
Arga memijat pangkal hidungnya, ia merasakan pening akibat tidak tidur semalaman memikirkan tentang Lesya.
"andai kamu tau Lesya, apa alasanku pergi keluar negeri hingga waktu itu aku tidak bisa meminta maaf langsung denganmu"
saat itu Arga begitu menyayangkan kenapa sepupunya yang bernama Sharena melakukan hal itu tanpa memberitahunya terlebih dulu.
_Flashback On
"sebenarnya apa yang sudah kau lakukan Sharena, kenapa Lesya bisa semarah itu?"
"hei bang Arga, aku jauh-jauh dari luar kota datang kesini itu bela-belain buat bang Arga buat kasih pelajaran sama pengkhianat itu lo. tapi kenapa bang Arga malah kelihatan gak suka? ada apa hemm?"
Sharena bersedekap sembari menatap Arga penuh selidik. ia tidak mengerti kenapa Arga tidak senang melihat orang yang ingin ia hancurkan dipermalukan seperti itu.
"tunggu Sharena, darimana kamu tau tentang misi balas dendamku ini?" kini Arga pun menatap penuh selidik.
"bang Arga, apa bang Arga lupa? waktu acara seratus hari bang Arvin, abang itu begitu marah didalam kamar dan bersumpah serapah untuk menghancurkan Lesya! dari situlah aku tau!" jelas Sharena.
Arga membuang nagas kasar. ia kemudian memegang kedus pundak Sharena, Arga menatap lekat anik mata Sharena yang berwarna abu-abu kehitaman. ya, Sharena memang memiliki darah keturunan barat sehingga matanya sesikit berbeda dari kebanyakan penduduk asli indonesia meskipun tanpa menggunakan lensa kontak.
"apa kamu tau Sharena? selama ini apa yang aku pikirkan tentang Lesya semuanya salahbesar! dan kenapa kamu bertindak diluar sepengetahuanku?"
"aku gak tau maksud bang Arga, salah besar gimana?" Sharena tampak berpikir.
kemudian Arga menceritakan semua perihal yang dialami oleh Lesya pasca meninggalnya Arvin. dari Lesya yang mengalami depresi, hingga keterpaksaannya menikah dengan Saga.
"astaga bang Arga, bang Arga gamlang banget si percaya gitu aja sama cerita orang lain? bisa aja kan itu cuman akal-akalan mereka buat memanipulasi bang Arga! yang jelas aku gak akan semudah itu percaya sama cerita bohonh seperti itu!" tegas Sharena.
itulah Sharena, seorang gadis keras kepala. ia tidam mudah mengakui kesalahannya dan lebih mementingkan egonya semata.
"itu tidak mungkin Sharena! karna selama ini mereka tidak tau kalau aku adik dari manta kekasih Lesya. jadi terserah kamu Sharena, yang jelas saat ini juga aku akan meminta maaf pada Lesya!"
Arga dan Doni melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan tinggi, Doni menginjak pedal gas menuju rumah kontrakn Lesya. ketika mereka sampai, mereka tidak menemukan keberadaan Lesya sama sekali. akhirnya Arga menyuruh Doni untuk berputar dan bergegas menuju kediaman Guntara. namun saat itu ponsel Arga berdering.
__ADS_1
"iya halo.. APA?"
"ada apa Arga, kenapa kau terlihat cemas?"
Doni pun ikut cemas melihat keadaan Arga saat ini. "mama kecelakaan Don, kita harus segera kembali kerumah. kamu siapkan jet pribadi kita untuk terbang malam ini juga" titah Arga dan segera diangguki oleh Doni.
Dengan segera menghubungi orang untuk menyiapkan apa yang diminta oleh Arga. namun disaat Arga tengah menuju kebandara bersama dengan Doni, ponselnya kembali berdering.
"bagaimana keadaan mama?"
"beliau tidak bisa diselamatkan tuan Arga. sementara papa anda tengah dirawat intensif tuan!"
Bulir airmata lolos begitu saja dsri pelupuk mata, hati Arga mencelos mengetahui orang terkasihnya pergi dari hidupnya untuk selamanya. ia tidak meyangka ibunya akan pergi secepat ini.
