
"maaf pak Saga nya mana ya?" tanya Alden.
"oh Saga, baru saja dia pulang."
"oh ya udah terimakasih atas waktunya"
Alden kembali menemui Dikta dan juga Friska yang saat itu menunggunya di atas motor. lagi-lagi Alden dibuat kesal karena Friska yang terus berpegangan di oinggang Dikta.
"ya udah gua mau ke rumah Saga, kalian silahkan menikmati keromantisan kalian!" ketus Alden dan melajukan motornya dalam keceoatan tinggi.
brak
namun belum sempat Dikta memutar motornya, ia mendengar sebuah suara benturan yang cukup keras. dan saat itu Dikta langsung memutar motornya dan memeriksa bunyi ala yang terdengar barusan.
"kayaknya itu tadi suara tabrakan deh" ujar Friska.
dan ketika ia keluar dari area Coffe shop, Dikta melihat motor milik Alden hancur. seketika ia menjadi sangat cemas, Dikta menghentikan laju kendaraannya dan memeriksa keadaan Alden yang terlempar cukup jauh dari motor ynag ia naiki.
Dikta segera membuka helm yang dikenakan oleh Alden. ketika itu Alden mengalami luka yang cukup parah sehingga tidak sadarkan diri. Saat itu Dikta menghubungi ambulance untuk membawa Alden ke rumah sakit.
setelah beberapa saat Dikta membawa Alden kesebuah ruangan untuk ditangani oleh dokter.
cukup lama ia menunggu diluar dengan ditemani oleh Friska.
"Friska, lebih baik lo pulang sekarang mumpung masih jam segini. kelihatannya lo capek dan syok"
"tapi gimana sama lo Ta?"
"gua gak pa-pa, gua mau tungguin Alden sampek dokter selesai nanganin dia. gua juga mau hubungin orangtuanya."
"emm ya udah, gue balik ya Ta. lo jaga diri"
setelah kepergian Friska, dokter keluar dari ruangan Alden. saat itu dokter menyampaikan tentang keadaan Alden yang harus mengalami patah kaki.
saat ini Dikta terduduk disamping ranjang Alden, hingga pukul sepuluh keluarga Alden belum kunjung datang karena terjebak macet. tanpa Dikta sadari ia tertidur dengan kepala yang bersandar pada ranjang Alden.
"emmhhh.." Alden yang baru sadar, ia melihat Dikta yang tengah tertidur.
"Dikta.. bangun Ta.." ujar Alden sembari menyentuh rambut Dikta. dengan mata yang meyipit Dikta menatap Alden yang kini menatapnya.
"udah siuman lu Al"
"gua aus Ta"
__ADS_1
"oke bentar"
Dikta kemudian menuang satu gelas air untuk Alden. Alden yang sangat kehausan pun segera menghabiskan air dari Dikta.
"argghh.." Alden meringis kesakitan.
"kaki gua kenapa Ta, kenapa sakit banget waktu gua mau gerak"
"lu patah kaki Al, dan lu harus di kursi roda sampe beberapa bulan supaya kaki lu bener-bener pulih"
"terus pertandingan gimana Ta? satu bulan lagi ada turnamen basket di sekolah kita."
"udah, lu gak usah mikirin itu. lercsya aja sama gua dan Saga, kita oasti bisa menang!dan lu bisa suport kita dari pinggir lapangan, kehadiran lu udah cukup buat bikin tim kita semangat Al" Dikta berusaha membesarkan hati Alden agar ia tidak merasa cemas untuk pertandingan yang akan datang.
"oh ya Ta, lu udah ngubungin Saga belum?"
"argh gua lupa Al, lagian lu abis kecelakaan masih aja ngurusin itu."
"haruslah Dikta, ini menyangkut mba Lesya. kalo sampek ada hubungan antara Saga sama selebgram itu, pasti mba Lesya bakal ancur banget Ta."
"iya lu bener Al, tapi ini udah jam segini. gak pantes buat kita nanyain itu sekarang!" sahut Dikta. "udah lu istirahat, bentar lagi pasti nyokap bokap lu dateng"tambah Dikta.
kllek
"nah itu mereka dateng"
"iya Dikta, apa yang sebenarnya terjadi" ayah Alden menimpali ucapan istrinya.
