It'S Perfect

It'S Perfect
Membuat Nama Buruk


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Lesya langsung menuju ruangannya. didalam sana ia berusaha menenangkan dirinya.


"Tuhan, kenapa aku berada di posisi seperti ini? apa aku harus memilih di antara suami dan anakku Tuhan? mereka adalah orang-orang yang sangat aku cintai, tapi kenapa aku harus melepas salah satu dari mereka berdua!"


Tubuh Lesya yang lemas merosot dan jatuh ke lantai. air mata yang sudah tidak terbendung menganak sungai di wajah mungilnya.


Sesaat setelah itu Lesya masih berlarut dalam tangisnya.


Ceklek


Pintu ruangan Lesya terbuka, seseorang pun berlari dan membantu Lesya untuk bangkit dan membawa Lesya ke kamar yang ada di ruangannya.


"Ada apa Sya? "


Lesya mendongak dan segera memeluk dengan erat.


"Joonie.. " tangisnya pecah begitu saja.


Saat itu cukup lama Yoo joon berusaha menenangkan Lesya, namun tak kunjung berhenti dari tangisannya hingga seseorang masuk dan mencarinya.


"siapa? " Yoo joon lah yang menjawab.


"Saya Dinda pak, saya ingin menyampaikan bahwa Via meminta izin karena anaknya sakit"


"ya sudah, keluarlah"


"baik Pak"


Dinda keluar dengan alis yang berkerut. saat itu tanpa sadar Dinda menabrak seseorang yang berdiri di depan pintu ruangan Lesya.


brugh


"ah" Dinda melihat seseorang di depannya dan segera menunduk.


"maaf Pak Arga, saya tidak sengaja"


"kenapa kau sangat ceroboh? "


"maaf Pak, baru saja saya meminta izin untuk Via yang tidak berangkat"


"apa keadaan Rea memburuk?"


"saya kurang tau pak, tadi Via hanya meminta izin karena Rea sakit. tapi bapak tau darimana soal Rea? "

__ADS_1


"sudahlah, itu bukan urusanmu" Arga melenggang pergi meninggalkan Dinda yang masih mematung dengan pikirannya yang semakin di buat bingung.


"kenapa orang-orang sangat aneh? tadi aku kedalam dan bh Lesya bersama dengan pak Yoo joon di ruang pribadi bu Lesya. dan barusan? barusan pak Arga terlihat sangat perduli dan dari mana dia tau keadaan Rea, apa ada sesuatu di antara pak Arga dan Via. tapi bagaimana dengan Andi? "


"gue yakin Via bermain-main dibelakang Andi dengan pak Arga sampe Andi ngertiin dia" sahut seseorang yang berdiri dengan angkuh di depan Dinda.


"bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu Chika? kita bahkan udah kenal Via lama kan. dia orang yang nggak neko-beko bahkan nggak pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali Andi"


"dia hanya akting. lo nggak tau kan kalo banyak yang ketipu sama wajahnya yang sok polos itu? "


"maksudnya? "


"selain Andi, ada pak Doni yang mengejarnya. dan sekarang pak Arga, aku yakin diam-diam Via menjalankan tubuhnya sama mereka"


Chika berbicara dengan suara yang lumayan keras hingga beberapa karyawan perusahaan mendengar semua itu dan mulai menggunjingkan tentang Via.


Melihat respon dari sekelilingnya, membuat Chika yang tidak pernah menyukai Via pun tertawa di dalam hatinya karena berhasil membuat orang-orang meragukan Via dan mulai menggunjingkan dan mencibirnya.


"dimana Andi? " tanya seseorang yang berdiri di belakang Chika dan membuatnya terkejut karena asik dengan lamunanya memikirkan betapa sedihnya Via nanti jika tau semuanya sudah menggunjingkannya.


