It'S Perfect

It'S Perfect
Sulit Ditaklukkan


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirawat, kini Saka sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun kondisinya saat ini harus berada di kursi roda untuk sementara waktu, karena patah tulang dikakinya yang belum pulih sepenuhnya.


"Sayang, ada sesuatu yang harus kita bicarakan"


"Iya Saga, apa yang ingin kamu bicarakam denganku?"


Saga membawa Lesya sesikut menjauh dari Saka yang kini terduduk dikursi roda.


"Kita harus membawa kak Saka ke rumah kita. Kita harus merawatnya"


"Ya, lalu kenapa kamu mengatakan ini Saga?"


Lesya memang sudah tau apa yang dilakukan oleh Saka terhadap rumah tangganya, namun karena melihat keadaan Saka saat ini, rasanya Lesya sangat iba dengan apa yang menimpa Saka.


"Apa kamu tidak keberatan setelah apa yang dilakukam kak Saka?" Saga menatap Lekat manik mata istrinya meminta jawaban.


"Justru aku ingin menanyakan itu Saka, apa kamu tidak keberatan?"


Saga langsung memgerti arah tujuan dari apa yang Lesya bicarakan. Saga mengerti jika Lesya memastikan perasaannya yang tidak akan berpikir aneh jika Saka tinggal bersama mereka, pasalnya Saka tengah memiliki perasaan terhadap Lesya.


"Nggak akan Sayang, karna aku tau istriku. Dia tidak akan mengecewakanku, karena semesta juga tau, Lesya milik Saga! Begitupun sebaliknya." Ucap Saga.


"Tapi ada syaratnya untuk itu Saga!" Seketika dahi Saga berkerut menilik raut wajah dari istrinya.


"Aku mau kita cari seseorang untuk merawat kak Saka!" Mendengar ucapan Lesya, Saga kemudian memperlihatkan bunny smile yang ia miliki. Dan menarik wanitanya itu kedalam dekapannya.


Saat itu juga Lesya membuat sebuah lowongan kerja untuk pengurus Saka.


_


'Alden kenapa si beberapa hari ini dia jarang banget perhatian sama gua?' Batin Dikta sembari memperhatikan Alden yang tengah bersama teman-temannya di kampus.


Dikta lagi-lagi di buat was-was ketika melihat beberapa teman Alden membisikkan sesuatu ditelinga Alden. Terlebih saat itu ada beberapa teman perempuannya yang terus menempel, dan anehnya Alden justru terlihat seperti ketika dia menjadi playboy disaat jaman SMA mereka.


Akhirnya saat itu Dikta memilih untuk bergabung. "Eh Dikta, lo juga ada kelas sore hari ini?" Tanya salah seorang teman perempuan Alden, dan diangguki oleh Dikta. Namun kali ini ada yang berbeda dsri Dikta. Entah kenapa kali ini Dikta tersenyum dengan gadis tersebut, padahal dia jarang sekali tersenyum.


Salah seorang gadis baru datang tiba-tiba duduk disamling Dikta. "Dikta hari ini dosen kita gak berangkat, jadi lebih baik kita bahas soal materi kemarin"


"Oh oke" Dikta lalu melirik Alden "Al, gua duluan ya" sontak Alden mendongak melihat Dikta beranjak pergi.

__ADS_1


"Yooo... " balas Alden sembari melambaikan tangannya.


Saat itu Alden terus memperhatikan kepergian Dikta bersama gadis yang pergi bersama Dikta.


'Gua yakin dengan gua begini, Dikta gak akan tau perasaan gua. Tapi... kenapa kelihatannya Dikta enjoy banget ngobrol sama Nadia? Apa ada sesuatu sama mereka! Padahal biasanya Dikta susah banget deket sama perempuan'


"Alden ada apa, lo sakit?" tanya seorang temannya yang melihat Alden mendadak diam dan terlihat muram.


"oh enggak kok, gue cuman capek aja. Ya udah ayo kita kekelas, bentar lagi kelas kita mulai" timpal Alden yang segera bangkit dari duduknya.


Setelah kelas berakhir, Alden langsung pergi ke restorannya. Saat itu ia melihat Dikta tengah berbincang dengan Nadia sembari meluhat kearah laptop dihadapannya.


