It'S Perfect

It'S Perfect
Siapa Yang Mengirim Mata-Mata


__ADS_3

"tahan ya Dit, bentar lagi kita sampek kok!"


karena jauh dari rumah sakit, Dikta membawa Dita ke sebuah klinik terdekat. perasaannya semakin cemas saat melihat Dita menjadi pucat pasi dan berkeringat dingin. Dikta tau saat ini Dita menahan sakit.


setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di klinik tersebut. dengan segera Dikta mancari dokter di klinik itu.


Dikta terlihat sangat mengkhawatirkan Dita yang masih ditangani oleh Dokter didalam ruangan.


dan setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dokter oun selesai menangani Dita. "dok gimana keadaan temen saya?"


"tenang ya, pasien hanya mengalami luka luar yang tidak serius."


"tapi saya lihat tadi pasien seperti hampir pingsan dok!"


"pasien hanya takut melihat darah yang ada di kakinya. oleh karena itu pasien memjadi pucat dan lemas. tapi setelah darah dibersihkan, pasien sudah tidak apa-apa. kalo gitu saya permisi ya"


"baik dok terimakasih"


Dikta pun segera menghampiri Dita yang saat itu terduduk di atas ranjang rumah klinik. "gimana keadaan lo Dit?"


"gue gak pa-pa kok Dikta!"


"sorry ya Dit, gara-gara gua lo jadi laya gini!"


"santai aja Dikta, gak usah ngerasa bersalah. lagian lo kan gak sengaja nabrak gue kan?"


"iya tapi tetep aja gua udah bikin lo kaya gini." Dikta menatap dalam Dita yang saat itu juga menatapnya.


'aduh kalo ditatap terus kaya gini bisa-bisa gue lumer. mana ganteng banget, eh tapi jangan terlalu keliatan deg-degan tau Dit. nanti lo dikira cewe galangan lagi sama Dikta.'


Setelah myelesaiakn administrasi, kini Dikta mengantarkan Dita ke tempat tinggalnya yang tidak jauh dari klinik tersebut.


"makasih ya Dikta, lo udah repot nganterin gue."


"ini udah kewaniban gua kok Dit." Dikta memperhatikan sepetak rumah yang ditinggali oleh Dita. rumah yang kecil, namun terlihat sangat nyaman.


"oh ya Dit, dimana orang tua lo? gua gak lihat, gua juga gak denger ada orang didalem?"


"mereka ada dikampung Dikta, jadi gue sendiri disini."


Dikta mengangguk pelan, namun saat mereka tengah berbincang, Dikta melihat seseorang yang seperti mengintai mereka berdua. dengan segera, Dimta mengejar oramg tersebut.

__ADS_1


"woe mau kemana lo.."


"Dikta lo mau kemana?" Dita terkejut saat Dikta tiba-tiba berlari. dengan kakinya yang masih terasa sakit, Dita berusaha mengejar Dikta meskipun dengan langkah yang pelan.


dan setelah cukup jauh ia berjalan, Dita melihat Dikta yang saat itu memiting seseorang yang tidak ia kenal.


"siapa lo? kenapa lo ngawasin gua sama Dita?"


"argghhh..." seketika Dikta menoleh ke arah Dita yang terjatuh. karena melihat kelengahan Dikta, orang itu memanfaatkannya dengan berputar kemudian memukul wajah Dikta.


bug


"woe mau kabur kemana lo?" pekik Dikta. namun Dikta tidak bisa mengejar orang itu karena melihat Dita yang kesakitan.


Dikta segera berlari melihat keadaan Dita yang masih meringins kesakitan. saat itu Dikta memeriksa kami Dita yang terluka. ia lalu mengangkat tubuh Dita untuk ia antar kedalam rumahnya.


"lo gak perlu gendong gue Dikta, gue bisa jalan kok!"


"gue gak kau kaki lo tambah parah Dit, jadi gue bakalan gendong lo sampe rumah."


saat itu Dita terlihat sangat tegang. bukan karena sakit yang ia rasakan, tetapi karena posisinya yang terlalu dekat dengan Dikta. dan ketika mereka sampai didepan pintu rumah Dita, Dikta mendorong pintu itu dengan kakinya.


saat itu Dikta celingukan mencari dimana air minum dan membuat Dita terkekeh. "ini rumah Gue Dikta, seharusnya gue yang ambilin minum buat lo!" Dikta pun mengaruk kepalanya yang tak gatal.


