It'S Perfect

It'S Perfect
Banyak Lebam Dan Luka


__ADS_3

Andi tiba-tiba tertawa setelah pertanyaan terlontar dari mulut Doni yang mengatakan apakah Via adalah istrinya. sebenarnya ungkapan tersebut tidak menuju ia sudah benar-benar menikahi Via, melainkan sikapnya terlalu posesif sehingga terkesan Via adalah istrinya, itulah yang dimaksud oleh Doni saat itu.


"tidak mungkin pak Doni, anda tau kami ini bersahabat. jadi wajar jika aku ingin melindunginya bukan? "


karena terus berdebat, tanpa Doni dan Andi sadari, Via berusaha berjalan meskipun ia harus menyeret kakinya yang sebelah dengan dibantu oleh Sharena.


karena merasa bersalah, seorang Sharena yang acuh pun menjadi seorang yang lebih perduli.


"duduklah, aku akan mengambil obat di mobil" masih dengan rasa sakit yang ia rasakan, Via berusaha tersenyum dan mengangguki ucapan Sharena.


"Via.. kenapa lo malah udah kesini duluan, harusnya lo tadi nungguin gue kelarin omongan gue sama pak Doni."


"gak Pa-pa Ndi, lagian tadi udah di bantu sama mba Sharena."


usia Via dan Sharena sebenarnya mereka seumuran, namun karena posisi Sharena lebih tinggi darinya, Via memanggil dengan sebutan 'mba' agar lebih sopan.


setelah beberapa saat Sharena datang dengan koyak p3k untuk mengobati Via. disaat itulah Via melihat Andi yang terus memperhatikan Sharena ketika mengobatinya.


"sshh" Via meringis kesakitan karena memang luka yang ia miliki cukup lumayan untuk menghalangi pergerakannya.


"pelan-pelan Sharena"


"iya ini aku sudah pelan Doni.."


"biar aku yang membalutnya" tawar Doni. kali ini Andi membiarkannya, karena ia tidak ingin ada lagi yang curiga jika dirinya memang suami istri dengan Via.


'dari tadi Andi terus ngeliyatin mba Sharena. apa mungkin seseorang yang bisa ngalihin perhatian Andi dari bu Lesya itu, mba Sharena? ya emang si, mba Sharena cantik banget'


setelah memperhatikan Andi yang terus menatap Sharena cukup lama, kini Via hanya bisa menunduk meratapi nasibnya yang mungkin akan segera menjadi seorang janda di usia mudanya.


'sebenernya Sharena ini niat gak si ngobatin Via? mana tadi kayaknya dia sengaja bikin batu bata itu roboh! gue harus tetep awasin dia, gue takut dia ada maksud tersendiri sama Via. atau jangan-jangan, Sharena ini suka sama Doni terus dia cemburu makanya pengen nyelakain Via! '


semua itu muncul begitu saja dipikiran Andi. entah sejak kapan seorang Andi yang biasanya banyak berpikir, namun kali ini ia justru langsung menduga seseorang akan mencelakai Via begitu saja.


"sudah selesai" ujar Doni yang selesai membalut luka di kaki Via.


"sepertinya kau tidak bisa meni kau proyek nona, lebih baik kau tunggu kami disini ditemani Sharena, biar aku dan Andi yang memeriksa segala sesuatunya."


"tidak bisa Doni, aku harus mencatat semuanya. ini udah perintah dari bang Arga. jadi aku ikut"


"kalian pergi saja, aku akan menunggu disini"


"lo yakin Vi? " tanya Andi memastikan, dan seketika Via mengangguk dengan mengulas senyum tipis diwajahnya.


"baiklah, kami tidak akan lama. kamu cukup tunggu kami didalam mobil. bila perlu kamu kunci dari dalam."


"bentar ya Via" Andi menatap Via dengan tatapan meyakinkan dan mengikuti Doni dan Sharena memeriksa proyek yang berjarak tidak jauh dari tempat mobil mereka diparkirkan.


tuk

__ADS_1


tuk


tuk


Via mengetuk-ngetuk kaca mobil karena ia merasa bosan setelah memainkan ponselnya. dan akhirnya Via memilih untuk mengerjakan sesuatu yang bisa ia kerjakan menggunakan ponsel pintarnya.


waktu sudah berjalan satu jam lebih, saat ini Via mencoba membuka kaca mobil agar bisa menghirup udara segar.


"disini benar-benar sangat nyaman dan udaranya sangat bersih" Via menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. ia melakukan itu beberapa kali sembari memejamkan matanya. tanpa ia sadari rasa kantuk menghampirinya dengan mudah. dan perlahan ia masuk kedalam alam mimpinya.


"pak Doni aku harus mengambil kameraku yang tertinggal di mobil. sepertinya akan lama jika hanya menggunakan kamera milikmu untuk merekam semuanya."


