It'S Perfect

It'S Perfect
Pria Baik


__ADS_3

Sorot mata dari para lelaki yang terus menatapnya membuat Friska bergidik ngeri. namun ia kembali mengatur deru nafasnya yang tak karuan untuk lebih tenang.


"hei kamu, cepat kesini!" ucap salah satu wanita yang sering disebut madam di klub itu.


"a-ada apa ma-madam?"


"kalau kamu ingin mendapat uang yang banyak, kamu harus bisa menyenangkan orang-orang disini, mengerti?"


"ba-baik madam"


Friska terus melangkahkan kakinya semakin dekat dengan para lelaki yang ada didalam sana. ia membawa nampan dengan berbagai minuman beralkoh*l.


hingga ia dihentikan oleh satu pria yang pantas disebut sebagai ayah untuk remaja seumurannya.


"manis,sini duduk disamping om. nanti om beliin apa aja yang kamu mau! om juga akan kasih kamu uang yang banyak"


ingin rasanya Friska lari dari tempat yang hina ini, namun ia kembali mengingat apa tujuannya saat sudah memutuskan untuk bekerja ditempat itu. ia harus menerima segala konsekuensinya.


'sudah kepalang basah, gue gak bisa mundur lagi. gue butuh duit! lagi pula siapa laki-laki yang mau sama cewe kaya gue. gue udah gak peraw*n, bahkan gue pernah keguguran. pasti mereka semua akan mandang gue sebelah mata'


Friska pun duduk di samping laki-laki yang sudah berumur itu. ia menuangkan minuman untuk pria tersebut. perlahan pria itu menyentuh dagu Friska, dan perlahan pria tua itu semakin mendekat ke arah Friska.Friska terlihat sangat ketakutan, namun ia tidak berani untuk pergi karena ia sangat membutuhkan uang.


"Friska, kamu kesini" belum sempat pria tua itu menyentuh bibir Friska, wanita yang acap kali disebut madam itu memanggilnya.


'untung aja gue bisa lolos dari pria itu!'


"malam ini kamu pergi ke kamar VVIP, disana kamu sudah ditunggu oleh seseorang!"


"baik madam"


Friska menyusuri koridor yang cukup panjang hingga berhenti disuatu ruangan yang sangat besar. ketika ia baru memasuki ruangan tersebut, pandangan matanya berhenti pada tempat tidur yang begitu besar dengan fasilitas yang sangat mewah.


"duduklah"titah seorang pria yang duduk di sebuah sofa yang berada diruangan itu.


Fruska menyioitkan kedua matanya menatap kearah pria tersebut. terlihat tidak cukup jelas dengan lampu yang temeram khas yang digunakan untuk tidur. Friska memperhatikan penampilan pria yang ada dihadapannya. terlihat cukup dewasa dan tampan, namun tetap saja dia merasakan ketakutan.


"emm ada yang bisa sa-saya b-bantu tuan?"


"duduk dan minumlah"


Friska merasa ragu untuk meminum minuman yang ada dihadapannya, namun karena tuntutan kerja, ia pun segera menenggak minuman tersebut.


"kenapa, sepertinya kamu sangat heran dengan apa yang kamu minum?"


"ini soda?"

__ADS_1


"lalu apa yang kamu pikirkan?"


"tidak tuan, ini jauh lebih baik dari dugaanku"


pria tersebut kemudian bangkit, ia lalu duduk di samping tempat duduk Friska. perlahan ia memajukan badannya kearah Friska. saat itu Friska memejamkan kedua matanya dengan perasaan yang campur aduk.


'apa malam ini gue bener-bener jadi pel*c*r? tuhan, apa dulu akau sangat buruk sampe gue punya takdir yang seperti ini?'


klik


"lampunya sudah aku nyalakan, kamu tidak perlu takut."


'jadi gue gak diapa-apain? syukurlah!'


"tapi tuan, apa tuan tidak butuh apapun?" tanya Friska dengan wajah polosnya.


"panggil saja aku kak Dylan. dan aku sengaja memesanmu karena aku ingin tau penyebab kamu bekerja ditempat seperti ini, bukankah kamu masih sangat muda?"


awalnya Friska enggan untuk menceritakan penyebab dirinya ditempat itu, namun melihat Dylan yang menurutnya adalah pria baik, Friska menceritakan semua beban hidup yang harus ia pikul sendiri.


"aku sudah menceritakan semua kak, kak Dylan orang baik, tapi kenapa kaka berada di tempat seperti ini?"


"tadi aku hanya di ajak oleh teman-temanku. dan kebetulan alu melihat kamu ketakutan, jadi aku manfaatkan saja kamar yang sudah dipesankan oleh teman-temanku."


