It'S Perfect

It'S Perfect
Hidup Sederhana


__ADS_3

Setelah selesai menemani Yoo joon untuk meeting dengan paetner kerjanya yang baru, kini Lesya dan Yoo joon pun segera kembali ke kediaman Guntara. ketika mereka memasuki gerbang, Lesya mendapati Saga yang saat ini terduduk diatas motornya.


Lesya turun dari mobil dan mendatangi Saga yang masih dengan posisinya semula. "ada apa Saga? kenapa kamu masih disini, ayo kita masuk!"


saat itu Saga melirik ke arah Yoo joon yang baru saja memarkirkan mobilnya. karena merasa Saga tidak menginginkan kehadirannya, Yoo joon bergegas untuk masuk lebih dulu.


"apa kamu membatalkan pergi ke rumah mami karna makan siang sama Yoo joon?" Saga menatap Lesya penuh selidik.


Lesya lalu mengukir senyum tipis di bibirnya. ia tau saat ini suaminya sedang memikirkan sesuatu yang lain tentang dirinya dengan Yoo joon seseorang yang ia anggap sebagai sahabatnya sejak kecil.


"sebentar Saga, sebelum itu coba kamu lihat chat dari aku!"


Saga menggeleng pelan dengan sebelah sudut bibirnya terangkat. "gak ada chat dsri kamu Lesya."


mendengar penuturan Saga, Lesya menautkan kedua alisnya. pasalnya Lesya ingat bahwa ia sudah mengetikan sesuatu diaplikasi pesan miliknya. Lesya pun terkejut saat Saga menagatakan tidak menerima pesan dari dirinya.


"tunggu Saga, aku cek ponselku dulu."


Lesya mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya. ia mulai menggeser layar ponselnya, ia mencari sesuatu didalam sana. dan setelah ia melihat apa yang ia cari, ia memegang pangkal hidungnya kemudia menatap suaminya dengan tatapan penuh makna.


"ada?" tanya Saga memastikan.


Lesya pun memberikan ponselnya kepada Saga, seketika Saga terkekeh saat mengetahui pesan yang Lesya ketik masih belum ia kirim.


"ternyata mba Lesya kesayangku yang super perfect ini, bisa juga ceroboh ya.." Saga yang awalnya ingin berlaga cuek pun, terkekeh karena istrinya yang belum sempat mengirimkan pesannya.


"Saga maaf, ini salah aku. aku bener-bener ceroboh"


itulah Lesya, yang sering menganggap serius setiap perkataan. hingga saat itu Saga menangkup wajah istrinya yang menggemaskan karena rasa sesalnya.


"aku bercanda sayang, tidak apa sesekali kamu ceeoboh. aku sangat memaklumi itu."sambungnya.


'karena apa yang aku lakukan dulu berkali lipat ceroboh dari ini. aku hampir kehilangan kamu karena kecerobohanku yang suka sama gadis yang salah Lesya. dan aku gak akan biarin itu terjadi lagi, aku akan melakukan apa aja untuk kamu Lesya!'


"ada apa Saga, kenapa diem?"


"emm aku kan udah baca chat dari kami barusan, mending sekarang kita siap-siap buat pergi ke rumah mami nanti" Lesyapun mengangguki ucapan Saga.


setelah Lesya dan Saga bersiap-siap kini tiba saatnya mereka harus pergi ke rumah orang tua Saga. Lesya berharap kali ini ibu mertuanya akan menerimanya kembali dengan menyelesaikan salah paham.


cukup lama Lesya dan Saga memnghabiskan waktu didalam kendaraan karena terjebak arus kendaraan yang cukup padat. hingga setelah satu jam lebih Lesya dan Saga sampai dikediaman Darmawan.


Saga kemudian memencet bel rumahnya, dan sesaat setalaitu seseorang membukakan pintu untuk Saga dan juga Lesya.


Saga dan Lesya membulatkan kedua matanya saat melihat bahwa Liyora lah yang membukakan pintu.


"siapa Ra.." terdengar suara nyonya Guntara dari dalam sana.

__ADS_1


"Saga tante.."


nyonya Darmawanpun tersenyum saat melihat kedatangan putra bungsunya, namun seketika senyum itu memudar saat melihat keberadaan Lesya di samping putranya.


"apa kami gak boleh masuk" ucap Saga memecah keheningan.


akhinrnya nyonya Darmawan menyuruh Lesya dan Saga untuk duduk. saat itu Liyora setia duduk di samping nyonya Darmawan.


"mami Lesya-"


"mami harap kamu sudah memutuskannya Saga" potong nyonya Darmawan sebelum Lesya selesai dengan ucapannya.


"mami, biarin Lesya bicara dulu mi!"sahut Saga.


"baiklah" tukas nyonya Darmawan.


"Lesya gak mau mami salah paham, jadi gimana kalo kita cek cctv mi. kebetulan tempat dimana Liyora nuduh Lesya nyelakain dia, disana ada cctv kan mi?"


'kenapa gua gak kepikiran kesitu? istri gua emang hebat' batin Saga.


"kenapa harus cek cctv? jelas-jelas waktu itu Saga bilang kamu yang nyakitin aku kan Lesya! itu berartikamu ngeraguin ucapan suami kamu sendiri?!" kali ini Liyora mulai angkat bicara.


"gua bilang Lesya bersalah, itu jugakan karma ucapan lo Yora. gua gak pernah lihat Lesya yang lakuin itu ke elo kok. dan kalo emang lo gak salah, harusnya lo gak takut kalo kita cek cctv sekarang!" hardik Saga.


"sudah cukup, jangan berdebat. kali ini mami setuju sama Saga."


'aku berharap dengan melihat cctv, aku bisa mendapatkan menantuku kembali yang tidak pernah melakukan cacat apapun dimataku!' itulah harapan didalam sanubari terdalam dari nyonya Darmawan.


