
Brankar di dorong oleh suster dan beberapa orang yang membawa Dylan ke rumah sakit. Suasana menjadi hening ketika Dylan ditangani oleh dokter di dalam ruangan.
Lesya yang tengah menggendong Elgara terlihat sangat cemas. mulutnya tidak berhenti berdoa untuk keselamatan Dylan. Karena melihat Lesya yang lemah, saat itu Saga berganti untuk menggendong Elgara.
Setelah beberapa menit, Dokter kuar dari ruangan dan mengatakan jika Dylan sudah lewati masa kritisnya. dan saat ini Dylan masih belum boleh di jenguk untuk alasan agar dapat beristirahat dan segera pulih.
"sayang, pulanglah bersama suamimu. Elgara butuh tempat yang pantas untuk anak sekecil dia. biar mama sama papa yang menunggu Dylan disini, dan besok kami bisa kembali"
"sebenarnya Lesya tidak tega melihat kalian yang harus menunggu Dylan disini. tapi Lesya sadar, Elgara juga butuh tempat untuk beristirahat. jadi mama dan papa harus jaga kesehatan ya, kalau ada sesuatu jangan lupa hubungi Lesya dan Saga"
Setelah mengatakan hal itu, Lesya dan Saga beranjak pergi.
Ketika Lesya hendak meninggalkan rumah sakit, pandangan Saga menangkap sosok yang sangat ia kenal. Terlihat jelas jika orang itu sangat gelisah didepan salah satu ruangan rumah sakit.
Awalnya Saga masih ragu dan masih terus berjalan bersama dengan Lesya yang tengah menggendong Elgara. namun saat itu pikirannya tidak tenang dan memutuskan sedikit mundur dan melihat degan teliti.
Terduduk sendirian di bangku tunggu dengan kaki dihentak-hentakkan ke lantai. Saga sangat paham, jika gerakan itu adalah ketika orang itu merasa cemas dan ingin segera mengetahui sesuatu dengan kekhawatiran yang sangat besar didalam hati dan pikirannya.
"sayang, itu Alden" Saga menunjuk ke arah orang yang ia lihat.
Ekor mata Lesya mengikuti arah jari telunjuk Saga, saat itu ia tau jika itu memang benar Alden. Dengan segera keduanya berjalan menuju Alden yang sangat gelisah.
Sebelum Saga dan Lesya sampai, seseorang datang menghampiri Alden dengan membawakannya minuman.
"Minumlah Saga, kau sedang tidak sehat. Dan kenapa kau menunggu didepan sini? "
Alden mendongak dan meraih sebotol air dari orang yang menghampirinya. Di teguknya perlahan dan menaruh botol itu.
"Istirahatlah, aku yang akan menunggunya untukmu"
Ketika Lesya dan Saga semakin dekat, Saga tiba-tiba menghentikan langkah Lesya.
Alis Lesya berkerut, ia tidak tau kenapa suaminya menahannya untuk menemui Alden.
"Arga bukanlah orang sebaik itu Lesya. apa lagi jika itu berhubungan denganku, dan Alden adalah temanku. Tapi, kenapa kali ini dia baik dengan Alden?"
__ADS_1
Jika di pikirkan kemabli, ucapan Saga tidak ada yang salah. Arga adalah orang yang sangat perhitungan. Ia akan baik kepada seseorang jika ia menganggap orang itu sepadan dengannya.
"Penyakitmu sudah parah, jangan menghabiskan malam di luar. Itu akan buruk untukmu"
Sayup-sayup suara Arga terdengar. Ketika Arga menyebutkan penyakit parah, Saga dan Lesya saling beradu pandang. Kecemasan terlihat jelas di wajah Saga.
Lesya memahami semua itu, mungkin saja apa yang dirasakan Saga saat ini sama dengan dirinya ketika melihat Dylan yang terluka.
"Sebaiknya kita tanyakan langsung Saga"
"Kamu benar sayang"
Saga dan Lesyaenghamoiri Alden yang tengah duduk bersama dengan Arga. Keduanya terkejut, kenapa bisa seluruh ini Lesya dan Saga ada di rumah sakit tersebut.
"Saga, lo di rumah sakit. Siapa yang sakit Ga? " Tanya Alden.
