini.


"mana gua tau Ta, lu pikir gua paranormal!" sahut Alden yang seperti terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dikta.


"kali aja lu tau, temen lu kan banyak dan kebanyak brengs*k semua. dengan itu kan kita bisa bantu perbaiki hubungan mereka!" tambah Dikta.


"taek lu Ta, lu pikir gua apaan. ya temen gua kan lu sama Saga, emang lu breng*ek apa?"


"ya gaklah. lu tau gua kan Al!"


"nah itu lu sadar. tapi lu tu kenapa munafik si Ta?"


"ya kenapa si lu munafik, pakek mau nyatuin Saga sama Lesya! gua tau lu juga naruh hati sama Lesya kan!"


"apaan si lu Alden. gua biasa aja sama mba Lesya. kalo lu mah emang gampang suka sama siapa aja, tapi jangan lu samain diri lu sama gua, jelas beda!"


"yakin lu gak suka?" Alden menatap Dimta penuh selidik.


"ah udahlah gua mau kedalem disini udaranya makin dingin" Dikta segera melesat kedalam kamarnya meninggalkan Alden sendiri dipinggiran kolam.


"awas aja ya lu Ta! kalo sampe Lesya sama Saga cerai, jangan sampek lu deketin dia, dia calon istri gua titik." Alden sedikit meneriaki Dikta yang entah keberadaanya dimana.


setelah kepergian Dikta, Alden kembali menikmati langit ynag indah. namun fikirannya kembali yerpagut dengan Liyora. "sebenernya siapa bapak dari bayi tu anak? untung aja waktu itu cewe yang gak sengaja gua tid*rin bukan dia. kalo dia mah bisa repot."


Flashback on_


Alden membalikkan perempuan yang masih terbalut selimut agar menghadap ke arahnya. sonta matanya membulat denga apa yang ia saksikan.


"astaga..apa yang gua lakuin."

__ADS_1


saat Alden masih menatap perempuan yang ada dihadapannya, perempuan itu tiba-tiba membuka matanya.


perempuan tersebut memandangi Alden dan sesekali melihat dirinya sendiei yang hanya terbalut selimut tanpa pakaian.


*bug


bug


bug*


Perempuan tersebut menghujani Alden dengan pukulan dari guling yang ada ditangannya.


"Alden, lo gak bisa giniin gue! gue minta ganti rugi!"


"oke oke gua bakal bayar lo, tapi lo harus jaga rahasia ini. jangan smpek siapapun tau, dan gua gak kai kalo sampek lo hamil!"


"itu bisa diatur, asalkan..." perempuan tersebut menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya seraya mengukir senyum di wajah nakalnya.


"berapa yang lu mau?"


"seratus juta!"


ting


ponsel gadis terseebut berdenting dan perempuan itu melihat tulisan yang tertera di notifikasi ponselnya senilai 200 juta.


"awas, jangan sampek lu hamil dan minta pertanggung jawaban gua!"


"itu gampang, gue bisa minta tanggung jawab sama cowo lain."


Flashback off_


"dasar Friska, pantes aja Dikta mutusin lu.. udah matre gampangan lagi!" Alden menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"terus siapa ayah dari anak Liyora? penasaran gua! kalo sampek bener-bener Saga pelakunya, itu bakalan bagus buat gua dapetin Lesya!" Alden tersenyum smirk dan kembali menenggak minumannya lagi.


.


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2