It'S Perfect

It'S Perfect
Nasi Goreng


__ADS_3

"ini kayaknya Bosnya Lesya itu sengaja deh bikin istri gua lembur terus! gua harus cari tau, apa dia punya maksud lain atau nggak!"Saga menggerutu ketika mendapat pesan dari Lesya.


biasanya yang mempunyai feeling seperti itu adalah seorang istri, namun kali ini justru seorang suamilah yang memiliki feeling tidak baik untuk rumah tangganya.


"ada apa si Ga, uringa-uringan aja lu?"


"bener kata lu Ta, Saga akhir-akhir ini udah kaya emak-emak rempong!" Alden menimpali ucapan Dikta.


hari ini setelah mendengar ucapan dari Liyora, Dikta dan Alden meminta penjelasan kepada Saga. dan akhirnya yang awalnya Saga tidak ingin merepotkan sahabatnya, akhirnya Saga memutuskan untuk menceritakan sedetil mungkin. dan karena itulah saat ini Dikta dan Alden pun pulang kerumah Saga yang baru.


"gimana gua gak uring-uringan coba Al, Ta. asal lu pada tau, batu aja dua hari Lesya kerja, dua hari juga dia dibikin lembur sama bosnya itu." ucap Saga yang menatap bergantian kedua sahabatnya dengan raut wajah yang seperti ingin menerkam mangsa dihadapannya.


"wah kalo itu si emang parah tu bosnya Lesya!" Alden menimpali ucapan Saga.


"tumben lu gak nyebut bini gua calon bini lu?"


"eghem.. ya gua belajar buat lepasin dia buat lu lah Ga, kita kan sahabatan."


"ya bagus deh kalo lu sadar, lagian kalopun lu gak sadar-sadar. isyri gua juga pilih-pilih kalo mau ninggalin gua. ya kali Lesya pilih kantong kripik kaya lu"


" weh sekata-kata lu Ga.."


"tunggu.. tunggu.. emang mba Lesya sekarang kerja dimana Ga?" kali ini Dikta menghentikan Alden dan Saga yang tengah asik bercanda.


"di perisahaan Arles Company, emang kenapa Ta?"


"kalo gak salah itu pengusaha muda yang terkenal itukan Saga?" sahut Alden.


"ya, terus..?" ketus Saga ketika Alden mengatakan Arga adalah pengusaha muda yang saat ini sedang terkenal.


"emm kalo gitu wajarlah Saga kalo mba Lesya telat. namanya juga pengusaha terkenal, pasti diperusahaannya banyak berkas yang akan diurus kan."


"eits, tapi tunggu Dikta. lu tadi bilang dia itu pengusaha muda kan?" Alden menatap Dikta dengan alis yang bertaut. Dikta pun mengangguki ucapan Alden. "itu berarti kemungkinan besar tu cowo bisa suka kan sama Lesya?"


akhirnya semua terdiam ketika mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Alden yang memang krangnya suka ceplas ceplos.


triingg ..


dan ketika Saga ingin menimpali ucapan Alden, tiba-tiba ponselnya berdering. saat itu tertera nama ibunyalah yang saat itu menghubinginya.


"bentar guys nyokap gua telfon"

__ADS_1


Saga sengaja mencari tempay yang sedikit jauh dsri Alden dan juga Dikta. karena ruang lingkup rumahnya yang kecil, Saga memilih untuk keluar rumahnya.


"ada apa mi?"


"mami gak habis pikir sama istri kamu ya Saga!" suara nyonya Darmawan diujung telefon.


"ini ada apa lagi si mi, kita berdua udah nurutin mami loh. ini kenapa mami masih kaya gini?"


"mami tau, pasti Lesya tidak terima saat mami ngasih ujian ke kalian berdua. dia nyuruh sepupu dan sahabatnya buat narik investor perusahaan kita. dan sekarang perusahaan kita diambang kebangkrutan Saga!"


Saga masih belum percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Saga tahu semenjak mereka pindah kerumah baru yang mereka sewa, Lesya tidak mengatakan apapun kepada orangtuanya, bahkan kepada Dylan dan juga Yoo joon.


"ini gak mungkin mi, Lesya bukan orang seperti itu. dan untuk masalah ini biar nanti Saga coba bicara sama Lesya."


sambungan pun diakhiri oleh Saga. ia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraanya, ia khawatir akan terprofokasi dengan kabar yang menurutnya masih sangat awal untuk menyimpulkan sesuatu.


Setelah menutup panggilan telfonnya, Saga kembali ke dalam rumah menemui kedua sahabatnya.