"gini tante, tadi itu sebenernya Alden barengan sama Dikta. tapi Alden pergi lebih dulu, baru juga Alden keluar Coffee shop, aku tiba-tiba denger suara tabrakan yang cukup kenceng. dan ternyata itu Alden tante" tutur Dikta menjelaskan apa yang ia ketahui.
"sebenernya kamu mikirin apa si sayang.. kenapa bisa kamu sampai kecelakaan kaya gini?"
"gak mikir apa-apa kok ma, cuman lagi apes aja tadi!"
tring
ponsel ayah Alden berdering. saat itu ayah Alden segera mengangkat telfonnya. setelah beberapa saat berbucara diluar ruangan, ayah Alden terlihat gusar.
"ada apa om, kelihatannya om sedang cemas?" ucap Dikta.
"begini, baru saja kakaknya Alden mengabari kalo nenek Alden terkena serangan jantung. dan sepertinya om dan tante harus kesana Dikta, apa kamu bisa tolong jagain Alden?"
"momy terkena serangan jantung? tapi kalo kita kesana, Alden gimana dong pa? nak Dikta gak mungkin bisa nyurus Alden!"
__ADS_1
"bisa kok tan, om sama tante bisa percaya sama Dikta"
"tu kan ma, ya udah Alden papa sama mamamu harus berangkat sekarang, dan kamu lekas sembuh. kalo kamu butuh sesuatu kamu bisa minta tolong sama Dikta ya"
"iya pa, dan semoga nenek juga lekas sembuh! nanti kalo nenek udah membaik sampein salam dsei Alden."
"sebenernya mama gak tega tinggalin kamu sayang, tapi nenek kamu juga memerlukan mama. ka.u jaga diri baik-baik ya sayang"
orang tua Alden pun segera bergegas untuk pergi kerumah nenek Alden yang berada diluar kota. saar itu hanya Dikta yang menemani Alden dirumah sakit.
"Friska mana Ta? kok dari tadi gua gak lihat dia!"
"Friska udah gua suruh pulang, soalnya dia kelihatannya capek banget tadi. terus ini kan udah malem juga"
Alden tidak banyak biacara, ia hanya megangguki ucapan Dikta. "emm Dikta bantuin gua dong"
"lu haus? atau lu laper?"
"enggak, gua mau ke toilet!"
"bentar-bentar biar gua ambil kursi roda buat lu"
setelah Dikta membawakan kursi roda untuk Alden, Alden beeusaha untuk turun dari tempat tidur. namun karena ia mengalami oatah kaki, ia justru merasa kesakitan. dan hal itu membuat Dikta cemas.
"biar gua bantu Alden, lu itu bukan cuman keseleo, tapi kaki lu itu patah!" tanpa menunggu persetujuan dari Alden, Dikta mengangkat tubuh Alden dan ia dudukan dikursi roda yang sudah ia siapkan.
"Sorry Ta, gua udah ngerepotin lu!" ucao Alden sembari menatap Dikta yang tengah menaruh kaki Alden diatas pijakan kursi rodanya. seketika mendengar hal itu, Dikta menatap lekat manik mata Alden yang hanya berjarak beberapa senti saja.
"perlu banget lu ngomong itu Al? huh.." Dikta terkekeh.
"udah ayo, nanti kalo lu ngompol gua juga yang repot!"
Dikta segera mendorong Alden hingga kedalam kamar mandi. setelah Alden selesai, kini Dikta kembali mengangkat tubuh Alden keatas ranjang rumah sakit.
"oh iya Al, gua keluar bentar gua mau cari minum!"
"oh oke" sahut Alden.
ketika Dikta menyusiri koridor rumah sakit, ia tidak sengaja melihat seseorang yang ia kenal berada didalam ruang rawat yang ia lewati.
"bukannya itu mba Lesya? dia kenapa lagi, dan pria itu? dia bukan Saga!" Dikta mengerutkan dahinya semvari mengingat sosok pria yang tengah menemani Lesya didalam ruangan. "ah ya gua inget, dia itu Arga Lesmana. pengusaha yang tengah hangat diperbincangkan karena prestasinya yang sangat bagus di kancah dunia bisnis!"
.
__ADS_1
.
.bersambung