
Dikta bersiap-siap untuk bergegas mencari tempat yang ia cari. meskipun saat ini ia belum menemukan alamat yang sebenarnya."gua harus tau dimana rumah sepupunya mba Lesya! apa bener, Friska tinggal serumah sama laki-laki itu!"
kali ini Dikta memilih untuk membawa motor yanh berbeda, ia ingin tidak ada orang yang mengenalinya. namun diperjalanan saat ia mencari alamat Dylan, ia justru melihat seseorang yang ia kenal.
"ngapain mereka berdua disitu? mereka janjian?"
akhirnya Dikta menghentikan laju kendaraannya yang saat ini ia parkirkan di tempat yang lumayan jauh dari restoran yang akan ia datangi.
Dikta dengan pakaiannya yang jarang ia kenakan dengan masker dan topi hitam sengaja duduk di bangku yang lumayan dekat dengan tempat dimana orang yang ia kenal sedang berbicara dengan seseorang.
"silahkan dipilih menu nya kak!" ucap weiters kepada Dikta.
"es capucino satu ya mba" saat Dikta tidak sengaja menatap sang weiters ia sadar bahwa usia mereka tidak jauh beda. 'ternyata masih ada ya jaman sekarang cewe semuda dia udah mau kerja kayak gini' Dikta lalu menggelengkan singkat kepalanya 'inget Dikta.. lu kesini buat selidikin mereka, bukan yang lain.' Dikta kembali fokus memperhatikan dua orang yang saat ini tengah berbincang cukup serius.
"udahlah gue gak mau bahas soal itu, lagian dia udah gak ada juga kok. emm ya udah gue mau balik sekarang, tolong jangan lo ungkit lagi dan bikin gue tambah down. "
"maksud lo gak ada gimana? "
"pokoknya gue gak mau bahas ini lagi! dan satu lagi, lo gak perlu ngerasa bersalah. memang mungkin ini udah kehendak tuhan kan? meskipun waktu itu gue bener-bener hancur"
itulah yang terdengar di telinga Dikta. namin pembicaraan hanya berhenti disitu saja, dan dua orang tersebut memilih untuk pergi dari tempat itu. "mending gua ikutin!"
Namun langkah kaki Dikta terhenti saat ia melihat Saga yang datang bersama dengan Lesya. netranya menangkap sebuah hubungan yang sangat harmonis saat Lesya menggandeng jemari Lesya dan sesekali menciumnya.
"apa yang gua lihat barusan? bukannya Saga tadi nyuruh Alden buat nyiapin makan malam buat Liyora! tapi kenapa sekarang justru Saga malah dateng bareng sama mba Lesya?" dibenak Dikta penuh tanda tanya. dan sesaat setelah ia melihat kedatangan Saga dengan Lesya, netranya saat ini menangkap kedatangan gadis.
"Liyora? apa yang lu rencanain Ga? jangan sampek rencana lu ini bikin perasaan mba Lesya terluka."
akhirnya dari pada mengikuti orang yang ia lihat, kini Dikta memilih untuk memastikan apa yang sebenarnya Saga rencanakan.
saat ini di bandingbmasalahnya sendiri,Dikta lebih merasa khawatir dengan Lesya. yang ia takuti adalah, Saga akan melukai perasaan Lesya kembali.
"babe, kenapa kamu bawa cewe tua ini ke acara dinner kita? dan kenapa diagandenga-gandeng kamu segala si.." Liyora berusaha membuat Lesya melepas genggamannya dengan Saga, namun saat itu Saga lebih dulu mencekal pergelangan tangan Liyora.
__ADS_1
"Saga sakit, kamu kenapa si? aku marah kalo kamu belain dia!" Liyora mengembungkan pipinya dan bersikap semenggemaskan mungkin dihafapan kekasihnya.
melihat Saga yang tak kunjung melepas tanagn Lesya, kini Liyora mulai mencari ide lain untuk mengancam Saga. "kalo kamu iseng terus kaya gini, mending kita putus. dan buat lo cewe tua, lo gak tau malu ya? cuman di manfaatin cowok gue aja belagu banget muka lu!" dengan tidak tau malu, Liyora saat itu bergelayut manja di lengan saga sebelah kiri.
saat itu Saga segera melepas tangan Liyora dari lengannya dan menatap lekat Lesya. "Sayang, aku ajak kamu kesini cuman untuk nunjukin sama kamu kalo aku dan Liyora gak ada apa-apa lagi"
"Saga, harusnya kamu tidak perlu mempermalukan Liyora seperti ini Saga!" balas Lesya.
"ini memang pantas untuk perempuan yang manfaatin orang lain Lesya. dan kamu gak perlu merasa gak enak! aku tau kamu orang baik, tapi untuk orang seperti Liyora, cara ini emang pantas buat dia!"
