It'S Perfect

It'S Perfect
Tidak Tega Sahabatnya Mendapat Kesulitan


__ADS_3

Saga dan Lesya merasa sedikit lega setelah melihat berita dimana disana mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Saga. Mereka berharap tidak banyak orang yang terus menghujat Dikta dan Alden. Bagaimanapun mereka adalah sahabatnya sehingga Saga tidak akan tega jika sahabatnya mendapat kesulitan terus menerus.


"Untuk sementara kita bisa sedikit tenang untuk masalah mereka Saga"


"Iya sayang" Saga mengecup puncak kepala Lesya dengan lembut. Dan perlahan ciuman itu pindah ke hidung Lesya yang mancung. Saga pun berniat untuk semakin turun dan


"Huwa.. Huwa.."


Saga dan Lesya sontak menoleh ke arah Elgara yang terbangun dari tidurnya.


"Astaga anak papa, maaf ya sayang papa pinjem mama bentar tadi"


Saga mencium gemas Elgara dan segera menggendongnya. Sementara Lesya tengah membuatkan susu untuk Elgara.


Saga begitu menyayangi anaknya. Bahkan Saga akan langsung meninggalkan pekerjaannya ketika ia mendengar suara Elgara melalui ponsel ketika menghubungi istrinya ketika ia sedang di Coffee shop miliknya.


Saga sangat mudah rindu dengan anaknya itu. Terlebih saat ini Elgara dalam masa pertumbuhan, sehingga Saga tidak rela jika ia harus melewatkan tiap perkembangan anaknya itu.


"Nah ini susu buat Elgara"


Lesya datang dengan membawakan susu untuk Elgara. Dalam waktu beberapa saat Elgara sudah tertidur didalam gendongan ayahnya.


Saga pun segera menidurkan Elgara di ranjang milik Elgara yang ada disebelah ranjang orangtuanya.


Setelah itu Saga kembali menatap istrinya dengan senyum usilnya.


"Saga jangan mesum"


"Ini wajar sayang, aku kan mandangin istri aku"


Saga pun segera menarik Lesya dan duduk di atas pangkuannya. Namun saat itu tiba-tiba sebuah panggilan masuk kedalam ponsel milik Saga.


"Saga, HP kamu bunyi"


"Itu nanti aja Sayang, aku sedang rindu dengan istriku"


Drrrtt Drrrtt


Lagi-lagi ponsel Saga berdering, dan mau tidak mau Saga segera meraihnya dari atas nakas.


"Dikta" Ucapnya sembari bangkit dan mengangkat sambungan di ponselnya.


"Ia halo Ta ada apa? "


"Alden kritis Ga, cepatlah kemari"


"Oke gua kesana sekarang Ta"

__ADS_1


Melihat suaminya menjadi cemas, Lesya pun ikut cemas. Terlebih Lesya sempat mendengar jika Alden tengah kritis.


Saga meraih kunci mobilnya dan memakai jaketnya. Ia menyuruh Lesya untuk menunggunya dirumah. Ia tidak mau Elgara di tinggal oleh Lesya. Dan mau tidak mau Lesya pun menuruti ucapan dari Saga.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Saga sampai di rumah sakit tempat Alden di rawat. Disnaa Saga melihat Dikta yang menunggu Alden di luar ruangan karena Alden tengah di tangani oleh Dokter.


"Dikta, bagaimana Alden? "


"Masih ditangani sama Dokter Ga"


Saat itu Dokter keluar dari ruangan Alden dengan wajah yang sulit di artikan.


"Saudara Saga ingin pak Dikta masuk"


Saat itu Dikta dan Saga pun masuk menemui Alden yang sudah di pasang banyak kabel di tubuhnya.


"Dikta" Ucap Alden dengan lemah.


"Iya Al ada apa?"


"Aku mau kalian semua tidak bermusuhan, terlebih hubunganmu dengan orang tuaku. Aku ingin kamu menjaga mereka Dikta"


"Ssstt apa yang kamu katakan Al, kita akan menjaga mereka sama-sama"


Setelah mengatakan hal itu, Alden berganti melihat Saga yang berdiri di sebelah Dikta duduk.


"Please Al, hentikan omongan lo yang udah ngelantur. Lo nggak boleh ngomong kayak gitu Al"


"Please Ga, bawa mereka kesini"


Akhirnya Saga menuruti ucapan Alden. Saga segera pergi untuk menemui orang tua Alden. Saga menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit untuk sampai ke rumah Biantara.


