
Usai menebus obat yang diresepkan oleh dokter, Alden dan Dita segera menuju parkiran. Saat itu tanpa ada yang tau, jika Dikta belum pergi. Ia membelikan susu untuk anak Via.
Dikta melihat Alden yang berhenti sembari memegangi kepalanya dan di papah oleh Dita. Dikta mendadak teringat jika Alden semalam mengalami demam tinggi. Bahkan Alden belum benar-benar pulih ketika meninggalkan rumahnya.
"Ada apa dengan Alden? Apa dia pusing lagi? "
Akhirnya Dikta memilih untuk semakin mendekat ke arah Alden dan juga Dita.
"Al, apa nggak lebih baik lo di rawat aja? Tadi dokter bilang lo harus di rawat kan? Kenapa lo nekat minta pulang?"
"Gue nggak pa-pa Dita, lebih baik kita segera pulang. Lo nggak kasihan sama Kenan? Kalo gue di rawat, lo bakalan bingung. Di satu sisi Kenan sendirian di rumah, dan lo pasti juga harus ke rumah sakit karna gue di rawatkan? Jadi lebih baik gue ikut lo pulang"
"Lo keras kepala banget si Al?"
"Dia emang keras kepala dari dulu kan Dita?"
Alden dan Dita segera mencari sumber suara. Dan suara itu adalah suara Dikta yang berjalan ke arah mereka.
"Dita, lo boleh pulang temenin Kenan, biar gue yang temenin Al disini. Jika Dokter menyarankan untuk dirawat, maka lebih baik lo segera di rawat Alden"
Alden tertegun ketika Dikta mendatanginya. Dan karena melihat Alden tidak mengatakan apapun, akhirnya Dikta mengangkat tubuh Alden.
Setelah beberapa saat Dikta tengah membawa alden ke ruangan rawatnya yang sudah disiapkan oleh perawat.
"Suster, tolong jaga dia. Aku harus pergi ke suatu tempat"
"Baik Pak, saya akan menjaga pasien dengan baik" Balas suster.
Dikta kembali ke mobilnya, ia harus mengantarkan Via lebih dulu setelah itu dia baru kembali ke rumah sakit.
"Maaf Via, aku sedikit lama"
__ADS_1
"Ah iya tidak pa-pa pak Dikta"
"Ya sudah, sekarang kau ku antar pulang" Dikta menyalakan mesin mobilnya dan bersiap mengantarkan Via untuk pulang.
"Pak, tolong antarkan aku ke kantor. Hari ini banyak yang harus ku kerjakan di kantor pak! "
"Apa kamu yakin mau kembali ke Kantor dalam keadaan seperti ini?"Via mengangguki pertanyaan Dikta. Dan mau tidak mau, akhirnya Dikta mengantar Via kembali untuk bekerja ke kantor.
_
Siang itu Lesya kembali berdiskusi dengan suaminya dan juga Dylan bersama dengan Arga untuk menangani kembali masalah mavia tersebut.
"Sebaiknya sekarang kita kembali, kita tidak akan bersembunyi disini. Karena jika mereka mengetahui tempat ini, akan lebih sulit nantinya menangani mereka." Jelas Saga.
Ucapan dari Saga membuat yang lainnya mengerutkan dahi. Pasalnya mereka sudah susah payah untuk lari dari kejaran anak buah Agra, tetapi Saga justru meminta yang lainnya untuk kembali.
"Tapi bagaimana jika nanti mereka mebcelakai Elgara Saga? "
"Tapi ini akan menanggung resiko Saga. Aku tidak mau jika Kesya dan Elgara kenapa-napa" Sahut Dylan yang bangkit dari duduknya.
"Tapi menurutku apa yang dikatakan Saga ada benarnya Dylan, lebih baik kita kembali. Dengan begitu kita akan lebih mudah menyusun rencana, karena disana akan banyak tempat untuk membuat jebakan untuk mereka"
"Jebakan apa yang kau maksudkan Arga?" Tanya Dylan
Saat itu sebelum Arga menjelaskan apa yang akan ia lakukan, Elgara justru menangis kencang. Dengan segera Lwsya berlari ke kamar dan melihat keadaan Elgara. Dan ternyata setelah Lesya memeeimsa Elgara, kejadian yang tak terduga terjadi.
"Apa yang terjadi dengan Elgara Lesya? Kenapa dia menangis? " Tanya Saga yang menyusul Lesya ke kamarnya.
Saga begitu panik, ia memeriksa seluruh ruangan karena takut jika ada anak buah dari Agra yang sudah mengetahui tempat itu dan menyusup untuk mencelakakan Elgara dan juga Lesya.
"Tidak Saga, tidak ada apa-apa. Elgara ternyata pup"
__ADS_1
"Astaga Lesya, kenapa kamu tidak memberitahuku. dari tadi aku cemas, aku takut jika Elgara kenapa-napa Lesya" Lesya hanya menyengir kuda.
Melihat raut wajah Lesya yang menggemaskan seketika kecemasan Saga menghilang begitu saja dan mencubit hidung Lesya hingga memerah.
"Saga, sakit tau.. " Lesya mengusap hidungnya yang seperti tomat.
Melihat raut Lesya yang berubah masam membuat Saga memikirkan sesuatu agar Lesya tidak marah lagi karena perbuatan Saga yang mencubit hidungnya hingga memerah.
"Sayang, apa kau tau? Mama mu marah dengan papa sayang. Padahal papa hanya ingin membuatnya tersenyum sayang. Apa papa harus mencubit hidung papa agar merah seperti badut" Saga berjongkok dan mengadu kepada Elgara.
Lesya terus memperhatikan kelakuan Elgara yang bercerita kepada anaknya, padahal saat itu Elgara tidak mengerti apa maksudnya. Hingga saat itu Lesya tersenyum.
Dan ditengah senyumnya sesuatu terjadi.
"Aa... Sayang, ini papa bukan kloset. Kenapa kamu pipis di wajah papa sayang"
Saat itu juga Lesya tertawa melihat suaminya yang terkena air kencing anaknya.
"Sayang, kamu menertawakan suamimu? "
"Maaf Saga, habisnya kalian berdua sangat lucu"
"Emm lucu ya.. " saga tersenyum menyeringai dan menarik istrinya hingga begitu dekat. Dan tanpa melewatkan kesempatan Saga menempelkan wajahnya di wajah Lesya.
"Aaa Saga... Jangan Saga" Namun Saga sudah menempelkan wajahnya hingga membuat kedua tertawa.
Dan tanpa mereka sadari seseorang mememperhatikan keduanya yang tengah bersendagurau sembari mengganti popok Elgara.
'Kau liat saja Saga, apa yang akan aku lakukan dengan rencanaku nantinya' batin Arga yang ranjau pergi dari depan pintu kamar Lesya dan Saga.
.
__ADS_1
.bersambung