"ada apa Ga?" tanya Dikta.


"setelah permasalahan rumah tangga gua, sekarang jadi merambat kemana-mana. Dylan sama Yoo joon narik Investor penting dari perusahaan bokap gua, dan nyokap bilang.. perusahaan sedang diambang kebangkrutan. dan yang lebih parah, nyokap gua nuduh Lesya pemyebab dari ini semua." Saga terlihat kacau. ia terduduk di atas Sofa dengan rambut yang terlihat berantakan.


"emm sekarang lebih baik lu tenangin diri lu Ga. gua sama Alden mau keluar cari makan bentar" saat itu Saga hanya mengangguki ucaoan Dikta.


"kenapa si Ta, lu pakek ngelarang gua bawa motor. pegel-pegel ni kaki gua, mana dari tadi kita gak nemu tempat yang jual makanan!" Alden terus menggerutu disepanjang jalan.


"udah sabar aja lu Al, bentar lagi pasti ada yang jualan kok."


'gua sengaja jalan kaki, supaya Saga bisa nenangin dirinya. dan gua tau lu Al, lu bawaannya kalo gak becanda ya emosian. makanya lu gua ajak cari makan!' batin Dikta didalam benaknya.


"eh kayaknya itu ada yang jualan nasi goreng deh, mending kuta kesana aja Ta gua udah laper capek jadi satu." ucap Alden sembari berjalan kearah pe jual nasi goreng.


Setelah Alden sampai lebih dulu, ia langsung duduk dengan nafas yang sesikit terengah. "bang, minumannya dong bang. aus banget ni gua."


"ini mas, silahkan"


"makasih bang, bikinin nasi goreng dua dimakan disini dan dua dibungkus ya bang" setelah mendengar pesanan dari Alden, penjual nasi goreng pun melanjutkan aksinya untuk membuat nasi goreng.


dan setelah berapa saat Dikta baru sampai. dan duduk di samping Alden. setelah menunggu beberapa saat, nasi gireng lengkap sidah ada dihadapan mereka berdua.


"lu beneran kelaperan Al?"melihat Alden begitu lahab, Dikta menuangkan kembali air minum untuk Alden. "ni minum dulu, keselek nanti lu" sambungnya

__ADS_1


"uhuk.. uhuk.."


"lah baru aja gua bilang, udah keselek aja lu Al" Dikta menepuk-nepuk punggung Alden. Alden pun segera meminum minuman yang sudah dituangkan oleh Dikta.


namun saat itu Dikta terkejut saat Alden membulatkan matanya. ia berpikir Alden tidak bisa bernafas. "lu kenapa Al?"


Alden susah payah menelan air minum, karena masih sulit berbicara, akhirnya ia menunjuk jarinya ke suatu arah. dan seketika Dikta mengikuti arah daei jari Alden.


"Friska.." lirih Dikta.


"itu Friska kok disini?" tanya Alden.


"rumahnya emang ada di komplek ini, tapi kenapa dia balik kesini? bukannya dia tinggal sama sepupu mba Lesya."


"mending kita samperin aja Ta"


Alden pun menarik Saga "bang ini duitnya, kita tinggal dulu nanti gua ambil yang dibungkus ya bang" sambung Alden sembari meletakkan selembar uang seratus ribu didekat piring nasi gorengnya.


Alden lagi-lagi mengajak Dikta sedikit berlari. dan saat itu Friska sedikit terkejut dengan kedatangan Dikta dan juga Alden.


"kalian, ngapain kalian di daerah sini?" tanya Friska penuh selidik.


"emm kita disini lagi maen-maen aja" balas Alden


"lu abis darimana Fris, terus siapa tadi yang nganterin lu? tanya Alden.


" tadi kak Dylan yang nganter gue!" Alden hanya mengangguki ucapan Friska.


'kenapa si Dikta, kenapa lo cuekin gue?'


"yaudah kalian lnjut ngobrol, gua balik kesana ya Al gua mau ambil pesenan nasi goreng" saat Dikta hendak meninggalkan tempat itu, Friska mencekal pergelangan tangan Dikta.


Alden yang terlihat tidak suka segera melepas genggaman tangan Friska. seketika hal itu membuat Dikta dan Friska mengernyit.


"kenapa si lo Al, gue mau ngomong sama Dikta!"


'kenapa sebegitu gak sukanya Alden waktu Friska megang tangan gua? apa Alden naksir sama Friska, makanya dia udah mutusin buat gak ngejar mba Lesya lagi!'


.


.

__ADS_1


.bersambung


.


__ADS_2