
Di sepanjang jalan, Lesya hanya menatap kosong keluar jendela. Dylan yang mengetahui perasaan Lesya, ia berusaha untuk memberi ruang untuk menenangkan diri kepada Lesya dengan tidak banyak berbicara. sementara itu Alden terus mengikuti Lesya dari belakang dengan menggunakan motornya.
setelah sampai di rumah, Lesya mencari keberadaan orang tuanya. pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, namun ia tidak mebemukan keberadaan orang tuanya.
"bi, dimana tante sama om Guntara?" Dylan lebih dulu menanyakan keberadaan orang tua Lesya kepada art di rumah Lesya.
"tuan dan Nyonya sedang menghadiri pertemuan sama rekan bisnisnya den Dylan. dan non Lesya, kenapa sepertinya menangis den?"
"panjang ceritanya bi. ya udah, aku harus nyusulin Lesya dulu ya bi, permisi." Dylan memasuki kamar Lesya . saat itu ia mendapati Lesya yang tengah terduduk di pojok kamarnya dengan air mata yang mengalir deras. Lesya memeluk lutut kakinya dengan erat.
perlahan Dylan mensejajarkan posisinya dengan Lesya, ia memegang kedua pundak Lesya. saat itu Lesya menatap Dylan dihadapannya dengan matanya yang sembab.
"astaga.." Dylan tiba-tiba terjingkat dan membuat Lesya sedikit terkejut.
"ada apa Dylan?" dengan suara yang bergetar Lesya menatap heran Dylan yang seperti ketakutan.
"siapa ini aku tidak mengenalnya. setauku Lele itu sangat kuat dan tidak pernah cengeng seperti ini. kau siapa kau sangat jelek, matamu bengkak." Dylan bergidik ngeri. Dylan mengangkat kedua alisnya sekilas,"dimana kau sembunyikan Leleku yang sangat kuat itu ayo katakan!"
Dylan menarik pipi kanan dan kiri Lesya dengan lembut. "Dylan.. jangan bercanda. aku ini Lesya bukan lele. aku sudah bilang jangan panggil aku lele!" Lesya mencubit pinggang Dylan dengan sekuat tenaga hingga Dylan terjingkat.
"Aaa.. ampun lele, ampun.."
melihat Dylan yang kesakitan,Lesya pun terkekeh dengan air mata yang membasahi pipinya. seketika Dylan menghapus air mata yang ada di wajah Lesya dengan lembut.
"oke leleku, aku gak mau lihat kamu kaya gini. kamu harus bangkit. jika Saga takdirmu, dia akan kembali. bahkan dia yang akan mengejarmu. jangan rendahkan dirimu dengan menerima penghinaan seperti ini!"
"aku sudah tidak memikirkan itu Dylan. yang aku sayangkan, kenapa mami tidak mempercayaiku? padahal selama ini mami yang selalu mendukungku untuk bertahan dan selalu menguatkan aku Dylan. jujur, itu yang membuat aku sangat kecewa!"
Dylan menarik Lesya kedalam dekapannya. ia merasa sangat simpatik dengan apa yang dialami oleh sepupunya.
sementara itu disisi lain, Yoo joon yang baru kembali dari kantor, merasa bingung dengan keadaan di kediaman Darmawan. ia bingung melihat ada seeorang perempuan asing yang berada di ruang tamu bersama semua keluarga Darmawan, kecuali tuan Darmawan yang sedang berada di luar kota karena pekerjaan.
"permisi, ada apa ini? kenapa kalian terlihat tidak baik-baik saja?" tanya Yoo joon dengan jas yang ada di lengannya.
"kamu mau tau kenapa mami sedih?" sahut Ella yang saat ini berdiri dihadapan Yoo joon.
"asal kamu tau, Lesya udah nyelakain Liyora karena dia cemburu Saga lebih milih pacarnya dari pada dia!"
"gak mungkin!" potong Yoo joon dan menatap tegas Ella. "aku mengenal Lesya dari kecil. dia melihat kucing kesakitan saja tidak tega, apalagi mau mencelakai orang lain? itu sangat mustahil!" sambungnya lagi.
"apapun tidak ada yang mustahil untuk cinta, dan hal itulah motif Lesya mencelakai Liyora" balas Ella dengan tatapan nyalang dan setalah itu melirik ke arah Saka suaminya.
...'aku tidak mungkin membela Lesya saat ini. dan Ella, Ella benar-benar kurang ajar. beraninya dia menatapku seperti itu.'...
"apa yamg di ucapkan istriku memang benar. mungkin saja Lesya tidak tahan melihat Saga yang lebih memilih wanita lain dari pada memilih istrinya sendiri. dan hal itu yang menyebabkan Lesya melakukan itu!"
"huh, itu berarti kalian tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Lesya! kalaupun Lesya melakukan itu, aku rasa perempuan ini pa tas mendapatkannya!" sarkas Yoo joon.
__ADS_1
"lo jangan kurang ajar. bisa-bisanya lo membenarkan perbuatan anarkis yang dilakukan oleh Lesya." Saga menatap tajam Yoo joon dengan mata elangnya.
"tolong jangan berdebat lagi, kejadian tadi sudah membuatku tidak habis pikir. tolong berikan aku ruang untuk menenangkan diri." sambung nyonya Darmawan.