"eh pak Dylan, emm Andi sepertinya tidak berangkat karena berada di rumah sakit bersama Via pak"


"memang apa yang terjadi dengan Via? "


'astaga, aku harus segera berbicara dengan Andi untuk membicarakan tentang anak buah Agra dan Zora'


"dimana rumah sakitnya? "


Setelah mendapat jawaban dari Chika Dylan bergegas pergi untuk segera menemui Andi di sana. dan saat itu Dylan bahkan tidak menyapa seseorang yang melambaikan tangan kepadanya dengan senyum manis mengembang di wajahnya.


Senyum itu pudar begitu saja dan wajahnya menjadi muram. melihat hal itu Chika tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mendekat ke arah seseorang yang masih berdiri mematung melihat kepergian Dylan.


"pagi bu Sharena, ada yang bisa saya bantu?" sapa Chika


"pagi, dimana bang Arga? "


"oh tadi pak Arga pergi untuk ke rumah sakit bu Sharena. dan sepertinya tadi pak Dylan juga kesana"


Sharena mengerutkan dahinya. ia berpikir siapa orang yang begitu penting hingga Arga dan Dylan segera pergi ke rumah sakit. bahkan Arga tidak mengatakannya kepada Sharena yang baru saja dari toilet dan meninggalkannya. selain itu Sharena juga bingung kenapa Dylan juga terlihat buru-buru tanpa menyapanya terlebih dulu.


"siapa yang ada di rumah sakit? "


"Via bu, salah satu orang kepercayaan dari Bu Lesya. padahal... "

__ADS_1


"padahal apa? "


"tidak bu, saya tidak berani mengatakannya. karena jika dia sampai terdengar jelek, makan banyak backingannya di kantor ini bu "


"kamu tidak perlu takut, katakan padahal dia kenapa? "


"emm.. sebenarnya Via itu wanita nggak baik bu. dia sudah menikah dengan Andi, tapi dia juga memberi harapan kepada pak Doni bu. dan selain itu sepertinya pak Arga dan pak Dylan juga kena tipuannya bu, bahkan yang aku dengar dia bercerai dengan Andi karena dia hamil anak orang lain bu. aku takut itu anak dari salah satu orang yang mendekatinya bu. dan aku yakin dia ingin menjebak salah satu diantara Pak Arga, pak Doni atau bahkan pak Dylan bu"


"astaga"


Sharena pergi begitu saja, namun ketika ia sampai di depan pintu masuk ia berputar dan mendatangi Chika kembali.


"dimana rumah sakitnya? "


Dengan semangat Chika memberi alamat rumah sakit kepada Sharena. setelah Sharena pergi, Chika tersenyum kegirangan karena rencananya untuk membuat nama Via buruk di mata orang berjalan dengan lancar.


"gue yakin Via bakal kena masalah, sukurin. siapa suruh lo ngerebut posisi gue yang harusnya gue jadi kepercayaan bu Lesya. dan karena lo deket sama Andi, jadi lo yang jadi kepercayaan bu Lesya."


_


Suasana menjadi hening setelah Dikta mengatakan jika dirinya mengetahui hubungan antara Alden dan Dita, keduanya hingga detik ini belum memiliki perasaan satu sama lain.


"kalau lo udah tau ya udah"


"itu berarti kita berdua bisa kambali sama-sama lagi kan Al?"


"sorry Ta, gue berubah pikiran. gue nggak mau balik sama lo lagi! udah cukup selama ini kita selalu menderita karena hubungan kita yang pastinya tidak akan disetujui oleh keluarga kita. jadi gue nyerah dan nggak mau balikan sama lo"


"kamu becanda kan Al? kamu kayak gini karena kamu masih kesal dengan perbuatanku akhir-akhir ini kan? lo boleh hukum gue apa aja, asal kita bisa kayak dulu lagi Al"


"Sorry Ta, gue nggak bisa"


"tapi lo masih cinta sama gue kan Al, begitupun gue!"


Prank


Satu loyang kue lepas dari tangan Dita dan jatuh hingga kue hancur tidak berbentuk. wajah Dita pucat karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Alden dan juga Dikta.


"Dita" ucap Alden dan Dikta bersamaan yang melihat Dita menjatuhkan kue yang ia bawa.


"kalian.. "


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2