'sebenernya siapa orang tadi? dan apa tujan mereka mengawasi kami? dan siapa yang mengirim mata-mata?' namun Dikta masih terus memikirkan siapa orang yang mengawasi mereka berdua.


-


"ini gak bisa dibiarin sayang, mama harus ngomong sama Lisa! dia gak bisa seenaknya kaya gini sama kamu" nyonya Guntara terlihat sangat murka saat mendengar apa yanh dikatakan oleh Lesya dan juga Saga mengenai tantangan dari nyonya Darmawan.


"kali ini papa setuju sama mama. ini sudah keterlaluan, papa harus ngomong langsung sama Darma dan Lisa" sahut tuann Guntara.


"pa,ma.. kalian jangan marah. Lesya setuju kok buat itu. Lesya yakin Lesya sama Saga bisa ngelewatin ini." ucap Lesya. saat itu Lesya melihat tuan Guntara yang terlihat memikirkan sesuatu. ia kemudian memegang tangan ayahnya, "papa, Lesya tau papa juga mikirin perusahaan kita kalo Lesya gak disitu kan?"


"tapi perusahaan gimana Lesya, papa harus menguruh perusahaan kita yang ada di korea. papa gak mungkin bisa mengurusnya." tuan Guntara terlihat sangat cemas.tuan Guntara pun menatap dalam-dalam manik mata putrinya


"papa tenang ya, disitukan ada Yoo joon. Lesya yakin Yoo joon bisa handle perusaahaan kita. tapi papa tenang, Lesya gak akan lepas tangan gitu aja. Lesya akan bantu Yoo joon menagani perusahaan pa, tapi Lesya gak akan menerima bayaran dari situ."


"dan Saga janji, Saga akam cari pekerjaan dan menghidupi istri Saga dengan layak pa. Saga gak akan bikin kalian kecewa!" kini Saga mulai angkat bicara.


"Saga, mama tau kamu pasti akan berusaha. tapi bagaimana sebelum kalian mendapat pekerjaan. dan bagaimana dengan sekolah kamu?"

__ADS_1


"mama tenang, Saga pasti akan mwngatasi itu. walaupun Saga masih SMA, tapi Saga janji Saga akan secepetnya cari pekerjaa ma."


"iya ma, dan Lesya harap papa sama mama tidam akan mengatakan apapun sama papi Darma!"


setelah melewati perdebatan di pagi hari, kini Lesya dan Saga bergegas pergi dari rumah orangtua Lesya dengan menggunakan motor milik Saga.


saat berada dijalan, Lesya baru ingat akan sesuatu. "Saga, bukankah kita gak boleh bawa fasilitas daei mereka sama mami?"


"yang kami maksud motor ini?"


"ya.."


"tenang mba Lesyaku sayang, motor ini bukan dari orangtuaku. tapi ini hadiah dari sahabat-sahabayku, jadi aku berhak buay bawa ini kan?"


Lesya pun mengangguki ucapan suaminya dengan senyum diwajahnya.


Setelah cukup lama mencari tempat tinggal, Saga mengajak istrinya untuk menepi. ia melihat Lesya yang begitu letih. "kita berhenti dulu disini ya.."


Lesya dan Saga terduduk di sebuah tempat duduk umum. Saga mengusap dahi Lesya yang berkeringat dengan lembut. "capek banget ya mba.."


"enggak kok bocah tengil, ini justru menyenangkan kan? kita bisa berjalan-jalan di siang hari seperti ini!"


Saga tau Lesya hanya menutupi rasa lelahnya, dan Saga menaikan kaki Lesya di pangkuannya dan segera memijat kaki isyrinya dengan lembut.


"Saga, apa yang kamu lakukan? turunkan kakiku."


"gak ada penolakan! istri harus nurutin suaminya, jadi kamu gak boleh protes"


Tanpa mereka sadari, sejak kepergian mereka daei rumah Guntara, orang suruhan Saka terus mengambil gambar dan mengirimkannya terhadap Saka.


brakk


Saka menggebrak meja dan melempar ponselnya. "kalian mungkin saat ini bisa berlaga sok romantis. tapi ini baru aja akan kita mulai! dan aku yakin, kalian akan segera berpisah karena keadaan ini!" Saka menarik sudut bibirnya memyeringai.


.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2