It'S Perfect

It'S Perfect
Tambah Marah


__ADS_3

Alden membawa segelas air untuk ia berikan kepada Dita yang tengah terduduk di sofa ruang tengah sendirian. Alden tau jika saat ini Dita tengah memikirkan pertemuannya dengan Yoo joon di kafe tempo hari.


"ini buat lo Dit" Alden menyodorkan segelas air yang ia bawa, dan dengan segera Dita meminumnya.


Ditariknya nafas dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya sekilas dan membuangnya kasar. Dita menatap Alden yang duduk di seberang sofa dengan tatapan yang seperti ingin berbicara sesuatu.


"ada apa Al, lo mau ngomong sesuatu? " tanyanya sembari meletakkan gelas ditangannya.


"perasaan lo gimana sama kak Yoo joon Dita? apa masih sama kayak sebelum nya"


Dita menunduk kemudian bangkit dan berdiri di tepi kendala dengan menatap ke arah jauh. tangannya bersedekah seolah merasa keingininan.


"kalo lo nanya tentang perasaan gue sama kak Yoo joon, perasaan gue udah berubah Al" Dita menoleu dan menelisik wajah Alden yang merasa aneh dengan ucapan Dita. namun sebelum Alden mengatakan sesuatu, Dita kembali menatap ke luar jendela


"perasaan gue jauh lebih besar Al. gue ngerasa tersiksa setiap gue liat tatapan kebencian dari kak Yoo joon. rasanya dada gue di tahan sama sesuatu yang berat dan ngelarang gue buat bernafas dengan baik. rasanya gue pengen jelasin semuanya, tapi gue sadar, walaupun gue jelasin, gue udah jadi istri lo. dan itu gak bakal merubah keadaan"

__ADS_1


"kita ini konyol ya Dita"


Dita menoleh kembali ke arah Alden yang beranjak dan mengarah kepadanya. Dita berdiri di belakang Dita dan ikut memandang keluar jendela.


"kita ini nggak saling cinta, tapi kita mutusin buat punya anak demi orang tua gue. bahkan sekarang ada kehidupan di dalam sini" ucap Alden mengelus lembut perut Dita yang masih rata.


"pernikahan kita hanya sebatas kesepakatan, tanpa memperdulikan kebahagiaan kita masing-masing"tambah Alden.


" tapi lo jangan khawatir Dit, walaupun tanpa didasari rasa cinta dihubungan kita, gue bakal menyayangi dan mencintai anak kita dengan tulus nantinya "


"ada apa lagi Dita? "


"gue cuman baru sadar, selama ini lo nggak pernah kasih tau gue siapa orang yang lo suka Al!"


Alden menatap lekat kedua manik mata Dita yang terus menatapnya penuh tanya. saat itulah Alden kembali mengingat kali terakhir ia bertemu dengan Dikta dimana Dikta marah besar kepadanya.

__ADS_1


"kita nggak usah bahas ini ya Dit, gue harus keluar bentar mau liat perkembangan resto baru kita"


"oh ya Al, apa lo nggak pengen ke resto lo sama Dikta. sejak kita menikah kalian nggak pernah ketemu, sebenarnya ada masalah apa si sama kalian berdua? "


'karena dia orang yang gue cinta dan sekarang dia marah sama gue Dita. dan itu yang bikin gue gak berani kesana'


"emm ada sesuatu yang terjadi Dit, please jangan bahas ini ya? gue buru-buru sekarang"


"hemm" Dita mengangguki Alden. setelah itu Alden bergegas pergi dengan menggunakan mobilnya.


Disepanjang jalan Alden terus memikirkan ucapan Dita tentang seseorang yang di cintai olehnya.


"apa sebaiknya Dita tau soal gue sama Dikta?" Alden menggeleng "nggak.. nggak.. gue gak boleh lakuin itu. gue nggak mau nanti kalo ada yang deketin Dimta terus tau, Dikta pasti tambah marah sama gue"


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2