It'S Perfect

It'S Perfect
Rupa Yang Bagus Tidak Sama Dengan Sifatnya


__ADS_3

Dikta dan Alden saling memberi bahasa isyarat lewat mata mereka. saat itu mereka menangkap sesuatu yang berbeda dari Lesya.


"mba Lesya ada apa?" Dikta mendekat karena melihat Lesya yang sedikit lemas.


"Dikta, tolong menjauhlah. biar aku yang memapah istriku."


meskipun saat itu Lesya tengah marah dengan Saga, tapi apa yang dikatakan oleh Saga memang benar. saat ini ia dalam keadaan lemah dan harus di papah oleh suaminya. bahkan Saga langsung mengangkat tubuh istrinya. ia hendak membawa Lesya ke ruangan yang lain, Saga meminta Lesya untuk dirawat karena ia begitu mengkhawatirkan Lesya dan juga kandungannya.


"bawa aku ke ruangan Joonie Saga, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini! "


tanpa memperdulikan ucapan Lesya, Saga tetap meminta Dokter untuk memeriksa keadaan istrinya yang tengah tiba-tiba lemas.


"bagaimana keadaan istri saya Dok? "


"saudari Lesya mengalami syok tuan, jadi dia hanya perlu beristirahat dan jangan terlalu memikirkan sesuatu yang memicu dirinya merasa stres tuan"


"baik dok, terimakasih."


setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, kini Lesya langsung meminta Saga untuk mengantarnya ke ruangan Yoo joon. namun saat itu mendadak Lesya segera turun dari gendongan Saga dan menarik Dita yang tengah duduk di sebelah Yoo joon yang tengah terbaring.


"Lesya, apa yang kamu lakukan? " Dylan terkejut dengan sikap Lesya terhadap Dita.


"bawa Dita keluar dari sini Dylan. Aku tidak ingin dia ada disini!"


"sebenarnya apa yang kamu katakan Lesya?"


"iya sayang, ada apa sebenarnya?" Saga menimpali ucapan Dylan.


Lesya hanya diam dengan menatap dingin Dita, sementara itu Dita terlihat bingung dengan perubahan sikap Lesya terhadapnya.


perlahan Dita mendekat ke arah Lesya.


"ada apa mba Lesya, kenapa mba Lesya larang aku buat nemenin kak Yoo joon?"


Lesya menarik sebelah sudut bibirnya dan menatap Dita dengan tajam. "apa aku harus mengatakan alasannya Dita? baiklah, aku akan mengatakan semuanya."


"mungkin tidak banyak yang tau jika Joonie pernah melamarmu, tapi Joonie mengatakan semuanya padaku Dita,dan kau menolaknya karena alasan adikmu. dan kamu bilang sama Joonie, kamu akan menjalin hubungan dengan seorang pria jika adikmu sudah mendapat donor dan sembuh. bahkan setelah ditolak, Joonie tetap baik dan selalu ada buat kamu. dia terus berusaha mencari donor buat Kenan. tapi apa? sekarang setelah Joonie berhasil mendapatkan donor sampai dia rela harus kembali ke Korea dan menemani perempuan itu hanya untuk donor jantung Kenan, kamu justru mengkhianatinya Dita! aku benar-benar tidak ingin Joonie mencintai gadis sepertimu! "


Setelah Lesya mengatakan semuanya, Dita sadar bahwa selama ini ia begitu menyakiti perasaan Yoo joon. tetapi tidak semuanya yang dikatakan Lesya benar, melainkan Lesya tidak tau jika Dita tidak pernah mengkhianatinya sama sekali.


"aku bisa jelasin mba, ada satu yang mba Lesya salah paham!"


"benarkah? apa aku harus mendengar semua salah paham, atau kebenaran yang di jadikan salah paham? " ucapan Lesya saat itu tidak hanya ia tujukan kepada Dita, melainkan ia juga melirik ke arah Saga yang ada di sampingnya.


ditengah suasana yang semakin menegang, Alden berusaha menenangkan semua dengan membawa beberapa air mineral, dan orang pertama yang ia berikan air adalah Lesya.


"Mba Lesya, minumlah. ini supaya kau lebih tenang juga bagus untuk kandunganmu."

__ADS_1


Dengan rahang yang mengeras Lesya menahan amarah yang ada di dalam hatinya. ia berusaha untuk tidak marah-marah, karena hal itu tidak baik untuk kesehatan janin dan juga akan menganggu Yoo joon yang saat ini terbaring koma.


"aku tidak memerlukannya, kau kalian bisa pergi dari sini. aku akan menjaga sahabatku dengan baik! "


"Lesya, apa yang sudah kau katakan. kami juga akan menjaganya bersama denganmu!" sahut Dylan.


"untuk apa Dylan, kau hanya perlu menjaga adik perempuan itu. kau tidak perlu menjaga sahabatku. aku mohon kalian semua meninggalkan ruangan ini" kali ini Lesya menyatukan kedua tangannya memohon untuk semuanya agar pergi dari ruangan dimana Yoo joon dirawat.