"ku kira selama ini ibu mertua yang terbaik untul Lesya adalah tante, tapi ternyata aku salah!" Yoo joon menarik sebelah sudut bibirnya "baik, aku akan memberi ruang untuk kalian semua berpikir jernih, jadi aku permisi. dan aku terima kasih banyak karna kalian memberiku tempat tinggal selama ini."
Yoo joon pergi kedalam kamarnya, sesaat setelah itu ia bergegas keluar dengan semua barangnya.
"Yoo joon kamu mau kemana?" tanya nyonya Darmawan.
"aku mau tinggal disini karna aku ingin menjaga sahabat kecilku, tapi ternyata aku gagal, dan justru sekarang saat ini ia sedang terluka. dan aku tidak tau saat ini Lesya bersama siapa, karna setauku bibi dan paman sedang diluar untuk perjamuan. jadi aku harus segera menemani sahabat kecilku agar ia tidak melakukan kebodohan hanya untuk laki-laki yang ternyata tidak pantas untuk Lesya perjuangkan!"
setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, Yoo joon melenggang pergi meninggalkan kediaman Darmawan.
'apa, jadi sekarang mba Lesya cuman berduaan sama laki-laki itu?'
Saga pun bergegas untuk pergi ke kediaman Guntara, namun saat itu Liyora menghentikannya.
"Saga, kamu mau kemana?"
"iya sayang kamu mau kemana?" sambung nyonya Darmawan.
seketika Saga menoleh ke arah ibu dan kekasihnya yang ada disebelah kirinya."aku mau ke rumah mba Lesya mi. aku gak mau dia cuman berdua sama laki-laki yang bernama Dylan."
Saga menatap jau ke arah pintu rumahnya dengan ambisius."walaupun tu cowok sepupunya, tapi aku yakin ada sesuatu. dan aku gak mau martabat keluarga kita tercoreng jika salah satu kolega perusahaan kita mengetahui hal ini. jadi Saga mau kesana!"
"lebih baik aku antar kamu pulang Yora. kamu harus istirahat!"
"tapi-"
"gak ada penolakan!"
"benar kata Saga Liyora, lebih baik kamu pulang sekarang!" sahut Saka. "lagian, bukannya kamu masih sakit, gara-gara kejadian tadi kan?" sambungnya lagi.
'reseh banget si ni orang, gue jadi gak bisa pantau Saga kan nanti!'
"jadi sekarang aku akan antar kamu!"
tanpa ada bantahan, kini Saga mengantar Liyora kembali kerumahnya. setelah itu, Saga memutuska. untuk langsung menemui Lesya.
Saga terus menarik Gas dengan kecepatan tinggi. "gue gak bisa biarin Lesya sama cowok itu. rasanya dada gue seaek banget lihat dia digendong sama Dylan." Saga menambah kecepatan motor yang ia naiki, namun saat sampai di pertigaan, mendadak anak kucing menyeberang dan.
braaakkk..
Saga terguling, kepalanya membentur aspal dan membuat dirinya tidak sadarkan diri.
_
__ADS_1
"arrgghh.. kepala gua sakit, gua dimana?" Saga memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. ia melihat langit-langit kamar yang berwarna putih.ia mengedarkan pandangan matanya, namun ia tidak mendapati siapapun kecuali seseorang yang berseragam suster.
"suster, istri saya mana?"
"anda sudah sadar tuan, saya akan memberitahukannya kepada keluarga anda."
sesaat setelah suster memberitahu keluarga Saga, kini Ibu dan kakaknya pun masuk ke ruangannya. dan saat itu, kebetulan tuan Darmawan pun sudah berada di tempat itu.
"mi,Lesya mana mi?"
"Lesya? Saga, apa kamu ingat siapa Lesya? kenaoa kamu manggil dia Lesya, kenapa kamu gak oanggil dia mba Lesya?" tanya nyonya Darmawan
"mami, mami tau kan Saga manggil mba Lesya itu sebelum Saga bener-bener jatuh cinta sama dia. tapi kami udah mutusin buat hidup baru kami kan mi? mami mulai aneh ni.!"
"jadi kamu udah sembuh sayang, kami udah gak amnesia!"
"amnesia?"
"iya sayang, sebelumnya kamu amnesia dan lupa sama istri kamu"
"terus sekarang mana istri Saga mi?"
"iya mi, dimana Lesya? dari tadi papi gak lihat ada Lesya?"
"Lesya udah pergi dari rumah karna Saga tadi lebih belain Liyora pi. karna tadi Lesya udah berusaha nyelakain Liyora!" ucap Saka.
"apa? kenapa ada Liyora kak?"
"karna selama kamu amnesia, kamu pacaran sama Liyora!"
Saga tertegun dengan kenyataan yang Sama ceritakan. dadanya terasa sesak, 'Lesya pasti kecewa banget, lebih baik gua sekarang temuin dia dan ngasih tau kalo gua udah inget semuanya.'
"jadi kalian membiarkan Lesya pergi?" tanya tuan Darmawan.
"iya pi, karena mami kecewa dengan sikap anarkisnya Lesya pi!"
"aku harus ke rumah Lesya dan bawa dia balik ke rumah. aku gak mau kehilangan Lesya"
"biar papi yang temani kamu Saga!"
.
.
.bersambung
.
__ADS_1
.