_Flashback Off
"ternyata mama lebih menyayangimu bang Arvin. mama lebih memilih ikut denganmu dan meninggalkanku bang. tapi aku yakin kalian disana akan bahagia, dan aku akan meminta izin darimu bang Arvin. izinkan aku bahagiain orang yang paling kamu sayangi bang, bantu aku untuk mendapatkan maaf darinya."
"dan kamu benar bang Arvin, selama aku mengenalnya Lesya adalah perempuan terbaik yang pernah aku temui. dia perempuan yang tangguh dan sangat cerdas seperti yang kamu ceritakan dulu bang." Arga kemudian bangkit dan membuka pintu ke arah balkon. Arga melihat hiruk pikuk kendaraan yanh berlalu lalang dibawahnya. "aku gak akan nyerah untuk mendapatkan maaf darimu Lesya!" sambungnya lagi.
-
Perlahan mata Alden terbuka, ia menggeliat dengan sekenanya. disaat Alden melihat kesisi kirinya; ia mendapati Dikta yang tertidurtepat satu jengkal darinya.
"Dikta?" lirihnya. Alden melihat kesekelilingnya, ia menyadari bahwa ia berada dikamar Dikta. saat itu ia melihat Dikta yang tengah bertel*nj*ng dada, seketika pemandangan yang disuguhkan membuat kotakan-kotakan yang tercetak diperut Dikta menghipnotis Alden. sehingga tanpa ia sadari Alden menyentuhnya perlahan.
Dan mendadak Dikta mencekal pergelangan tangan Alden dengan erat. "kenapa Al, lu suka?"dengan suara parau khas bangun tidur Dikta berbicara tanpa membuka matanya. ia justru mengusap lembut tangan Alden. "kenapa mimpi ini begitu nyata?" sambung Dikta.
"Dikta lepasin tangan gua!" pekik Alden
Kali ini Dikta membuka kedua matanya. ia segera melepas tangan Alden dan bangkit darinposisinya."Alden? huh kaget gua!" ucap Dikta.
"kaget si kaget, tapi kenapa lu gak bangunin gua si semalem Ta? dan kenapa lu gak palek baju segala si?!"
__ADS_1
seketika mendadak Dikta menjadi salah tingkah saat Alden menanyakan hal itu. ia justru kembali memngingat peristiwa semalam. ia hendak membangunkan Alden, namun karena tidak tega ia justru membenarkan posisi Alden. saat itu pula ia mengecup bibir Alden sekilas.
"enghh gua gerah, makanya gua lepas baju gua. lagian ini kamar gia terserah gualah Al!" Dikta beralasan.
"di kamar lu ini ada AC ta, kenapa lu gak nambah tingkat dinginnya?"
'lu gak tau aja Al, semalam lu bener-bener menguji gua! lu bahkan tidur sambil meluk gua, dan bibir itu? argh ini bener-bener gila!'
"kenapa lu diem Ta?" suara Alden kembali menyadarkan Dikta ditengah lamunannya.
"semalem itu lu demam Al, mana mungkin gua tambah tingkat dinginnya. yang ada lu pagi ini tinggal naman doang!"
plak
Alden menepul bibir Dikta dan membuat Dikta menyentuh bibirnya yang mengeluarkan sedikit darh.
"astaga darah, sorry Ta gua gak sengaja!" Alden segera mengusap darah disudut bibir Dikta dengan ibu jarinya. ia terlihat merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.
Alden segera mencari kotak p3k untuk mengobati bibir Dikta. dengan telaten ia mengompres dan segera mengolesinya dengan salep.
"gua bener-bener gak seng-"
Cup
Dikta ******* bibir Alden, awalnya Alden hanya terdiam. ia membulatkan kedua matanya, ia tidak menyangka Dikta akan melakukam hal ini. ketika Dikta semakin memperdalam ci*mannya, akhirnya Alden membalas ci*man tersebut.
setelah cukup lama melakukan aktifitas tersebut, akhirnya Dikta melelas pagutannya karna menyadari nafas Alden yang terengah-engah.
.
.bersambung
.
__ADS_1