Saga kembali menatap Lesya dan mengangguk pelan. Lesya yang tau Saga berusaha meyakinkan, Lesya pun mengukir senyum tipisnya meskipun jantungnya berharap-harap cemas.


"ayo kita ke ruang cctv sekarang" titah nyonya Darmawan.


Kini semuanya berbondong menuju ruangan yang dimaksudkan. dengan segera nyonya Darmawan menuruh Saga untuk memriksa video yang terekam pada hari dimana Liyora mengaku dicelakai oleh Lesya.


Saga mulai memeriksa pada tanggal itu, namun setelah beberapa kali ia berusaha mencari rekaman dijam peristiwa itu terjadi, ia todak menemukannya.


"kayaknya cctvnya mati waktu kejadian itu, makanya gak ada rekaman pas itu terjadi."


"mana mungkin rusak. aku rasa yang tidak ingin ketahuan kalo dia benar-benar melakukannya" ujar Liyora sembari melirik kearah Lesya.


"apa maksud dari ucapanmu Liyora? bahkan aku belum penah datang keruangan ini sebelum hari ini kan?" sahut Liyora.


"memang siapa yang bilang kamu pelakunya, bukankah mencurigakan kalo kamu sendiri yang merasa aku menuduhmu?" Liyora tersenyum smirk.


itulah Liyora yang sangat pandai membolak-balikan perkataan. yang bisa membalikan keadaan. "cukup Yora, lo gak berhak ngomong kaya gitu."


Saga lalu bamgkit dari duduknya dan verjalam ke arah Liyora "aku rasa yang patut dicurigai itu lo! lo yang udah disini duluan dari pada kami, itu gak menutup kemungkinan kalo lo udah menghapus semua rekamannya kan?"

__ADS_1


"cukup Saga, jangan kamu menyalahkan orang lain karena kamu tidak menemukan apapun di rekaman ini." potong nyinya Darmawan. setelah berbicara dengan putranya, nyonya Darmawan menatap ke arah Lesya. "dan sekali lagi harapan mami kamu patahkan Lesya."


Lesya menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. ia ingin mengatakan bahwa bukan dia, namun ia sadar bahwa sekalipun dia bersujud dan menangis di kali ibu mertuanya, itu tidak akan membuat nyonya Darmawan percaya. ia perlu bukti nyata untuk membuktikannya.


"tapi itu berarti posisinya sekarang 50-50 dong mi, karena kita gak tau siapa yang benar-benar bersalah. dan aku yakin bukan Lesya yang lakuin itu mi!"


ucapan Saga membuat Liyora menjadi kesal. ia teelihat sangat ingin memaki Lesya, namun sekali lagi ia harus berpura-pura sabar dihadapan nyinya Darmawan.


"maaf tante, aku ngerasa di rendahin banget disini. coba tante bayangin, mana ada orang yang melukai dirinya sendiri kan tante?" mendemgar ucapan Liyora, nyonya Darmawan merasa kasihan. ia lalu mendekati Liyora dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"kamu jangan bilang seperti itu Liyora, disini belum ada yang memastikan siapalun yang salahkan?"


"kalo memang sepeeti itu, harusnya tante setuju dengan saram aku tadi kan?"


nyonya Darmawan terlihat memikirkan sesuatu. namun setelah bebarapa saat, ia kembali menatap Lesya dan Saga. "ada satu cara kalo kalian mau yakinin mami!"


"Lesya pasti lakuin apa aja, asal mami percaya kalo bukan Lesya yang ngelakuin itu mi."


"mami akan mencabut semua fasilitas untuk Saga. mami mau kamu tinggal berdua dengan Saga, tanpa mengandalkan uang dari orang tua."


"tapi mi, itu gak masuk akal kan mi? ini gak ada hubungannya sama itu, kenapa mami malah cabut semua fasilitas Saga?" protes Saga.


"Lesya mau kok mi" potong Lesya.


"tapi ada satu lagi yang belum dikatakan sama tante" sahut Liyora.


Kini Saga dan Lesya kembali menatap nyonya Darmawan "mami mau Lesya keluar dari rumah Guntara dan dari pekerjaan. mami akan kasih uang saku untuk kalian cari tempat tinggal, dan disitu kalian akan merasakan seperti apa kehidupan rumah tangga yang sebenarnya tanpa bantuan dari orang tua kalian"


"mami bener-bener kemakan sama omongannya Liyora! Saga gak pa-pa kok mi kalo fasilitas Saga semua di cabut, tapi perusahaan gak bisa tanpa gak ada Lesya mi!"


'apa yang dikatakan Saga benar, bagaimana sama perusaan Lesya? apa aku urungkan saja permintaan yang ini?' nyonua Darmawan ragu dengan ucapannya, namun sekali lagi Liyorarlarangnya untuk melunak.


"tante, ini satu-satunya cara buat tau kalo Lesya beneran tulus kan tante? emang tante gak mau tau, kalo mereka gak punya apa-apa? apa Lesya masih setia sama Saga? aku mau yang terbaik buat Saga tante!"bisik Liyora


"tapi ini gak ada sangkut pautnya sama tuduhan itu mi! Lesya jelas-jelas gak salah"


"mungkin itu memang gak ada hubungannya, tapi ini yang mami mau!"


"Lesya setuju kok mi, Lesya akan hidup sederhana sama Saga dan memulai semuanya dari awal!"


Saga menatap nanar istrinya dan menggenggam erat tangan Lesya


'reseh banget si ni cewek tua! pakek setuju segala. padahal gue nyuruh tante kaya gitu kan biar Lesya nyerah. terua kalo kaya gini caranya Saga beneran kere dong?'


.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2