"ya, ambilah. aku dan Sharena akan pergi ke sebelah sana" Doni menunjuk lokasi yang lumayan jauh dari tempat pertamanya.


dengan berlari Andi hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit sampai di mobil yang. saat itu ia melihat jendela mobil yang terbuka dan terlihat via yang sedang tertidur yang bersandarkan pintu mobil.


beberapa helai rambut seolah menari terkena terpaan angin melalui kaca mobil yang terbuka. Saat itu pikiran jahil Andi muncul, ia berpindah kepentingan sebelah kiri dimana Via tertidur.


ia berencana untuk mengejutkan Via dengan memasang wajahnya tepat di sisi luar kaca yang terbuka dengan mata yang ia buat juling. saat ia sudah memasang wajahnya seperti itu, Andi memanggil Via dengan suaranya yang cukup keras


"VIA BANGUN"


CUP


karena terkejut, dengan spontan Via menoleh ke arah Andi. dan tanpa Andi duga bibirnya menempel tepat dibibir ranum milik Via. sontak keduanya membulatkan kedua matanya. bahkan Via sampai mengerjap karena tidak percaya ciuman pertamanya akan ia lakukan dengan Andi meskipun tanpa kesengajaan.


setelah beberapa detik Via langsung mendorong wajah Andi hingga terpental. dan kini keduanya justru semakin canggung.


"kau berkeringat dingin Via. lebih baik kita tunda pemeriksaan ini dan segera membawa Via ke rumah sakit"


"huh.. tidak perlu pak Doni. kita langsung ke kantor saja, disana aku punya stok obat. aku terbiasa seperti ini."


akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. sementara Sharena langsung kembali ke perusahaan Arga.


didalam mobil, Via dan Andi hanya saling diam. yang satu melihat ke luar jendela dan yang satunya nya lagi hanya memainkan ponsel pintar miliknya. begitupun dengan Doni, Doni hanya fokus mengemudikan mobilnya agar kejadian seperti saat diperjalanan ketika mereka berangkat tidak terulang.


sementara di tempat lain Alden membuka pintu ruangan tempat para anak buah Samuel menyekap Dikta. ia melihat Dikta yang terkulai lemas di lantai yang dingin. Dikta berlari dan menghambur memeluk Dikta yang tidak sadarkan diri. tenggorokannya tercekat melihat banyak lebam dan luka diwajah Dikta saat ini.


airmata Alden mengalir dengan sendirinya. perlahan ia mengangkat tubuh Dikta untuk ia bawa ke apartemen yang sudah mereka beli bersama.


setelah beberapa menit, Alden sudah berhasil membaringkan Dikta diranjangnya


Alden melepas satu persatu pakaian Dikta dan menggantinya dengan pakaian yang bersih dimana semua darah sudah ia buang bersama dengan pakaiannya yang koyak akibat siksaan anak buah Samuel.


Perlahan Alden membersihkan luka di wajah dan juga di tubuh Dikta dengan anti septik. selanjutnya ia mengoleskan salep untuk mengobati luka Dikta.


ketika Alden mengoleskannya yang terakhir, Dikta membuka kedua matanya.


"Alden"

__ADS_1


dengan susah payah Dikta bangkit dan memeriksa Alden. ia begitu terlihat mencemaskannya meskipun keadaannya sendiripun sangat memprihatinkan.


"Alden kami baik-baik aja kan? "


"iya Dikta aku baik" dengan Segera Dikta memeluk Alden begitu erat.


Alden membalas pelukan Dikta dengan sangat erat. dan tanpa Dikta tau, Alden menitikkan air matanya.


Alden lalu mengecup Dikta cukup lama hingga Dikta membalasnya. setelah itu Alden melepas pelukannya.


"Dikta, kamu tunggu disini ya aku akan mencari makanan untuk kita berdua"


Alden pun segera meninggalkan Dikta sendiri di apartemen. dua puluh menit setelahnya bel apartemen berbunyi. dengan susah payah Dikta membukanya dengan memegangi perutnya yang terasa nyeri.


klek


"mba Lesya? bagaimana mba Lesya bisa tau aku disini? "


"Dikta.. "


Lesya lalu membantu Dikta berjalan menuju sofa. setelah itu Lesya mulai menyiapkan makanan yang sudah ia bawa.


"mba Lesya gak perlu repot-repot seperti ini"


"nggak repot sama sekali Dikta. tadi Alden yang mengatakan keadaanmu saat ini."


"lalu dimana Alden mba? "


"dia harus menemui ibunya Dikta, entahlah dia nanti bisa kesini atau tidak. tapi dia berpesan supaya kamu menjaga makanmu dan kau harus istirahat."


setelah semuanya siap Lesya menunggu Dikta menghabiskan makanannya. karena terlihat kesusahan, akhirnya Lesya berinisiatif untuk menyuapinya.


"nggak perlu mba, aku takut Saga akan salah paham"


"kamu tenang aja Dikta, lagian kamu lagi sakit kan? dan Saga juga tidak akan tau. kalaupun dia melihatnya dia akan memaklumi nya."


dengan ragu Dikta membuka mulutnya dan memakan suapan demi suapan dari tangan Lesya.


'aku tau ini akan sulit untukmu Dikta. jadilah Dikta yang kuat dan bijaksana seperti dulu. Dikta. dan semoga saja setelah kau tau kebenarannya, kau tidak akan membenci yang namanya Cinta Dikta. aku tau kau dulu trauma karena Almarhum Friska mengkhianatimu. tapi kali ini Alden tidak mengkhianatimu Dikta, dia ingin yang terbaik untukmu! '


melihat Lesya melamun membuat Dikta memikirkan sesuatu. ia merasa ada yang disembunyikan oleh Lesya.


"ada apa mba Lesya? apa Alden mengatakan sesuatu? "


"oh tidak Dikta. aku hanya heran kenapa orang-orang itu memukulimu seperti ini! "


ini hanyalah alasan Lesya. yang sebenarnya Lesya sudah tau apa yang dilakukan oleh kakak Alden terhadap Dikta. dan ia berusaha menutupi agar Dikta pulih terlebih dulu.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2