"Saga" pekik Liyora yang menarik kasar lengan Saga.
"dengar Yora, gua udah inget semuanya. dan sekarang lo gak bisa manfaatin ingatan gua lagi. karna satu-satunya perempuan di hati gua itu cuman Lesya, ngerti!"tegasnya.
"iihh nyebelin banget si kamu Saga.. inget ya, penghinaan kamu ini gak bakal aku lupain. camkan itu!" Liyora menunjuk wajah Saga dengan jari telunjuknya. setelah merasa dipermalukan, Liyora memilih untuk pergi dari tempat itu.
sementara itu, Dikta yang sedari tadi mendengar semua perbincangan di antara ketiganya, ada rasa lega saat mengetahui bahwa Saga saat ini sudah mengingay kembali tentang Lesya.
"syukurlah, sekarang gua gak perlu cemasin mba Lesya karna Saga udah pulih. lebih baik gua sekarang lanjutin cari alamat rumah Dylan."
"kamu dan Lisa?" Nyonya Guntara menyipitkan kedua matanya saat mendapati besannya datang bersama perempuan yang notabene nya ingin merusak kehidupan pernikahan putri semata wayangnya.
"emm masuklah Lis"
saat itu nyonya Darmawan dan Liyora duduk bersebelahan di sofa ruang tamu kediaman Guntara. sementara nyonya Guntara, ia semakij merasa ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh besannya.
'apa Lisa ingin meminta maaf dengan putriku? tapi kenapa dia harus membawa gadis ini?'
"begini mba zura, aku ingin kita menyelesaikan salah paham."
"salah paham apa yang kau maksud Lisa?"
"aku dengar mba Zura akan mengizinkan Lesya kembali dan tinggal dirumahku, jika aku meminta maaf dengannya bukan?"
__ADS_1
"iya itu memang benar!"
"sebelumnya mba Zura harus tau, apa mba lihat luka Liyora?" Nyonya Darmawan memperlihatkan dahi Liyora yang terluka.
"lukanya cukup dalam" sambung nyonya Guntara.
"dan ini adalah ulah Lesya mba. dan aku sangat tidak suka dengan seseorang yang anarkis. aku dulu sangat mengagumi menantuku dan bangga karna di usianya yang masih muda, Lesya sudah menjadi CEO di sebuah perusahaan besar. tapi seketika pandanganku berubah saat aku melihat sifat aslinya yang benar-benar tidak terpuji.!"
"cukup Lisa, jangan kamu teruskan!"
"tapi bukannya selama ini mba Zura tidak terima? aku hanya meluruskan kesalah pahaman ini mba. sebebarnya aku tidak ingin hubungan dekat kita rusak, tapi jika harus rusak karena ulah anak mba, aku bisa apa?"
"dan satu lagi tante, tadi Lesya menyuruh Saga untuk sengaja mempermalukam aku di hadapan banyak orang dengan menunjukkan kalo Lesya itu sitrinya dan aku cuman ngrebut dia." Liyora mulai mengeluarkan jurus jitunya dengan air matanya.
"tapi bukankah ini juga sala Lesya? kenapa dia tidak mengatakan sejak awal kalo emang dia istrinya. kenapa waktu itu dia terima dan ujung-ujungnya aku yang disalahkan dan di permalukan"sambung Liyora.
"huh, kalian memang sama. sama-sama sangat pandai memutar balikan fakta yang sebenarnya." nyonya Guntara menatap Nyoanya Darmawan lekat.
"apa kamu tau Lisa, Lesya melakukan itu demi kesembuhan Saga. harusnya kamu tidak lupa itu! dan satu lagi, aku mengenal putriku dengan baik. dia tidak akan mempermalukan perempuan lain hanya untuk mendapat pengakuan!" tukas Nyonya Guntara.
"jadi itu menurut mba Zura? oke, kita lihat siapa yang benar! aku atau mba Zura!" nyonya Darmawan bangkit dari duduknya dan mengajak Liyora untuk pergi dari kediaman Guntara.
"ada apa ini?" saat nyonya Darmawan dan Liyora hendak pergi, saat itu Lesya dan Saga tengah kembali dari restoran.
"jadi ini yang kamu pilih Saga? mami harap kamu tidak lupa dengan ucapan mami tadi." ucap nyonya Darmawan dan melenggang pergi.
"mi tunggu mi.."Saga berusaha menahan ibunya untuk tudak pergi.
'ada apa sebenarnya? apa yang terjadi antara Saga sama mami?' Lesya menjadi gusar karena sikap yang ditunjukkan oleh mertua dan suaminya.
.
.
__ADS_1
.bersambung