It'S Perfect

It'S Perfect
Dokter Gadungan


__ADS_3

"Gue yakin sekarang Saga pati berpikir dua kali setelah mendengar ucapan dokter gadungan itu. Gue juga gak tau ya obat itu beneran efektif atau enggak biar bikin Lesya gak bisa punya anak. Yang jelas dengan ucapan dokter itu, gue yakin Saga bakal ninggalin Lesya" Liyora tertawa dodalam kamarnya.


Berbeda dengan Liyora, saat ini Saka justru begitu penasaran. Kenapa dokter tidak mengatakan apa-apa, tapi Saga terlihat begitu memikirkan sesuatu.


Saka terduduk diranjangnya dan melihat isi ponselnya, ia memandangi foto Lesya yang tengah tertawa lepas. "aku tidak akan membiarkanmu kesakitan seperti tadi Lesya. Setelah aku sembuh, aku akan merebut kembali perusahaanku daei tangan Arga."


Saka benar-benar marah ketika Arga terang-terangan menyalahkannya dan tersenyum mengejeknya. Saka belum mengetahui apa motifnya membiat Saka hancur. Yang ia tau dulu Arga adalah seseorang yang paling ia percaya untuk melancarkan semua rencananya.


_


Andi berjalan di koridor kantornya, saat itu ia melihat beberapa foto yang tidak asing baginya. Dan benar apa yang Andi lihat tidak salah, itu adalah foto Via ketika pakaiannya basah tersiram sisa minuman.


"Brengs*k siapa yang ngelakuin ini?" Teriak Andi sembari melepas foto Via yang tertempel di mading kantor.


Seusai ia mencopoti semuanya Andi membanting foto-foto itu dihadapan kerumunan karyawan yang tengah bergunjing.


Andi melempar foto-foto tersebut di lantai sehingga membuat orang-orang tersebut tersentak.


"Siapa yang berani lakuin ini?" Pekik Andi.


Semuanya menciut melihat kemarahan Andi. Tidak pernah mereka melihat Andi semarah saat ini, Andi yang biasanya terlihat tenang dan adem bisa berubah semenakutkan seperti saat ini.


Andy kemudian memungut kembali dan merobeknya menjadi serpihan kecil. Andi melihat kearah meja Via yang masih kosong, tidak biasanya Via tidak berangkay ke kantor tanpa memberitaunya.


'Apa ada yang terjadi sama Via?'


Andi mulai merasa ada yang tidak beres. Lalu ia mengedarkan pandangannya dan menemukan dua orang yang masih fokus melihat ke arah ponsel yang mereka bawa. Dengan segera Andi meraih ponsel milik salah satu staf dan melihatnya. Andi terkejut bukan main, ia membulatkan matanya sempurna melihat salah satu unggahan di akun palsu milik seseorang.


"Baik jika tidak ada yang mengaku siapa yang melakukan ini, aku pastikan aku akan segera menemukannya dan membuat pelakunya menyesal"


Andi lalu mengeluarkan kunci mobil yang ia taruh didalam saku jasnya. Ia berlari ke arah basement dan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.


Selang beberapa menit Andi tengah sampai didepan pekarangan rumah seseorang.


Andi mengetuk pintu rumah yang terlihat sederhana dan rapi. Hingga beberapa kali seseorang membukakan pintu rumah.

__ADS_1


"Permisi bu, apa Via dirumah?"


"Via sudah berangkat kerja nak, apa kamu ini teman kerjanya Via?" Tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat mirip dengan Via.


"Iya bu, saya teman sekantornya. Kalau memang Via sudah berangkat, saya permisi ya bu"


Andi kemudian kembali melajukan mobilnya, ia memijat pangkal hidungnya. Ia melajukan mobilnya dengan perlahan sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Via.


"Lo dimana Vi, apa ada yang terjadi sama lo?"


Andi lalu melihat kerumunan orang di pinggir jalan, ia lali mencoba melihat siapa yang tengah menjadi penyebab kerumunan.


