
Dita merasa panik melihat Lesya dan Saga berada di belakanganya.Sontak kepanikan pun bertambah.
Kesya berjalan mendekati Dita yang terus meremas jari tangannya.terlihat jelas jika saat itu Alden sedang tidak baik-baik saja. hal itu bisa terlihat dari reaksi Dita ketika mendapat pertanyaan dari Lesya.
"Dita ada apa?" sekali lagi Lesya bertanya untuk memastikan keadaan Alden.
Dita langsung memeluk Lesya dengan erat. saat itu menatap Saga yang melihatnya dari belakang Dita.
"ada apa Dita, katakan? aku tau jika saat ini ada yang kamu sembunyikan dari kami tentang Alden" Lesya lalu melepas pelukan Dita dan mengajak Dita untuk duduk.
Dita tertunduk dengan air matanya yang terus menganak sungai di wajah mungilnya. Dita terlihat ragu untuk menceritakan apa yang ia tau tentang Alden. namun Dita sadar jika dia tidak bisa menahannya sendiri.
"begini mba Lesya, sebenarnya semenjak kami menikah Alden terus-terusan mabuk karena saat itu Alden bilang orang yang dia cinta memutuskan hubungan mereka karena pernikahan kami."
Lesya dan Saga masih terus setia mendengar apa yang di utarrakan oleh Dita.
"dan karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol, Alden sekarang sering hipotermia dan juga dia mengalami gastritis mba Lesya. dan hal itu akan semakin parah jika Alden terus mengkonsumsi alkohol"
Lesya mengusap lembut tangan Dita untuk membuat Dita lebih tenang.
"Dan kemarin aku menyuruh Alden buat menemui pacarnya"
"lalu bagaimana dengan pernikahan kalian?”
"aku dan Alden tidak memiliki perasaan apapun mba Lesya. dan untuk kehamilan ini, kami melakukannya hanya untuk papa yang meminta keturunan mba Lesya."
"apa kamu tidak bisa mencintai Alden karena kamu masih mencintai Joonie, Dita? " Lesya menatap Dita dengan penuh selidik.
__ADS_1
Dan dengan perlahan Dita menganggukkan kepalanya. dan hal itu membuat Saga dan juga Lesya memejamkan matanya sekilas karena tidak habis pikir dengan keputusan antara Alden dan juga Dita saat ini.
"astaga, hubungan kalian bahkan lebih rumit dari dugaanku."
"dan kemarin ketika Alden menemui pacarnya, pacarnya mengusirnya. tapi Alden yang keras kepala memilih untuk menunggunya di luar rumah pacarnya sampai pagi. dan karena hal itu Alden kembali mengalami hipotermia dan gastritis hingga Alden harus di rawat."
"sudah berapa kali Alden mengalami hal seperti ini Dita? " tanya Saga menimpali ucapannya.
"sangat sering Saga. dan berulang kali Alden meminta pulang ketika dokter menyarankannya untuk di rawat, seperti halnya semalam. dan karena Alden memaksa pulang, tadi secara tiba-tiba Alden pingsan mba Lesya. dan aku takut jika sakit itu bertambah parah. atau lebih baik aku menemukan pacarnya? apa mba Lesya mengenalnya? kalau mengenalnya antarkan aku menemuinya dan aku akan menjelaskannya mba Lesya"
Dengan segera saat ini Saga dan jhgaesya bersamaan melarang Dita. "biar aku saja yang mengatakannya Dita, lebih baik kamu jaga Alden di rumah sakit."
"Saga ayo antar aku menemui pacar Alden" Saga pun segera mengangguki ajakan dari Lesya.
Saga melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Saat itu Saga langsung menuju kantor milik Dita untuk membahas masalah nya yang dilakukan oleh Dikta.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup terhambat oleh kemacetan. dan akhirnya mereka tengah sampai di tempat tujuan mereka.
"Dikta gue mau berbicara sama lo" ucap Saga.
Dikta yang melihat Saga begitu serius membuat senyumnya pudar begitu saja.
"apa yang mau lo bahas sekarang Saga?"
"apa kemarin Alden ke rumah lo dan lo usir? "
Dikta berjalan dan berdiri menghadap jendela ruangannya dengan pandangan yang jauh keluar jendela.
__ADS_1
"gue harus lakuin itu Ga. gue nggak mau berada di antara Alden dan juga Dikta! " terangya.
"apa lo tau Ta, kalo Alden itu sakit"
"hemmm" Dikta mengangguk.
Sementara saat itu Lesya hanya diam. ia sengaja memberi waktu untuk Saga dan Dikta saling bicara.
"dan dengan mudah lo dan santai dan nggak khawatir sama Al,Ta? "
Saga lalu berjalan dan berdiri di samping Dikta. "Alden hanya demam karena tidur di luar rumah Saga. gue nggak harus berlebihan" timpalnya.
"Dikta.. Dikta, kenapa si lo nggak pernah paham sama Alden. Alden itu keras kepala, dan lo malah kayak gitu? nggak perduli buat upaya Alden yang berusaha nemuin lo"
"itu salah Ga!"
"sejak awal hubungan kalian itu emang udah salah. seharusnya lo nggak nambah kesalahan dengan mengabaikan Alden, Ta. kalaupun nggak sebagai pacar, setidaknya lo harus perduli sebagai sahabat" Saga lalu berjalan dan duduk di sofa. dan saat ini Lesya bangkit dari duduknya.
"apa kamu tau Dikta, Alden bukan demam tapi dia mengslami hipotermia dan gastritis"
"apa?" Dikta terlihat terkejut mengetahui hal itu.
Dan saat itu Lesya mulai menceritakan semua yang pernah Dita ceritakan hingga saat itu membuat Dikta semakin terkejut.
"dan yang perlu kamu tau Dikta. jika Alden mengabaikan penyakitnya, maka Alden bisa terkena kanker Dikta"
"apa? kanker"
__ADS_1
.
. bersambung