Ting tung


Saga berdiri di depan pintu rumah orang tua Alden. Dan setelah menunggu cukup lama dan memencet tombol rumah hingga beberapa kali pintu rumah terbuka dari dalam.


"Kenapa kamu kesini Saga? Jika kamu ingin membujukku dan istriku untuk merestui Alden dan Dikta, maka lupakanlah dan pergi dari sini" Itulah kali pertama kalimat yang terdengar dari Biantara. Sehingga Alden tertunduk dan menggeleng.


Celengan dari Saga membuat Biantara dan juga Riana mengerutkan dahinya. Jika bukan meminta restu apa yang membuat Saga datang di waktu yang terbilang sudah larut malam.


"Biarkan orangtuaku beristirahat, kau bisa katakan pada Alden untuk tidak memaksa Saga"


"Kak Muel? Ternyata kak Muel ada si Indonesia?"


Samuel langsung ke luar dan menghampiri Saga. Saat itulah Samuel meminta orang tuanya untuk masuk karena ingin berbicara empat mata dengan Saga.


"Pergilah Saga, aku akan menjelaskannya perlahan supaya mereka mau memahami Alden Saga. Bahkan aku menunggunya cukup lama untuk itu"

__ADS_1


"Jadi kak muel juga mendukung Alden dan Dikta? "


"Bukan masalah mendukung Saga, tapi inilah yang terjadi. Mungkin mereka salah, tetapi itu pilihan mereka. Dan untuk kedepannya tugas kita hanya membuat semua orang tidak bertindak seperti mereka"


"Tapi kak Muel, masalahnya.. "


"Apa kau tidak percaya denganku Saga? " Potong Samuel.


"Bukan aku tidak percaya kak, tapi saat ini Alden kritis. Bicaranya sudah melantur. Bahkan ini saja Alden yang meminta kak. Dia juga berpesan untuk menjaga om Bian dan tante Riana, kak Muel"


Samuel terlihat berpikir, pasalnya yang ia tau Alden sudah menjalani operasi. Da itupun berjalan lancar, lalu bagaimana bisa saat ini adiknya kritis.


Dan saat itulah Alden mengatakan semuanya tentang penyakit yang diderita oleh Alden saat ini. Dan tanpa mereka sadari, Riana dan Biantara juga mendengarkannya hingga membuat Mereka keluar bersama.


"Apa yang kau katakan Saga" Tanya Riana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Itu memang kenyataannya Tante, om. Alden mengidap penyakit yang berbahaya beberapa bulan terakhir. Dan itu terjadi karena dia merasa tersiksa berpisah dengan Dikta"


"Papa, Muel, lebih baik kita kesana sekarang. Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan Alden"


"Iya ma, ayo" Sahut Biantara.


Cukup lama mereka berada di jalanan karena terjebak macet. Hal itupun membuat Samuel kesal.


"Ada apa dengan kita ini? Kenapa macet tidak mengenal waktu" Samuel memukul kemudianya.


"Tenang sayang, jangan marah nak" Riana menenangkan Samuel.


Entah mengaoa, padahal jam sudah sangat larut tetapi masih terjadi kemacetan. Dan saat itu Saga keluar dari mobil dan bertanya kepada seseorang.


"Apa yang terjadi pak, kenapa di jam segini masih saja macet"


"Oh itu, di depan ada kecelakaan. Makanya jalanan menjadi macet"


"Oh begitu, ya sudah terimakasih pak"


Setelah mengetahui penyebab dari kemacetannya, Saga segera bergegas kembali kedalam mobil. Disnaa ia mengatakannya kapada keluarga Alden sehingga membuat Smue sedikit tenang dan tidak marah-marah dengan keadaan jalanan yang jauh berbeda dari tempat tinggalnya selama ini di luar negeri.


Hingga akhirnya setelah dua jam terjebak macet, mereka kini sudah sampai di rumah sakit.


Saga membawa mereka untuk ke ruangan Alden. Tetapi langkah kaki mereka terhenti ketika melihat Alden mengikuti brangkat yang di dorong oleh perawat.


"Ada apa ini Dikta? "


"Alden Ga, Alden" Dikta terjatuh dengan tangan yang masih memegangi brankar tersebut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2