Dylan lalu bangkit dari tempat duduknya, ia meraih jas yang ia letakkan diatas sandaran sofa. sebelum keluar, ia kembali menoleh kearah Friska yang terlihat bingung.


Friska tersenyum lega tengah bertemu seseorang sebaik Dylan tanpa memanfaat keadaanya.


💜💜


Saga menatap layar ponselnya, malam ini ia seperti menunggu kabar dari seseorang.


ting


ketika mendengar ponselnya berdenting, dengan segera Saga membuka layar ponselnya. namu saat itu wajah yang tadinya tersenyum mendadak menjadi sendu.


"Liyora"


Saga, apa besok kita bisa jalan lagi? aku mau kita pergi ketempat biasa.~


bukannya membalas pesan dari Liyora, Saga justru melempar ponselnya kesembarang arah. entah mengapa fikirannya sedikut terganggu.


"mending gua liyat sosmednya aja, siapa tau dia upload sesuatu! hp mana hp?" akhirnya Saga memungut kembali Ponsel yang tadi ia lempar kesembarang tempat.


begitu Saga mendapatkan ponselnya kembali, ia langsung berselancar menscrol mesia sosialnya. mulai dari facebook hingga instagramnya.

__ADS_1


"arghh taik gua kan gak tau apa nama akun media sosial mba Lesya, mana bisa ketemu?" Saga pun mulai berpikir keras. "oh ya, dia kan seorang CEO, jadi gak mungkinkan dia pakek nama-nama aneh! coba gua ketik namanya aja."


"yes, ketemu!" Saga mengepalkan tangannya karena girang menemukan akun media sosial milik istrinya.


"lah ini kenapa mba Lesya deket banget sama ni cowok?" karena merasa semakin penasaran, Saga terus menscrol Instagram milik istrinya. lagi-lagi Saga menemukan sesuatu yang tidak ia sangka sama sekali.


Saga justru menemukan foto Lesya bersama dengan ibunya dengan keterangan yang membuat hati Saga berdegup.


Terima kasih karena melahirkan seseorang yang menjadi alasanku untuk bangkit setelah keterpurukanku kehilangan malaikat kecilku. Terima kasih telah memberikan kesempatan untukku menemukan kepingan-kepingan hati untuk memenuhi puzzle hatiku.


Saga lalu terduduk dengan pikirannya yang entah kemana. ia tidak bisa melupakan saat Lesya memberi kata-kata malaikat kecil didalam postingan di akun media sosial miliknya.


Saga lalu memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. "tuhan, kenapa aku gak bisa ingat apapun! da kenapa hatiku bergetar saat tau mba Lesya begitu kehilangan bayinya."


Saga lalu bergegas untuk keluar rumah, seperti biasa ketika pikirannya suntuk ia memilih untuk pergi ke tempat biasa ia berkumpul dengan sahabatnya. dan benar saja, ketika Saga sampai, ditempat itu ia mendapati Alden dengan Dikta tengah membicarakan sesuatu.


"kalian ada disini?"


"iya emang kita biasa kumpul disini kali Ga, lu kenapa si kayaknya gak fokus banget? apa ada hubungannya sama Lesya?" tanya Alden.


"gaklah ngapain juga gua mikirin mba Lesya. lagian dia sekarang gak ada di indonesia, dia lagi jengukin omanya yang sakit di luar negeri!"


"jadi Lesya keluar negeri? arghh kenapa lu gak bilamg si Ga, fau gitu gua ikut kesana!"


"lu mau ngapain ikut kesana Alden?" sahut Dikta.


"ya jagain Lesya lah biar gak disamber sama oppa oppa korea, tau sendiri gua cinta mati sama Lesya, kalo sampe gua keduluan sama yang lain bisa ancur ni hati gua!"


"ngaco lu kalo ngomong, mba Lesya itu udah nikah sama Saga!" hardik Dikta


"apaan si kalian, gua disini mau nenangin pikiran! ini kalian malah ribut aja daei tadi!"


"emang lu gak tenang kenapa Ga? jangan bilang lu mulai ada perasaan sama Lesya Ga?"celetukan Alden membuat Saga tertegun.


"apaan si lu Al, mending gua balik disini hua tambah puyeng dengerin lu yang gak logis nuduh gua terus!"


setelah ia sampai dirumahnya, Saga langsung menjatuhkan badannya diatas kasur empuknya. kini ia kembali mengingat uvapan dari Alden. "huh, aneh-aneh aja tu anak nuduh-nuduh gua punya perasaan sama mba Lesya lagi! mana mungkinlah, orang gua cuma cinta sama Loyora!"


plak


Saga tiba-tiba menepuk dahinya karena teringay sesuatu yang sempat ia lupakan. "astaga, Liyora! tadikan dia chat gua?!"


.


.bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2