"Via! Permisi dia teman saya, biar saya yang membawanya"


Andi membawa Via ke rumahnya, ia sengaja membawanya kesana karena lokasi Andi menemukan Via lebih dekat ke arah rumahnya.


"Siapa dia Andi? Kenapa dia tidak sadarkan diri?" Ucap nenek Andi.


"Dia temen Andi nek, Andi harus membawanya kedalam"


Setelah beberapa saat Via tersadar dari pingsannya. Ia memnyipitkan matanya melihat Andi duduk disebelah ranjang yang ia tiduri.


"Minum ini Vi" Andi membantu Via untuk meminum air putih. Dan saat itu seketika Via menitikkan airmata.


"Semua orang udah ngehina gue Ndi" tangisnya pecah dan saat itu Andi menarik Via kedalam pelukannya.


"Udah lo tenang Vi, lo gak boleh ngerasa terpuruk. Itu semua bukan kesalahan lo, lagian semua orang seharusnya mempertanyakan siapa yang udah ngelecehin lo dengan menyebarkan foto-foto itu Vi. Lo harus kuat, kita berjuang bareng buat cari siapa pelakunya Vi" ujar Andi seraya mengusap lembut punggung Via.


Kini Via semakin terisak didalam rengkuhan Andi. Andi sangat simpati melihat keadaan Via, Via yang selama ini dikenal sebagai perempuan kuat dan tidak pernah mengeluh seperti saat ini.


Ceklek


Seseorang membuka kamar Andk dan melihat Andi memeluk Via dengan erat.


Saat itu Via segera melepas pelukan Ando dan menyeka air mata yang ada diwajahnya.

__ADS_1


Via lalu turun dari tempat tidur dan berdiri disamping Andi. Dengan segera nenek Andi mendudukan Via ditempat ia tidur.


"Duduklah nak, kenapa kau menangis? Apa Andi yang membuatmu menangis?" Tanya nenek Andi


"Andi, jangan membuat kekasihmu menangis. Nak..tolong maklumi Andi, Andi memang sangat kaku sehingga dia tidak bisa peka dengan seorang gadis sekalipun kekasihnya sendiri"


"Nenek.. aku bukan-"


"Nak..?"


"Via nek, namanya Via" sahut Andi.


"Nak Via, jangan marah dengan Andi ya. Nenek memang terus menyuruhnya untuk membawa calon cucu mantu nenek, nenek udah pengen nimang cicit jadi mungkin saja Andi memaksamu untuk menemui nenek karena hal itu"


Nenek Andi menyangka Via menangis karena kesal kepada Andi yang memaksanya untuk menemui neneknya.


'Ini gak bisa dibiarin, kalo neneknya Andi salah sangka bisa-bisa Andi nyangkain gue mau-mau aja'


"Nek sebenernya aku bu-"


"Iya nek, Via memang kesal karena Andi memaksanya. Karena jujur Andi sama Via baru tiga bulan menjalin hubungan nek" potong Andi sehingga membuat Via tertegun.


Sementara itu, saat ini Alden tengah duduk bersama dengan keluarganya. Saat itu ia mencoba menolak perjodohan, namun saat itu seseorang justru memotong setiap Alden ingin mengutarakan keinginannya.


"Alden pasti setuju kok, lebih baik kuta segera tetapkan hari pertunangannya. Karna setelah acara makan malam ini samuel harus segera balik keluar negeri." Ucap kaka Alden.


"Kak muel?" Alden menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


'Maaf Alden, kakak tau kamu tidak menyukai gadis ini. Tapi kakak juga tidak akan membiatkanmu salah jalan dengan menyukai sahabatmu itu!' Samuel memang sudah tau perasaan Alden dengan Dimta ketika ia hendak menyusul Andi yang mengejar Dikta. Saat itu ia sangat terkejut mendengar perbincangan diantara dua laki-laki dewasa yang saling jatuh cinta.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2