It'S Perfect

It'S Perfect
Gelas Pecah


__ADS_3

Friska terbangun dari tidur lelapnya. disetiap ia terlelap, tidak ada malam yang paling nyaman seperti malam yang ia lewati malam ini.


"setidaknya untuk malam ini aku bisa tidur nyaman dan aman" Friska membuang nafas kasar.


Friska lalu bergegas untuk keluar kamar VVIP yang semalam ia guanakan untuk tidur tanpa harus melakukan apapun yang biasa pekerja seperti dirinya harus lakukan. jujur saja ini adalah keberuntungan yang entah akan ia dapatkan kembali atau tidak.


namun apa yang ia temukan ketika membuka pintu, ia mendapati Dylan bersama dengan seseorang yang biasa di panggil Madam.


"Friska, hari ini kamu saya pecat. aku tidak ingin memperkerjakan gadis sepertimu!"


ucap Madam dan berlalu pergi.


Friska menatap Dylan sekilas kemudian mengejar seseorang yang disebut Madam. "madam, tolong jangan pecat aku. aku tau semalam aku tidak melayaninya, tapi aku butuh pekerjaan madam!"


"apa? jadi semalam kamu tidak melayaninya? lalu kenapa dia bersikeras untuk mengeluarkanmu dari sini? kukira dia sangat menginginkanmu dan tidak ingin melihatmu dengan pria lain?"


Orang yang disebut madam menatap Friska dengan tatapan yang sulit diartikan. "tapi ya sudahlah, aku tidak ingin bermasalah dengan pihak yang berwajib. kau bisa ikut dengannya."


"sudahlah, kamu tidak cocok bekerja disini! masa depan kamu masih panjang!"


"kak Dylan kenapa si ikut campur, gara-gara kakak aku kehilangan kerjaan!" Friska memekik dan berlari meninggalkan Dylan yang masih mematung.


"tunggu Friska.." Dylan ingin menghentikan Friska, namun ponselnya yang lebih dulu berdering membuatnya mengurungkan niatannya untuk mengejar Friska.


"baik, aku akan datang. tolong handle sebelum aku sampai!"


-


nafas Friska terengah karena lari dari tempat itu. ketika ia sampai di depan rumahnya, ia sudah ditunggu oleh orang-orang yang waktu itu mengancamnya. netranya membulat ketika melihat semua barang pribadinya sudah berserakan di halaman rumahnya.


"kalian kenapa buang barang-barangku? aku sudah katakan aku akan membayar semuanya!"


salah satu dari mereka berjalan menghitari tubuh mungil Friska dengan salah satu sudut bibur yang terangkat. "jangan bermimpi kamu bisa melunasi hutang ibumu! lebih baik sekarang angkat kaki dari sini, atau kami akan melakukanya dengan kekerasan supaya kau pergi dari rumah ini!" ancam orang tersebut.


"smpai kapanpun aku tidak akan pergi dari rumah ini!" nyalang mata Friska seakan tidak memiliki rasa takut, berbeda dari sebelumnya yang begitu ketakutan, justri saat ini Friska sangat berani.

__ADS_1


"pergi atau kau ku puk*l"


"tidak akan!" tegas Friska.


plak


telapak tangan yang begitu besar mendarat tepat di wajah mungil Friska. dan meninggalkan bekas yang memerah, dengan sudut bibir mengalir darah segar.


"walaupun kalian menghaj*rku, aku tidak akan pergi!"


ucapan Friska bagai bumerang untuk dirinya sendiri. tanpa merasa ragu orang-orang itu bergantian mem*kuli Friska hingga terkapar.


saat itu banyak warga yang ingin membantu, namun karena ancaman dari anak buah rentenir itu, tidak seorang pun yang berani.


dan tidak cukup dengan memuk*li Friska, orang-orang itu melempar Friska bersama dengan koper miliknya dipinggir jalan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.


Di sisi lain saat ini Lesya baru saja tiba dari luar negeri. namun ketika ia sampai di kediaman Darmawan, ia tidak mendapati siapapun berada di rumah.


