
Via dan Doni tengah sampai ditempat tujuan mereka. Seperti biasa yang mereka lakukan untuk memeriksa seperti apa kinerja dari orang-orang yang sedang menggarap projek mereka.
Tidak terasa waktu sudah semakin sore. Namun karena mereka harus memeriksa sekali lagi, Via dan Doni memutuskan untuk melihat material bangunan apakah sudah sesuai atau justru butuh yang harus ditambahkan, sehingga keduanya saat ini masuk kedalam gudang penyimpanan bahan mayerial bangunan.
Derr
Mendadak cuaca berubah begitu saja. Hujan mengguyur dengan sangat lebat. Karena mobil Doni yang terparkir jauh dsri gudang, terpaksa Via dan Doni harus menunggu hujan reda untuk pulang.
'Gue harus ngabatin Andi kalo gue bakal pulang telat. Disini ujannya lebet, mungkin saja Andi bakalan khawatir kalo gue gak ngasih tau Andi.'
Pyar
Ponsel Via terlampar cukup jauh karena Doni merebut dan membuangnya. Via yang mendapat perlakuan seperti itu hendak memaki Doni.
"Pak Doni kau-"
Dar
Seketika ponsel Via meledak karena tersambar petir. Kejadian itupun membuat keduanya terperangah melihat ponsel milik Via hancur terbakar.
"Kau tidak papa Via?" Doni memastikan Via baik-baik saja dan menariknya mendekat kearahnya.
"Ah iya pak Do...ni a..aku baik" masih dengan suara terbata, Via masih velum percaya bahwa ada petir yang menyambar ponselnya.
"Ingat ini Via, jika kamu berada diruangan dimana tidak ada penangkal petir, jangan sekali-kali bermain dengan ponselnmu. Atau kejadiannya akan lebih parah dari ini! Dan lebih baik jika cuaca sedang ekstrim seperti ini lebih baik matikan saja ponselmu, atau radarnya bisa menarik petir dan mengenai ponselmu bahkan sesuatu yang didekatnya termasuk dirimu!"
Via hanya bisa mengangguki ucapan Doni dengan raut wajah takutnya.
Saat itu Doni melihat arlojinya dimana hujan sudah turun lebih dari empat jam dengan tingkat deras yang semakin bertambah. Suhu ruangan pun semakin dingin, ia melihat Via yang kedinginan segera melepas jasnya dan memakaikannya kepada Via.
"Tidak perlu pak Doni, anda juga membutuhkannya."
"Sudah pakailah, aku tau kau kedinginan"
Karena Doni memaksa, akhirnya Via tetap mengenakam jas milik Doni. Keduanya duduk disudut ruangan yang tidak terlalu jauh.
Selain udaranya yang dingin, Via juga mulai merasa takut karena gelap. Doni yang sadar akan hal itu segera mebdekat ke arah Via.
Ia merengkuh pundak Via, dan Via seketika terjingkat.
"Maaf Via, aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku tau kau saat ini sedang takut"
Ingin rasanya Via berontak, namun bulu kudunya meremang.
__ADS_1
Akhirnya Via memilih untuk diam dan memejamkan matanya agar tidak melihat sesuatu yang menakutkan baginya.
'Saat ketakutan seperti ini kau terlihat sangat menggemaskan Via. Entah kenapa baru kali ini aku merasa benar-benar ingin mengenal seorang gadis lebih dalam' Doni diam-diam mengukir senyuman diwajahnya dan memandangi tiap inci wajah Via yang tengah ketakutan karena gelap.
Sementara itu Andi yang sudah berada dirumahnya terus menghubungi Via, namun tidak sekalipun yang tersambung dengan nomor Via. Andi bahkan menghubungi nomor Doni, namun hasilnya pun sama.
"Argghhh Via, kenapa nomornya gak aktif? Ini udah jam sembilan tapi dia belum balik!"
"Sebenarnya lo ninjau di lahan yang mana si Vi sampek jam segini belum balik!" Andi terus berkomat kamit dan berdecak kesal karena telfonnya yang tak kunjung tersambung dengan Via.
_
Lesya masih tidak percaya jika Alden dan Dikta memiliki hubungan. Hingha saat ia berada dirumah pun, Lesya yerus memikirkannya.
Ceklek
"Lesya.." Saga lalu memeluk istrinya yang saat ini terduduk disofa kamarnya.
