
"Sepertinya sebentar lagi aku akan semakin kaya, karena Lesya pasti akan menyuruhku untuk menangani bisnis Saga. dengan begitu perlahan aku akan membuat semua coffeeshop itu menjadi milikku"
Saka tersenyum licik dan kini ia memutuskan untuk kembali.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Saka sampai di rumah Saga dan Lesya. saat itu matanya menangkap seorang perempuan yang tengah termenung di pinggiran kolam.
"kalian para wanita memang naif. seseorang seperti Saga tidak pantas untuk kalian tangisi!" ucap Saka dan kini berjalan menuju ke arah Liyora yang bediri di pinggiran kolam renang dengan pandangan mata yang kosong.
"anak itu benar-benar melamun, berjalan ditepian kolam seperti itu pasti akan jatuh"
byur
Baru saja Saka berhenti dengan ucapannya, Liyora benar-benar terjatuh ke dalam kolam renang. karena kakinya yang mengalami kram, Liyora tidak bisa muncul ke permukaan.
"kenapa Liyora tidak muncul kepermukaan? apa dia tenggelam? "
Saka sudah tidak memikirkan yang lainnya, ia langsung terjun ke dalam air. dan ternyata saat itu Liyora muncul dengan gelak tawa yang membuat Saka segera menepi.
"Liyora, kamu pura-pura tenggelam? "
bukannya menjawab Liyora terus tertawa hingga membuat Saka semakin kesal dan segera pergi dari area kolam dalam keadaan basah. dan yang pasti Saka merasa sangat kesal dengan kejahilan yang dilakukan oleh Liyora.
"kak Saka, aku gak pura-pura. tadi emang aku tenggelam karna aku kram, tapi kaki aku sembuh sebelum kak Saka tolongin aku tadi" Liyora berteriak, namun Saka sudah tidak bisa mendengar suara Liyora.
_
Ceklek
Pintu kamar terbuka, seorang pegawai hotel meletakkan bingkisan berisi pakaian milik Alden. setelah mengetahui kamarnya yang kosong, pegawai hotel pun segera meninggalkan kamar tersebut.
"fuh" Alden bernafas lega setelah lama bersembunyi di balik pintu dengan tangan Dikta yang menutup mulutnya.
"kamu ini bener-bener ya Dikta, bagaimana tadi kalau pelayan hotel itu melihat kita?"
Dikta masih diam memperhatikan Alden yang terus menggerutu. dan hal itu semakin membuat Dikta gemas dengan tingkah Alden. Alden yang menyadari Adiknya terus memperhatikannya pun segera menghentikan omelannya.
"ada apa?"
Perlahan Dikta berjalan ke arah Alden yang menatapnya penuh tanya. hingga saat itu Alden terus berjalan mundur dan jatuh di atas tempat tidur. namun hal itu tidak menghentikan langkah Dikta hingga Dikta berhasil mengekang Alden di bawahnya.
"Dikta mundur! " ucap Alden sembari menajamkan pandangan matanya.
"aku tidak akan mundur jika kamu tidak mengatakan apa yang kamu dengar saat aku mabuk! "
__ADS_1
"baiklah, terserah kau saja!"
ucapan Alden justru menjadi sebuah tantangan bagi Dikta dan membuat Dikta mendekatkan wajahnya.
Hal itu tidak mempengaruhi Alden sama sekali. Alden memejamkan matanya tanpa melihat Dikta yang sudah semakin dekat.
'aku udah sering seperti ini, tapi kenapa aku masih saja deg-degan kayak gini si? ' batin Alden.
Hembusan nafas terasa hangat menerpa wajah Alden. dan hal itu pun berhasil membuat Alden tidak bisa memejamkan matanya terlalu lama dan kini pandangan mereka berdua saling terpagut.
Ketika mereka saling memandang mendadak sekelebat bayangan ketika dirinya mabuk muncul menguasai bayangannya. dimana saat itu Dikta mengingat bahwa ia mengatakan Nadia aku cinta sama kamu... cuma pura-pura, maafkan aku Nad
Saat itulah Dikta tersenyum lega hingga membuat Alden mengernyit. "apa kamu mulai gila Dikta? kenapa kamu tadi begitu ambisius, dan sekarang justru tersenyum hmm?"
"sekarang aku mengingatnya Alden, saat aku mengatakan hal itu, kamu pergi sebelum aku menyelesaikannya Alden"
"memang apa yang kamu katakan?" tanya Alden menantang.