"kemana mereka semua?" Lesya lalu memilih untuk mencari salah satu asisten rumah tangga. "emm bi, dimana semuanya?"


"itu non, nyonya sama tuan masih di rumah den Saka. kalo den Saga kayaknya keluar, mungkin sebentar lagi pulang non!"


" makasih ya non, non Lesya baik banget. sampe orang bawah kaya kita-kita masih di kasih oleh-oleh!"


"bi, bibi gak boleh ya ngomong kaya gitu. di mata tuhan kita semua sama bi"


"baik non, kalau begitu saya permisi" Lesyapun hanya mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajah ayunya.


setelah berbicara dengan asisten rumah tangganya, Lesya ingin bergegas kekamarnya. namun kedatangan Saga membuat Lesya menghentikan langkah kakinya.


Lesya berbalik dengan senyum manisnya untuk menyambut Saga, namun sketika senyum itu pudar ketika Saga datang dengan membawa Liyora kerumahnya.


"eh udah pulang mba?" sapa Saga yang tidak merasa canggung sedikitpun dengan tangan yang terus menggandeng Liyora dihadapan Lesya.


"kamu, kenapa kamu bawa dia kesini Saga? bukankah kamu tau kamu su-"

__ADS_1


..."ya, gue emang udah nikah sama lu! tapi bukan karena cinta. dan gua berhak buat milih cinta gua, dan orang itu Liyora bukan mba Lesya!" potong Saga....


"permisi, cewe gua capek dia mau duduk. jadi tolong mba Lesya minggir, jangan menuhin jalan!" Saga dan Liyora melewati Lesya begitu saja tanpa merasa rikuh sedikitpun.


melihat apa yang dilakukan Saga membuat hati Lesya merasa sakit, namun Lesya berusaha untuk menahannya. ia merasa akan membuat Saga tidak baik, jika saja dirinya tidak dapat menahan amarahnya.


akhirnya Lesya pun kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi kekamarnya, namun Saga menghentikannya. "eh mba Lesya, tolong kalo lu udah taro tu koper, lu bikinin minum buat cewe gua ya mba!"


"oh iya kalo bisa yang dingin ya mba!" sambung Liyora menimpali ucapan Saga.


Lesya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "oke nanti aku buatin"


Lesya kini sudah didalam kamarnya, begitu berat apa yang harus ia hadapi saat ini. seseorang yang begitu ia cintai, membawa pulang gadis lain dengan status kekasih.


"mba mana minumannya" Saga berteriak hingga salah satu Artnya menghampiri dirinya dengan Lesya.


"den biar saya yang buatkan ya, non Lesya pasti lelah baru pulang dari luar negeri den!"


"bi, mending bibi kerjain yang lain okey? bibi gak mau kan kalo sampek harus berhenti kerja?"


"b-baik den"


itulah sayup-sayup suara yang terdengar dari dalam kamar Lesya. ingin rasanya Lesya mengusir Liyora dari rumah itu, namun dia tidak ingin gegabah yang akan berdamoak buruk lada kesehatan suaminya.


akhirnya Lesya memutuskan untuk segera membawakan minuman untjk Saga dan juga Liyora. namun apa yang ia lihat ketika ingin memberikan minuman kepada Saga.


pyar


bukan hanya gelas yang pecah, kini hatinya pun ikut hancur karena melihat suaminya menci*m perempuan lain tepat dihadapannya sendiri. bahkan Saga tidak bergeming ketika mendengar gelas pecah, ia justru menatap Lesya dengan tatapan mengejek.


alhasil, Lesya segera pergi dari hadapan Saga dan juga Liyora. 'huh, lu pikir cuma lu yang bisa mesra. kali ini gua balas lu lebih dari yang lu lakuin sama cowo itu. lu berani peluk dia, gua juga bisa lebih dari itu. dan asal lu tau, gua lakuin ini bukan karena gua cemburu! tapi gua cuman mau kasih pelajaran buat perempuan kaya lu!'


.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2