"Aku mencarimu sejak tadi sayang, kau kemana saja? Dan ada apa kau mendadak menghilang dan meninggalkan aku dan juga tasmu di dalam kafe"
Lesya menatap suaminya dengan tatapan dalam, ingin sekali ia memberi tahu Saga te tang kedua sahabatnya. Tetapi mengingat Dikta dan Alden memintanya untuk merahasiakan lebih dulu, Lesya tidak bisa memberitau Saga saat ini.
"Hei ada apa.. apa kau sakit sayang?"
_Flashback On
Lesya terduduk di ranjang sembari memegangi perutnya yang masih sedikit kram. Disana selain terkejut, Lesya juga menahan rasa samit diperutnya.
"Sejak kapan kalian memiliki hubungan ini?"
Dikta duduk di hadapan Lesya dan menatap Lesya. Ia menarik nafasnya dalam.
"Awalnya aku tidak menyadari perasaan ini mba Lesya. Tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa aku merasa tidak senang jika Alden dekat dengan orang lain dalam tanda kutip. Dan aku juga tidak tau kenapa jantungku berdegup lebih kencang ketika aku berdekatan dengannya."
Dikta lalu melirik ke arah Alden yang masih berdiri. "Dan aku sadar kalau aku memiliki perasaan untuk Alden, setelah aku mendengar ucapan Alden saat mabuk yang ternyata dia juga merasakan hal yang sama denganku"
Lesya membuang nafasnya kasar. Ia meraup wajahnya dan kembali melihat Dimta dan Alden bergantian.
"Mungkin aku tidak berhak mengatakan ini karena aku tau cinta itu tidak bisa memilih kemana dia akan berlabuh. Tapi apa kalian sadar dengan yang kalian lakukan saat ini?" Lesya kembali menatap lekat keduanya.
"Yang aku tau Alden sudah bertunangan, tapi kenapa kalian menjalin hubungan jika salah satu dsri kalian sudah bertunangan hmm? Ingat Alden, tidak ada orang tua yang ingin anaknya terluka. Jika tidak, katakan tidak. Jangan memberi hubungan palsu yang akan membuat luka banyak pihak!"
"Kami tau apa yang kami lakukan ini tidak benar, tapi kami akan mengatakan yang sebenarnya setelah kami mendapat waktu yang tepat mba Lesya."tutur Dikta.
__ADS_1
"Dan jujur saja, aku mungkin sering menjalin hubungan dengan banyak wanita. Tapi baru kali ini aku merasakan sakit yang benar-benar sakit ketika orang itu tidak perduli. Dan aku yakin cinta kami tulus mba Lesya." Alden pun menimpali ucapan Dikta meyakinkan Lesya.
"Jadi kami mohon biar kami yang mengetakannya kepada keluarga dan teman-teman kami mba!" Pinta Alden.
"Baiklah! Sebenarnya aku tidak membenarkan hubungan kalian. Tapi aku serahkan semuanya sama kalian yang menjalani."
_Flashback Off
"Lesya sayang.." suara Saga membuyarkan lamunan Lesya dan kembali dengan kesadarannya.
"Apa kau sakit? Dan kenapa tadi kau tiba-tiba pergi hingga melupakan aku dan juga tasmu ini hmm?"
"Aku tadi melihat sepupu Arga yang mempermalukanku waktu itu Saga. Dan ketika mengejarnya, perutku mengalami kram."
Seketika Saga memeriksa perut Lesya dengan mengusap lembut perut Lesya. Ia lalu mencium perut Lesya beberapa kali hingga membuat Lesya tertawa geli.
"Saga hentikan, geli saga.."
Saat itu Saga justru semakin usil hingga ia mengekang Lesya diatas Sofa.
Perlahan tangannya membelai wajah Lesya dengan lembut
"Kenapa istriku ini sangat cantik hemm?"
"Saga.."
Tanpa mereka sadari ada dua orang yang memperhatikan mereka berdua dari balik pintu yang tidak tertutup.
Karena takut diketahui keberadaanya, Saka segera mengajak Liyora untuk pergi kelantai dasar.
"Aku tidak terima Saga dan Lesya seperti itu kak Saka. Lebih baik kita buat rencana baru buat misahin mereka." Liyora terus menggerutu.
"Aku sudah memiliki rencana yang aku yakin ini akan berhasil Liyora!"
"Benarkah"
Saka lalu membisikkan sesuatu, seketika Liyora tersenyum licik ketika mendengar rencana dari Saka yang menuritnya juga akan berhasil.
.
.bersambung
.
__ADS_1