'Jadi dari tadi mereka barengan?'


Ya, bisa dikatakan Dikta dan Nadia adalah sama-sama orang yang sangat sulit ditaklukan. Bahkan Nadia juga sangat jatang tersenyum, yang ia bahas ketika bersama seseorang adalah sesuatu yang berhubungan dengan kuliahnya. Sehingga saat itu Alden menduga jika Dikta menaruh perhatian lebih kepada Nadia.


Sekitar beberapa jam, Nadia pergi dari tempat itu. Dikta mengedarkan pandangannya, namun ia tidak menemukan seseorang yamg tengah ia cari. 'Kemana Alden, apa dia diruangannya?'


Dikta pun bergegas untuk keruangan Alden. "Emm Dit, kamu tau nggak dimana Alden?"


"Oh Alden, tadi kayaknya dia pergi ke arah rootop deh Ta!"


"Oh oke makasih, oh ya gimana keadaan Kenan sekarang?"


Mengetahui Alden yamg berada di rooftop, Dikta segera menyusulnya. Disana ia benar menemukan Alden yang tengah bersantai. Sebelum ia menghampiri Alden, Dikta ingin mendengar apa yang saat ini Alden bicarakan.


"Sebenernya hubungan mereka apa si? Bahas materi kok gak kelar-kelar!" Ketus Alden yang tengah kesal menduga-duga hubungan Dikta dan Nadia.


Seketika hal itu membuat Dikta tersenyum. Akhirnya Dikta mengatur wajahnya sedatar mungkin dan menghampiri Alden yang selesai menerka-nerka.


Dikta melipat tangannya dideoan dada sembari melihat Alden yang terus beemonolog dan menerka apa hubungan antara Dikta dan Nadia. Sesekali Alden bahkam memukul kepalanya untuk memperingatkan dirinya untuk tidak memikirkan Dikta. Dan hal itupun membuat Dikta semakin terkekeh melihat kekonyolan Alden, yang sebenarnya membuat hatinya tersenyum.


"Lu ngapain disini sendirian Al?" Tanya Dikta sembari duduk disebelah Alden.


Saat itu Alden sedikit terkejut dengan kedatangan Dikta. 'Aduh mampus gua! Dikta denger nggak ya tadi?'


"Al.." panggilnya lagi seraya mengguncang lengan Alden.


"Heh iya kenapa Ta?"

__ADS_1


"Lu disini sendirian kenapa? Lu lagi mikirin sesuatu?"


"Huh enggak, gua cuman menikmati cuaca sore hari yang samgat indah" Alden hanya beralasan.


"Oh.." Dikta mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh ya Al, menurut lu Nadia orangnya gimana?" Dikta sengaja mempertanyakam hal itu agar Alden segera jujur dengan perasaannya.


"Gimana apa nya?"


"Ya pendapat lu soal dia gimana?"


"Emm... dia kayakmya baik, dingin cocoklah sama kaya lu. Kaya kulkas!"


"Oh jadi gua cocok sama dia?"


Alden hanya mengangkat kedua pundaknya sembari menatap kedepan yang terlihat sangat indah.


"Apa sekarang saatnya buat gua mulai buka hati ya Al?"


"Uhuk.. uhuk.." Alden yang tengah meneguk minumannya tersedak akibat perkataan Dikta.


"Ati-ati dong Al, lu sampek pucet kaya gitu!" Kali ini reaksi Alden benar-benar membuat Dikta lupa akan misinya. Ia segera mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengusap noda minuman yang ada diwajah Alden.


Tidak bisa berbohong, itulah seseorang yang melihat orang terkasihnya tidak baik-baik saja.


Masih dengan kegiatannya, Dikta mengusap keringat dingin yang keluar akibat tersedak minuman.


Dan setelah itu Dikta mengulurkan sebotol air mineral untuk Alden, dengan segera Alden meminumnya.


"Udah baikan Al?"


"Hemm udah kok Ta?"


Alden menatap Dikta yamg begitu perhatian dengannya.


'Apa lu beneran ada hubungan sama Nadia Ta? Dan apa gua bisa relain lu perhatian sama orang lain, kaya lu barusan perhatian sama gua Ta?'


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2