"Seharusnya kita yang bertanya tentang itu Alden. bilang sama gue, lo sakit apa? "
Perasaan Alden terhenyak ketika mendengar pertanyaan itu dari Saga. "Apa maksud lo Ga? Gue disini nungguin Dita, tadi dia pendarahan" Jelasnya dengan suara sedikit terbata.
"Kita udah temenan lama banget Al, lo nggak bisa bohong sama gue!"
"Tuan Arga" Alden bangkit dan menatap Arga dengan tatapan marah.
Ia tidak menyangka jika Arga memberitahukan kondisinya saat ini didepan Saga dan Lesya. Saat itu pikiran Alden hanya tertuju kepada Dikta.
Wajah Saga dan Lesya berubah pucat dan cemas menjadi satu. Benar-benar suatu kabar yang tidak pernah di duga oleh Saga dan Lesya. Seorang Alden yang sangat menjaga makannya dan selalu olahraga bisa terserang penyakit seperti itu.
"Apa Dikta tau soal ini Al? "
"Dia tidak memberitahu siapapun, hanya aku Andi dan istrinya yang tau. Itupun karena aku dan Andi yang membawanya karena pingsan."
"Apa? "
"Alden, apa kamu menganggap kami tidak pantas mengetahui keadaan orang terdekat kami? "
__ADS_1
Terlihat emosional, ya. Karena memang wanita semua seperti ini. Terlebih Lesya sudah menganggap Alden adalah adiknya, meskipun Alden sempat menyukainya.
"Bukan, bukan seperti itu mba Lesya. Aku hanya tidak ingin membebani kalian dengan semua ini. Masalah kalian sudah sangat banyak, mana mungkin akubtega menambahkan dengan ini"
Wajahnya tertunduk lesu, kesedihan terlihat jelas. Dan saat itu Saga menyuruh Arga untuk pulang. Ia mengatakan jika ini adalah tugasnya. Alden baginya seperti saudara, jadi saudaranya lah yang akan menjaganya dengan penuh tanggung jawab.
"Baiklah Saga, jagalah mereka dan juga Dolanan akan segera pulang dengan Elgara. Lihatlah wajahnya terlihat sangat letih" Ucap Lesya sembari membelai wajah Elgara lembut.
"Tunggu, memang ada apa dengan Dylan. Bukannya tadi dia masih baik-baik saja. Tadi dia bersama Andi dari rumah sakit ini" Sahut Arga yang masih berdada di dekat mereka.
"Memang dia awalnya dia baik-baik saja. Namun karena menolong Elgara dari Zora, Dylan harus jatuh dari tangga dan mengalami kecelakaan itu" Jelas Saga.
"Astaga"
Akhirnya Arga segera kembali ke rumahnya. Ketika ia memasuki rumahnya, seseorang sudah menunggunya. Ya, siapaa lagi jika bukan Sharena.
"Kenapa kamu sangat malam pulangnya bang? Apa karena Rea? " Tanya Sharena dengan suara menyindir
Arga tidak langsung menjawabnya. Ia memilih untuk bergegas ke dalam kamarnya dan membersihkan diri karena merasa badannya yang lengket.
Usai dengan ritual Mandi, Arga kembali keluar dan duduk disebelah Sharena yang tengah menyaksikan acara televisi.
"Oh ya, bagaimana keadaan Dita ban apa dia keguguran? "
"Ketika aku pulang, dia masih di tangani. Tapi tadi aku bertemu dengan Saga dan Lesya disana"
Sharena menautkan kedua alisnya. Apa Alden memberitahu mereka sehingga membuat Saga dan Lesya datang. Itulah dipikirkan oleh Sharena.
"Tadi mereka kesana untuk membawa Dylan"
"Apa? Dylan? Ada apa dengan Dylan bang Arga? "
"Dia jatuh dari tangga ketika menyelamatkan Elgara dari seorang yang sangatlah menyukai Saga"
Tangan Sharena mengepa, Dadanya bergemuruh. 'Lagi-lagi gara-gara Lesya. Kenapa semuanya selalu mengandalkan Dylan? Lihat saja, jika aku sudah menikah dengan Dylan, aku tidak akan membiarkannya kalian menganggu dan mengandalkan Dylan'
__ADS_1
.
. Bersambung