
"Dimana Saga, sayang. kenapa di tidak turun?" tanya nyinya Guntara.
"dia sudah pergi sekitar lima belas menit lalu ma, ada urusan sepertinya."balas Lesya.
Pagi itu disaat semuanya tengah menikmati sarapan, tuan Guntara mengucapkan sesuatu. "pagi ini kita akan datang ke pengadilan untuk sidang perceraian Lesya dan juga Saga."
sontak hal itu membuat Lesya kehilangan selera dan tidak menghabiskan sarapannya. sementara itu, Saga sudah pergi sejak tadi sebelum acara sarapan.
"aku sudah selesai sarapan, aku akan ke kamar" ucap lesya sembari meninggalkan ruang makan dengan wajah yang muram
"sayang, nanti jam sembilan kita ke pengadilan!" nyonya Guntara mengingatkan.
"iya ma"
sesampai didalam kamar, Lesya terduduk dilantai dan bersandar di balik pintu kamarnya. perlahan bulir air mata membasahi wajahnya. "apa hanya sampai disini Saga?" Lesya mengusap wajahnya kasar. "tapi ini memang harus dilakukan, karna kamu mengkhianati pernikahan kita!"
cukup lama Lesya bergumul dengan pikirannya hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilam pagi, dan ia harus segera pergi ke pengadilan bersama dengan orang tuanya.
didalam mobil, Lesya hanya menatap keluar jendela tanpa mengucapkan sepatah katapun. dan jujur saja hal itu membuat nyonya Guntara khawatir.
"apa kamu ingin membatalkan gugatan cerainya sayang?"
"mama-"
"ini rumah tangga putri kita pa, jadi kita harus menyerahkan keputusannya ditangan Lesya! kita sebagai orang tua hanya mendampingi dan mendukung apa keputusannya." nyonya Guntara melarang tuan Guntara untuk mendikte Lesya.
"tapi papa hanya ingin yang terbaik untuk Lesya ma!"
"itu juga mau mama, pa!"
"tapi-"
"aku akan meneruskannya, aku tidak bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan Saga ma, pa. jadi kalian tidak perlu berdebat!"sahut Lesya yang segera ingin mengakhiri perdebatan diantara kedua orangtuanya.
"apa kamu yakin sayang?" sekali lagi nyinya Guntara menanyakan soal keputusan yang diambil oleh Lesya. dan hal itu hanyabdi angguki pelan oleh Lesya.
sekitar lima belas menit, Lesya dan orang tuanya telah sampai didepan gedung pengadilan. disana terlihat seseorang sudah menunggu Lesya, dan orang itu segera menghampiri Lesya.
"kamu terlihat pucat Lesya, apa kamu sakit?"
seketika Saga yang berada tak jauh dari sana berlari menghampiri Lesya dan meletakkan punggung tangannya di dahi istrinya. "kamu demam Lesya, ayo aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
__ADS_1
Lesya pun segera menghempaskan tangan Saga.
"Dylan, ayo kita kedalam. persidangan sebentar lagi akan di mulai." ujar Lesya yang menarik tangan Dylan dan segera memasuki gedung pengadilan.
Saga saat itu merasakan kekecewaan atas sikap Lesya yang mengacuhkannya. namun dia memaklumi, karena memang semua bukti mengarah jepadanya. "memang semuanya terbukti bahwa akulah pelakunya!" lirih Saga yang menatap Lesya masuk kedalam gedung dengan menggandeng sepupunya.
sebelum masuk ke ruang sidang, nyonya Darmawan menghampiri Lesya. dengan segera Lesya memeluk ibu mertuanya dengan sangat erat. "sayang, kau terlihat kurus. apa kau tidak makan hemm? mami sangat marah jika kau sakit" ujar nyonya Darmawan dengan mata yang berkaca-kaca dan perlahan menitikkan air mata.
"jangan nangis dong mi, aku tidak akan sakit okey!" Lesya mengusap lembut wajah ibu mertuanya dengan penuh kasih sayang.
"sayang, tolong maafkan Saga! mami tidak ingin kehilangan kamu, mami sudah menganggap kamu seperti anak mami
sendiri sayang."
melihat ibu mertuanya yang emosional, Lesya mengajak ibu mertuanya duduk di kursi terdekat. "mami tenang saja! meskipun nanti Lesya sudah tidak menjadi istri Saga, Lesya akan tetap menjadi anak mami"
'Tentu saja kau akan tetap menjadi anak mami Lesya, karna kau akan menjadi istriku' batin Saka yang sedari tadi sudah mengamati Lesya sejak kedatangannya yang ditemani oleh Dylan.
