
Setelah di Rawat selama beberapa hari, Dylan meminta untuk pulang. Sebenarnya dari awal ia baru sadar, Dylan sudah meminta rawat jalan saja di rumahnya. Namun Guntara memaksanya untuk tetap dirawat.
Guntara tidak tanpa alasan meminta Dylan tetap dirawat. Karena Dylan memang tinggal sendiri, siapa yang akan menjaganya ketika ia meminta di rawat di rumah. Ibunya yang sudah meninggal karena sakit dan ayahnya yang entah kemana sejak berpisah dengan ibunya, mengharuskan Dylan menyetujui permintaan Guntara.
Ting tung
Bel rumahnya berbunyi. Udara dingin yang menyeruak, membuat dirinya enggan. Untuk membuka pintu. Karena setiap malam, orang yang bekerja di rumahnya sudah pulang. Karena jam kerjanya hanya dari pagi dan akan pulang setelah jam tujuh malam.
Ting tung
Lagi-lagi bel rumahnya berbunyi, hingga akhirnya meskipun menahan dingin, Dylan beranjak untuk membuka pintu rumahnya.
"Selamat malam Dylan"
"Malam,ada apa kau datang kesini Sharena?"
"Apa aku tidak boleh masuk"
"Oh ya maaf, masuklah"
Setelah keduanya duduk, Sharena memperhatikan rumah milik Dylan yang begitu besar, namun terasa sunyi. Begitupun yang dirasakan oleh Dylan, yang selalu merasa sepi meskipun bergelimang kekayaan.
Ya, bagaimana tidak merasa sepi? Dylan hanyalah mempunyai keluarga Guntara , selain itu Dylan tidak memiliki siapapun.
"Aku mendengar kau di rawat Dylan, tapi maaf aku baru sempat menjengukmu sekarang"
"Kau tidak perlu repot Sharena, lagi pula aku sudah sembuh"
"Tidak repot sama sekali Dylan. Harusnya malam itu aku tidak pulang setelah bertabrakan dengan Dita di rumah sakit, jadi dengan begitu aku tau kalau kau di rawat disana"
__ADS_1
Alisnya berkerut, Dylan tidak mengerti kenapa Dita ada di rumah sakit tersebut.
"Kenapa Dita ada disana, Sharena? "
"Sepertinya dia mengalami sesuatu dengan kandungannya." Dylan mengangguk-angguk kan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Sahrena. Sejujurnya Dylan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang Dita, namun ia megurungkan niatnya untuk bertanya. Dylan tidak ingin Sharena berpikir yang tidak-tidak.
Melihat Dylan yang seperti memikirkan sesuatu, Sharena berpikir jika Dylan masih memikirkan Lesya. Hal itupun membuat Sharena tidak senang.
'Lihat saja Dylan, aku tidak akan membiarkanmu merasa pening hanya karena sepupu sialanmu itu'
-
Brugh
Saga menjatuhkan badannya di ranjang miliknya. Melihat suaminya yang kelelahan, Lesya datang menghampiri dan duduk di tepi ranjang setalah menidurkan Elgara di tempat tidur Elgara yang berada di sebelah ranjang miliknya.
'Nanti saja ku tanyakan keadaan Alden,Biarlah Saga beristirahat.'
Lesya bangkit dari Telkomsel ranjang untuk beranjak melihat sekali lagi Elgara, namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya. Dilirkanya ke arah tangannya. Dan benar saja, itu adah Saga yang menatapnya meskipun dengan mata yang sayu.
"Aku membangunkan Saga? "
"No, aku memang ingin melihat wajah istriku yang sudah beberapa hari sangat sulit untuk ku temui" Balasnya sembari mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Alden baik, hanya saja dia tidak ingin kita memberitahu Dikta tentang kondisinya. Sementara Dita, perlahan ia mulai memahami perasaan Alden. Dita tidak jadi mengadukan itu kepada orang tua Alden"
"Saga, aku belum bertanya apapun"
"Tapi itukan yang akan kau tanyakan? " Perlahan Lesya mengangguki ucapan Saga.
__ADS_1
"Jadi aku akan selalu memberitahukan semua perkembangan Alden. Dan satu lagi, aku mau kamu menjaga keshenatanmu. Aku tau akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi, sehingga membuatmu stres"
"Saga, jangan sok tahu."
Saga lalu bangkit dan duduk sambil memeluk pinggang istrinya yang masih berdiri.
"Dengar ya mba istri, aku ini suamimu. Aku tau jika istriku sedang stres. Dan aku tidak mau hal itu terus terjadi, karena itu tidak baik untukmu dan juga untuk Elgara"
"Aku tidak akan stres Saga, tapi berjanjilah"
Saga mendongak menunggu lanjutan dari ucapan istrinya yang menurutnya masih belum lengkap.
"Kamu harus berjanji untuk tidak terlalu terbebani dengan masalah ini. Aku juga tidak mau jika kamu sakit karena terlalu sibuk"
Saga kembali mengukir senyum di wajahnya. Dipeluknya semakin erat pinggang istrinya.
"Aku sangat beruntung mempunyai istri yang begitu mengkhawatirkan ku. Untung saja dulu kak Saka tidak menikahimu, dengan begitu mba istriku ini tidak akan memperhatikan kakakku. Jika saja terjadi, entah bagaimana bisa kak Saka menghadapiku untuk merebutmu hmm?"
Lesya tersenyum mendengar rasakan suaminya yang semakin membuatnya tersipu.
Prank
"Suara apa itu Saga? "
Saga dan Lesya bergegas untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Mata mereka berdua membulat sempurna. Mereka tidak bisa berpikir lagi setelah melihatnya keluar.
.
. Bersambung
__ADS_1