"nggak bisa mba Lesya, aku juga ingin menjaga kak Yoo joon. aku berhak menjaganya karena akulah perempuan yang kak Yoo joon cinta"


"seseorang yang tidak bisa bertahan dengan satu cinta, dia tidak berhak mengatakan tentang gak seseorang yang dicintai terhadap pasangannya" pungkas Lesya.


Seketika Dita terdiam, dan perlahan ia memundurkan langkahnya dan berlari keluar. Dan hal itu membuat Dylan tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Lesya.


dan perlahan semua menyusul keluar dan hanya tersisa Saga yang menemani Lesya bersaman Yoo joon.


Tubuhnya merosot, wajahnya tertunduk di depan ruangan Kenan. Dita menangis tanpa bersuara. perlahan tangan besar mengusap wajahnya yang sudah dibasahi dengan linangan air mata yang sudah menganak sungai.


Kedua tangan Dylan menangkup wajah Dita. Mata satu dengan tatapan sedih menghiasi wajah Dita saat ini.


"salah aku apa kak?aku cuman pengen fokus sama kesembuhan Kenan, aku gak bermaksud buat nyakitin kak Yoo joon".


" sudah tenanglah, aku yakin Lesya seperti itu karena dia cemas dengan keadaan Yoo joon saat ini Dita."


"atau mungkin mba Lesya tau kalau kita tunangan Dit?"


"tapi bahkan kita belum mengatakannya kan?" Kini Dikta yang engkau bicara.


_


Via berdiri menunggu taksi yang lewat, karena sudah sangat larut Via tidak menemukan kendaraan umum yang melintas. hingga akhirnya Via memesan sebuah taksi online.


cukup lama Via menunggu di tepi jalan, namun taksi yang ia pesan tak kunjung datang.


ting


"ssshhh sial" Via berdecak kesal setelah melihat layar ponselnya yang baru saja ia nyalakan.


"harusnya gue tadi mau di anterin sama pak Doni. dan sekarang? gue gak dapet taksi, mana Andi udah pulang dualan. huh mau tidak mau aku harus berjalan kaki kan"


Sementara itu Andi yang sudah berada di rumahnya terus melihat ke arah pintu sembari memainkan ponsel ditangannya.


"sebenarnya pak Doni ngajakin Via kamana si, sampek jam segini kok belum pulang. harusnya Via udah sampe lima belas menit yang lalu kan? "


"lebih baik gue telfon Via" jarinya terhenyi ketika melihat gagang telefon, "nggak.. nggak, bisa-bisa nanti Via ngeenggep gue cemburu lagi" pungkasnya


"biar gue tunggu di sofa, kalo sampek sepuluh menit lagi dia belum nyampek, gue bakal kasih pelajaran sama Via karena udah pacaran dan lupa waktu" Andi terus menggerutu karena Via yang tak kunjung datang.

__ADS_1


Dan saat ini Via berkeringat dingin dengan jantung yang tidak stabil. ia melihat beberapa laki-laki datang memghampirinya.


"cantik, sendiri aja ni"


"jangan deket-deket"


"galak" ucap datar laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah tampan. namun sayangnya rupanya yang bagus tidak sama dengan sifatnya.


"kalian semua bawa dia ke markas"


"to... hmmmpp"


seseorang menutup mulut Via sebelum Via berteriak.


prank


"huh, ada apa sama gue. bisa-bisanya gue meleng dan bikin gelas gue jatoh" Andi bergidik karena kecerobohannya.


ting


sebuah notifikasi berdenting. dan ketika Andi membaca pesan di ponselnya, sontak hal itu membuat Andi membulatkan matanya.


𝙈𝙖𝙖𝙛 𝘼𝙣𝙙𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙢𝙪. 𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙑𝙞𝙖? 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙖 𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩. 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖. 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙞𝙩𝙪~ 𝘿𝙤𝙣𝙞


"kalau Via tidak bersama dengan pak Doni, lalu dia dengan siapa? dan ini sudah hampir tengah malam, via belum pulang"


𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙖𝙠 𝘿𝙤𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞𝙣𝙮𝙖. ~𝘼𝙣𝙙𝙞


𝘽𝙖𝙞𝙠𝙡𝙖𝙝, 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙩𝙪𝙥𝙞𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝, 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙪 𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙥𝙖 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙑𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜? ~𝘿𝙤𝙣𝙞


Andi begitu terkejut dengan apa yang diletakkan oleh Doni terhadapnya.


𝙎𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙖𝙠 𝘿𝙤𝙣𝙞? 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙑𝙞𝙖~𝘼𝙣𝙙𝙞


𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙞𝙣𝙘𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙥𝙞 𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙞𝙩𝙪. 𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙠𝙖𝙞 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙑𝙞𝙖. 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣. 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙠𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙞𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙨𝙖𝙝~𝘿𝙤𝙣𝙞


"jadi benar dugaanku, pak Doni memang menyukai Via."


𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙣𝙤𝙣𝙖 𝙑𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝𝙢𝙪? ~𝘿𝙤𝙣𝙞


membaca pesan terakhir dari Doni, seketika Andi menjadi cemas. ia segera meraih kunci mobilnya dan bergegas untuk mencari Via.


"kalo bukan sama pak Doni, lo sama siapa Via? "


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2