
Sesampai di rumah Yoo joon, Lesya segera menata semua sayuran dan bahan-bahan lainnya di alam lemari pendingin.
"Ah dapur ini benar-benar sangat dingin karena tidak ada seorang perempuan bahkan seorang pembantupun tidak ada"
Lesya berjalan membuka lemari dapur dan mencari beberapa peralatan masak yang tidak dikeluarkan oleh Yoo joon karena tidak Bisa menggunakannya.
"Astaga ini banyak debu" Lesya yang memang sangat sensitif dengan debu sejak kecil terus mengalami bersin, bahkan ketika ia memasak masakan kesukaan Yoo joon.
Namun Lesya tidak memperdulikan hal itu dan terus melanjutkan kegiatan. Dan ketika Lesya sibuk memasak ternyata Yoo joon tertidur di ruang tengah dimana letaknya ditengah-tengah sehingga dapat mendengar jelas suara bersin Lesya hingga membangunkannya.
"Hachim.."
"Hachim..."
"Hachim..."
"Hoam.. " Yoo joon terbangun dan mengusap wajahnya kasar. Ia mulai mengumpulkan nyawanya yang bahkan belum terkumpul.
"Hachim.. "
"Hachim.. "
__ADS_1
Lagi-lagi Yoo joon mendengar suara bersin dan berasal dari arah dapur. Selain mendengar suara bersin, Yoo joon memegangi perutnya yang merasa lapar. Terlebih indra penciumannya menangkap aroma yang begitu sedap dan memancing kedatangannya ke sebuah dapur.
Mendapati Lesya yang berada didalam dapur, Yoo joon mengurungkan niatnya untuk masuk dan berdiri di ambang pintu dapur sembari mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar bahkan video untuk mengabadikan diamana Lesya memasak dirumahnya.
Namun karena melihat Lesya beberapa kali bersin, Yoo joon segera menghampiri Lesya dengan membawa sebuah kain basah untuk Lesya.
"Sya, kamu tadi kena debu? "
"Ah iya Joonie, kamu sangat jorok. Mentang-mentang gak pernah masak peralatan dapurmu banyak sekali debu.. Hachim"
Tanpa membalas ucapan Lesya, Yoo joon menampelkan kain basah ke arah hidung Lesya dan mengusaonya perlahan. Dan benar apa yang dilakukannya barusan membuat Lesya berhenti untuk bersin.
Namun itulah Lesya yang tidak pernah terbawa perasaan, mungkin saja jika perempuan lain yang diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki setampan Yoo joo akan langsung pingsan karena terpesona.
Sementara itu Alden masih belum berbaikan dengan Dikta. Dikta yang terus bersama dengan Nadia membuat Alden kesal. Namun saat itu ketimbang bertengkar, Alden memilih untuk mengunjungi Kenan bersama dengan pulangnya Dita.
Namun ketika Alden sampai di rumah Kenan, ia mendapati ibunya yang berkunjung dan menemani Kenan.
"Mami, mami kenapa kesini? " Tanya Alden
"Mami lagi main sama Kenan, dia anak yang sangat pintar. Kasian sekali Kenan harus dirumah sendiri."
__ADS_1
Saat itu Dita keluar dengan membuatkan teh racikannya seperti ketika ia membuatkan Alden. Dan reaksi Riana setelah menyesap minuman dari Lesya tak jauh dari Anaknya yang sudah merasakan lebih dulu.
"Hemm ini sangat enak Lesya"
"Ini hanyalah teh mami"
"Tapi ini beneran sangat enak, Benarkan mi?"
"Oh ya sayang, setelah mami tadi melihat Kenan, mami ingin sekali kalian berdua segera menikah."
"Uhuk" Alden yang masih menyesap minumannya tersedak.
"Kalau kalian menikah Dita tidak perlu bekerja dan bisa menemani Kenan kan? " Tambah Riana.
"Tapi mi"
"Kalian tidak perlu menjawabnya sekarang" Ucap
Saat itu Alden saling menatap dengan Dita yang mulai merasa bingung.
"Apa? Ini gak boleh aku biarin kan?"Dikta semakin kesal dengan apa yang direncanakan oleh Riana.
__ADS_1
. Bersambung