"iya mi, tenanglah! Lesya akan tetap menjadi anak mami" sahut Saka yang saat itu duduk di samping nyonya Guntara.
"dan kamu Lesya, jangan pernah menganggap kami orang lain meskipun kamu sudah bercerai dengan Saga nantinya!" Saka mengusap punggung tangan Lesya yang berada di pangkuan nyonya Guntara.
saat seseorang menyipitkan matanya menelisik sikap Saka terhadap Lesya. perlahan orang itu mengukir senyum tipis dibibirnya. "ayo Lesya, kita harus segera masuk"
-
di sebuah kafe kini Dikta duduk bersama dengan Alden, dengan sesuatu yang kini menjadi fokus mereka. namun sebelum mereka melanjutkan obrolan yang sempat mereka bahas, seorang waiters mengantar sebuah pesanan kopi milik mereka.
waiters seperti ingin mengatakan sesuatu saat melihat seseorang di video yang kini di saksikan oleh Dikta dan Alden. namun wwiters mengurungkan niatnya dan hendak pergi. namun Alden menggenggang tangan waiters tersebut.
"Alden, bisa gak si lu serius dulu! "hardik Dikta.
"emang dari tadi gua ngapain Ta, gua serius dari tadi!" sanggah Alden yang tidak terima dituduh oleh Dikta.
"ya udah lepasin tangan mbaknya, kalo mau gombal nanti dulu ini urgent!"
"sorry sorry mba, tadi gua liyat mba lihat video ini dan kayaknya mba pengen ngomong sesuatu" ucap Alden seraya melepas cekalannya.
'aduh pakek ketauan segala gue ngelirik, ni mata kenapa si kepo jadi gak enakan sama mereka!' waiters tersebut merutukki dirinya sendiri.
"mba kenal sama cewe ini?" kini Dikta yang menanyai waiters tersebut. "sebelumnya kenalkan namaku Dikta?" Dikta mengulurkan tangannya dan Witers tersebut pun meraih uluran jemari Dikta.
__ADS_1
"emm.. namaku Dita"ucapnya sedikit ragu.
"Begini mba Dita, apa mba Dita kenal sama cewe yang ada di video ini?"
"begini, karna kelihatannya usia kita tidak jauh berbeda, kalian bisa memanggilku Dita!"
"oke Dita, lu kenal gak sama dia?" kini Alden yang berbicara.
"kenal si enggak, tapi waktu itu dia pernah makan disini dan meberima telfon dengan marah-marah sampai beberapa tamu disini merasa terganggu!"
"apa kami dengar apa yamg ia bicarakan?" Dikta kembali bertanya.
"sebenarnya waktu itu aku tidak sengaja, bukannya menguping juga. tapi yang aku dengar, dia marah karna seseorang ingin menjalani tes DNA dengan dirinya."
Dita sempat mengingat-ingat kembali apa yang saat itu dia dengar kembali. "tapi anehnya keesokan harinya dia datang dengan temannya dan seperti merayakan sesuatu"
"emm apa disini ada rekaman cctv, Dita?" tanya Dikta.
"ada Dikta."
saat itu Alden dan Dikta saling pandang, dan sesaatnya mereka saling tersenyum. hal itupun membuat Dikta sedikit bingung.
"boleh kalo kita berduamau lihat rekaman cctv nya?"
"kalau kalian mau, kalian harus izin dengan atasanku lebih dulu. kalo gitu aku harus kerja dulu permisi"
"eh tunggu, aku minta nomor lu ya Dita"
"untuk apa?"
"ah kelamaan" Alden pun meraih pena yang dibawa oleh Dita dan dipakainya menuliskan nomornya di note yang dibawa oleh Dita. "nanti lo hubungin gua biar gua save nomor lu"
"ayok Ta! walaupun gua suka sama Lesya, gua gak mau bersaing gak fair kaya gini. jadi gua mau tau yang sebenernya"
Dikta dan Alden pun segera menemui manager kafe tersebut. cukup lama mereka didalam sana, dan kini mereka berduapun pergi dengan wajah yang tidak bersahabat.
"apa si boss gak ngizinin mereka ya, kok wajahnya jadi galak-galak si" ucap Dita yang batu saja melihat Dikta dan Alden keluar dari kafe dengan raut wajah yang tegang.
.
.bersambung
__ADS_1
.