
Rasa sesak menjalar di dalam dada ketika Dikta mengingat perlakuan Alden terhadapnya. Namun semua itu semakin sesak ketika ia mengingat sikapnya kedua Alden yang harus tidur di terasa rumahnya hingga mengalami demam.
Meskipun jam sudah semakin siang, tetapi matahari enggan memunculkan dirinya sehingga rasa malas menguasai dirinya.
"Udah berapa lama aku nggak pernah lihat Alden? Apa Alden juga ngerasain rasa kangen kayak yang gua rasain?"
Tentu saja Dikta akan kembali menenggelamkan dirinya kedalam selimut hangatnya. Selain malas untuk ke kantor, Dikta juga enggan pergi ke restoran. Ia takut akan bertemu dengan Alden dan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Meskipun Alden sudah mengatakan tidak ingin melanjutkan hubungan mereka, tetapi rasa rindu semakin besar didalam hati Dikta. Dan hal itulah yang membuatnya enggan untuk ke restoran.
Ting tung
Bel apartemen nya berbunyi. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke apartemen nya, hingga pikirannya mengenai Alden kembali menguasai benaknya.
Mata yang sayu dan tubuh yang lemas mulai berjalan. Satu tangannya membuka pintu, dan tangan yang lainnya berpegangan ke dinding karena selain malas pergi, Dikta juga tidak makan dengan teratur sehingga membuat kondisinya lemah.
Kedua matanya mengerjap, ia tidak percaya jika yang datang adalah ibunya yang sangat mencintainya. Namun karena alasan terlalu mencintai anaknya terkadang ibu Dikta juga memaksakan kehendaknya dengan alasan ingin berbuat yang terbaik untuk anaknya.
"Mama, mama kok nggak bilang mau ke apartemen Dikta? "
"Tidak pa-pa, Dikta. mama Mau melihat keadaan apartemen seorang pujangga seperti apa"
Dan benar dengan dugaan ibunya, keadaan rumah begitu kacau. Kehatangan menjalar dari tangan ibunya memebelai Dikta dengan kasih sayang.
Akhirnya tanpa mengatakan apapun lagi, ibu Alden membereskan satu persatu barang-barang yang membuat pemandangan tidak enak.
__ADS_1
Setelah cukup lama berkutat dengan bersih-bersih, akhirnya rumah Dikta begitu terlihat sangat bersih.
"Sayang, kapan kamu nikah,?"
"Uhuk.. Uhuk.." Dikta yang tengah menenggak air putih, mendadak terbatuk ketika Mendengar ucapan dari sang ibu yang bertanya tentang pasangan hidup.
Dan lagi-lagi hal itu membuat Dikta teringat kepada Alden.
Sementara ibunya yang melihat dirinya terus memikirkan sesuatu, membuat pertanyaan timbul di benak sang ibu. Apa yang sebenarnya di butuhkan oleh Dikta. Ia adalah orang yang bisa dikatakan sukses, namun kenapa ia belum juga menemukan tambatan hati hingga detik ini.
-
Lesya menggendong Elgara dengan perasaan was-was. Ia tidak mengerti, kenapa setelah Zora dan ayahnya di tangkap oleh polisi, masih ada saja yang menganggunya.
"Saga, apa di depan kamu menemukan siapa yang melakukan ini? "
Saga melihat jendela rumahnya yang pecah karena lemparan batu dari luar.
Baru saja Saga dan Lesya merasa tenang, setelah beberapa hari terakhir selalu di teror oleh Zora dan juga Agra.
Dia tatapnya setiap serpihan kaca yang jatuh, membuat perasaan Saga semakin kesal. Ia tidak mengerti kenapa banyak sekali orang yang tidak menyukainya berbahagia bersama dengan keluarganya. Selalu ada saja yang mengganggunya.
"Saga mau kemana? "
Lesya meneriaki Saga yang pergi dengan raut wajah kesalnya. Di injaknya pedal gas hingga mobil yang Saga naiki melaju begitu cepatnya.
__ADS_1
Saat ini didalam pikiran Saga hanya ada Saka dan Liyora. Siapa lagi jika bukan mereka? Itulah yang terus dipikirkan oleh Saga, hingga akhirnya ia memutuskan untuk langsung menemui Saka dan memperingatkannya
Setelah menempuh waktu beberapa menit. Saga kini sudah sampai di halaman rumah Saka dan Liyora. Dan saat itu sebelum Saga berteriak. Saka dan Liyora keluar dari rumah bersama.
Terlihat jelas jika saat itu Saka dan Liyora terkejut melihat keberadaan Saga yang ada di depan rumahnya. Saga pun segera masuk dan langsung menarik merah baju Saka hingga Saka terkejut.
"Apa-apaan ini Saga, kenapa lo narik baju kak Saka kayak gitu"
"Diem Yora, ini urusan gua sama kakak gua! " Saga memperingati Liyora hingga membuat Liyora menciut.
"Gua tau kalian nggak suka liat kebahagian gua sama Lesya. Kalian pakek cara kotor buat neror keluarga kami kan? "
Sebelum menjawab pertanyaan dari Saga, Saka melepas tangan Saga dan kini menatap Saga dengan marah. Begitupun Liyora yang begitu marah melihat suaminya di tarik seperti itu.
"Dengar Saga, di dunia ini bukan cuma aku yang tidak suka melihatmu bahagia, jadi kau jangan asal menuduhku! " Tegas Saka.
"Lalu siapa lagu yang melakukan hal kriminal buat neror gua hmm? "
Kali ini Saga benar-benar marah. Ia bahkan tidak memperdulikan dengan kakanya yang saat itu hampir ia hajar dengan kedua tangannya sendiri. Untung saja saat itu ponselnya berdering, sehingga Saga mengurungkan niatnya untuk menghajar Saka.
Setelah mengangkat telefon, raut wajah Saga berubah. Tanpa mengatakan apapun Saga bergegas pergi meninggalkan rumah Saka dan Liyora.
"Kenapa mereka pergi buru-buru? "
.
__ADS_1
. Bersambung