It'S Perfect

It'S Perfect
Gila Uang


__ADS_3

Kedua bola mata Arga membulat ketika melihat kondisi sepupunya yang ternyata baik-baik saja setelah berteriak sangat keras.


Seolah emosinya di permainkan, Arga pergi dan membanting pintu kamar Sharena.


"Ish, kenapa tu orang tau-tau buka pintu kamar gue eh malah pergi gitu aja. Mana pakek banging pintu segala" Rasanya setelah mendaoati Arga yang pergi dari depan pintu kamarnya.


Sementara itu, Arga yang awalnya merasa kesal karena mendengar cerita dari Doni. Sekarang ia harus kesal karena sepupunya.


"Apa-apaan Sharena. Dia teriak sekenceng itu cuma karna idolanya bakal datang ke Indonesia buat konser. Benar-benar menyebalkan" Arga mendengus kesal dan kembali ke kamarnya.


Keesokan harinya, Arga bangun lebih awal. Dengan setelan jas nya yang sudah rapi, ia melakukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Arga tengah sampai di kediaman Via.


Dimana pagi itu Via keluar dari dalam rumahnya juga sudah memakai pakaian tapi untuk pergi ke kantor.


"Jadi ini tanggung jawab seorang ibu" Ucapan Arga yang baru keluar dari dalam mobil berhasil menghentikan langkah kaki Via yang saat itu hendak menaiki sepeda motor matic untuk alat transportasinya menuju kantor milik Lesya.


Kedua netra Via menelisik seseorang yang baru saja datang. Ya, suara itu sudah tidak asing baginya.


"Memang apa yang salah dengan tanggung jawabku tuan Arga?”


"Kau masih bertanya? Apa kau hanya mengejar uang dan meninggalkan anakmu yang sedang sakit"


Mendengar hal itu dari mulut Arga berhasil membuat Via terkekeh. Namun kekehan itu pun hanya beberapa detik dan kini Via justru terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana tuan? Apa aku harus menjalani anakku untuk mengemis"


"Apa? " Arga terkejut mendengar pernyataan itu dari Via.


"Apa kau pikir didunia ini semua gratis tuan Arga? Huh, mungkin saja dimatamu aku ini orang yang gila dengan uang. Oh iya, mungkin memang benar aku gila uang. Tapi bukan tanpa alasan"


Via berjalan dan memberanikan diri menatap Arga dengan tegas. "Aku gila uang untuk masa depan pitriku. Aku ingin kelak saat dia besar, tidak akan ada yang mempertanyakan harga dirinya. Karena semua pertanyaan-pertanyaan yang merendahkan, itu hanya untuk orang miskin sepertiku. Tapi tidak untuk anakku di masa depan"


Dengan kesal Via melajukan motor yang ia naiki meninggalkan Arga yang mematung di depan rumahnya.


_


"Dikta, bangunlah. Kau harus membersihkan dirimu" Suara lembut dari Lesya berhasil membuat Dikta terbangun.


Dikatain yang sudah bangun, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa ia tertidur cukup lama.


"Ini semua salah lo Dita. Kenapa lo tinggalin Alden sampek Alden jatuh dan harus di operasi?" Suara Dikta berhasil membuat Dita terjingkat.


"Ahh.. Ssshhhh.. "


Bukan menimpali bentakan dari Dikta, saat itu Dita kembali memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Dikta, apa yang kamu lakukan? Dita itu sedang hamil. Tapi kamu malah membuatnya terkejut"

__ADS_1


Lesya yang saat itu melihat Dita kesakitan segera memanggil seorang perawat untuk merawat Dita. Dan lagi-lagi Dita kembali ditangani eh dokter yang bertugas.


Setelah mengantarkan Dita,Lesya kembali ke ruangan Alden dan melihat Dikta yang masih menunggui Alden.


Meskipun saat itu Dijta hanya diam, tetapi Lesya tau jika saat ini Dikta merasa bersalah karena membuat Dita menjadi seperti tadi.


"Amarah tidak akan baik, Dikta. Aku harap kamu lain ki bisa lebih mengontrolnya, seperti Dikta yang aku kenal dulu. Dia selalu bijak ketika lakukan apapun."


Lesya meraih tasnya yang ada di atas meja. Lesya bersiap untuk pergi ke kantor. Lesya memang sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk ke kantor. Namun ia menyempatkan untuk menengok keadaan Alden karena Saga tidak bisa menjenguknya alasan pekerjaan.


"Baiklah Dikta, aku akan ke kantor. Dan ini sudah dibawakan sarapan untukmu dan juga Dita."


Lesya beranjak hendak memutar handle pintu ruangan tersebut.


"Maaf" Langkah kakinya terhenti ketika Dikta meminta maaf.


"Maafkan aku mba Lesya, maaf karena aku tdi-"


"Minta maaflah dengan orang yang kau buat terkejut Dikta. Lain kali jangan ulangi" Potong Lesya dan berlalu pergi.


Ketika Lesya baru keluar dari ruangan Alden, saat itu seorang suster menghampirinya dan mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat Lesya terperangah.


"Apa?"

__ADS_1


.


. Bersambung


__ADS_2