"kalu aku benar kau harus melakukan sesuatu untukku"
"apa? " tanya Alden. dan seketika Dikta menyentuh bibir Alden dan berpindah menyentuh bibirnya sendiri. sehingga membuat Alden sedikit membulatkan matanya.
"baiklah, cepat katakan apa yang kamu ucapkan saat kamu mabuk! "
"bagaimana, apa aku benar hemm? "
Dengan wajah yang bersemu merah Alden mengangguki ucapan Dikta.
"lalu apa aku tidak mendapat hadiahku karna aku benar? "
Alden semakin mendekat hingga apa yang Dikta mendapatkan apa yang ia minta.
Ceklek
"aduh maaf tuan, aku tidak sengaja menganggu kalian. aku hanya ingin mengambil ini" seorang pelayan hotel yang tadi membawakan pakaian milik Alden kembali untuk mengambil note miliknya yang tertinggal.
dengan perasaan terkejut seorang pelayan tersebut berjalan tergesa karena melihat sesuatu yang tidak biasa baginya.
"heh, lu kenapa si kaya abis liat setan? apa menejer marahin lo? " tanya seseorang yang memiliki pekerjaan yang sama.
"astaga, kalo lo liat pasti lo pingsan"
pelayan tersebut pun membisikkan apa yang ia lihat hingga membuat temannya menjadi sama terkejutnya dengannya. sementara itu teman pelayan tersebut pun juga menceritakan apa yang ia dengar hingga membuat beberapa teman kerjanya pun terkejut.
__ADS_1
"jadi lo yakin kalo penghuni kamar 308 itu gay? "
"ssttt diem ada tamu hotel, jaga bicara lu, nanti kita dintegus kalo ngegosipin tamu hotel"
Lesya yang baru datang bersama dengan Yoo joon pun saling adu pandang. pasalnya mereka ingat jika nomor tersebut adalah nomor kamar hotel tempat Lesya menginap.
"apa yang sedang mereka bicarakan Sya, bukankah itu kamarmu? bagaimana bisa mereka mengatakan jika yang tinggal disana adalah orang yang menyukai sesama jenis? "
Setelah selesai dengan ucapannya, Yoo joon baru sadar jika ada Alden dsn juga Dikta yang masih didalam kamar yang di tempati oleh Lesya. saat itulah Yoo joon menatap Lesya penuh maksud.
'astaga, apa Joonie mencurigai Alden sama Dikta? sshh sebenarnya apa yang mereka lakukan, kenapa mereka bisa mengatakan hal itu? '
"Sya, lebih baik kita segera ke kamarmu. kita tanyakan kebenarannya kepada mereka berdua"
"Joonie, ini bukan saatnya kita nanggepin gosip murahan kayak gitu. saat ini yang terpenting adalah Saga, aku mau kita mencari Saga sekarang juga!"
Selain rasa khawatirnya kepada Saga, Lesya juga ingin Yoo joon tidak mengusut gosip yang memang benar apa adanya. Lesya tau jika apa yang dilakukan oleh Alden dan Dikta tidak bisa dibenarkan, tetapi ia juga perduli dengan perasaan kedua sahabat suaminya yang saat ini juga menjadi sahabatnya itu.
"Lesya, aku tau saat ini kamu mencemaskan keadaan Saga. tapi kamu juga harus perduli sama calon anak kalian yang saat ini butuh istirahat" Yoo joon memegang kedua lengan Lesya dan menatapnya dengan penuh perhatian.
Jika Yoo joon sudah mengingatkan tentang bayinya dan juga memperlihatkan perhatiannya seperti itu, Lesya sudah tidak bisa melawannya dan akhirnya Lesya menuruti perkataan Yoo joon.
Selang beberapa saat Yoo joon dan juga Lesya tengah sampai didalam kamarnya, saat itu Alden dan juga Dikta tidak ada didalam sana.
"dimana Alden sama Dikta Yoo joon? "
"aku juga tidak tau Sya, kita kan bersama-sama sejak tadi kan? "
ceklek
baru saja Lesya adan Yoo joon mencari, Alden dan Dikta pun datang bersama.
"kalian baru darimana?"
"sejak kalian pergi, aku dan Dikta juga ikut pergi untuk mengerjakan apa yang kau perintahkan kak Yoo joon. dan kami menemukan jejak ponsel Saga yang berhenti di dekat jurang ini"
"apa itu artinya Saga jatuh ke jurang? " tanya Yoo joon
"nggak mungkin, Saga nggak mung-"
brugh
.
__ADS_1
. bersambung