It'S Perfect

It'S Perfect
Mencari Bukti


__ADS_3

Liyora berdiri sembari melihat arloji ditangannya. sementara itu Alden dan Dikta hanya mengikuti arah kemana Liyora berjalan.


"lu kenapa si Liyora, dari tadi mondar mandir gak jelas." selorohan Alden membuat Liyora menatapnya sekilas, namun ia kembali berjalan di depan kelasnya.


"Saga mana si, dari tadi kok gak keliatan! padahal jam pelajaran kan hampir aja mulai. ini kan baru hari pertama masuk!"


"Saga itu punya kesibukan lain Liyora, jadi wajar dia datang terlambat!"sahut Dikta.


"maksud lo kesibukan apa?" kini Liyora beralih menatap Dikta yang duduk tak jauh dari Alden. "dia itu punya istri, udah pasti dia lagi merhatiin mba Lesya lah Ra."


"istri diatas kertas maksud lo Dikta?" Liyora mendekat dan menyunggingkan senyumnya kepada Dikta. "disini yang harus diperhatiin Saga itu Gue, gue yang lagi hamil anaknya. bukan cewe tua yang selalu nyusahin dia!" sungut Liyora yang melenggang pergi keluar kelas.


Disisi lain, Saga masih sibuk dengan Lesya yang tengah menyiapkan sarapan. perlahan Saga melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik istrinya.


"terimakasih sayang, kamu mau memberiku kesempatan buat buktiin kalo bukan aku ayah dari bayi dikandungan Liyora." Saga menyandarkan dagunya di atas pundak Lesya manja.


"jangan bahas masalah itu sepagi ini Saga, atau aku tidak akan memasak makanan untuk kita sarapan!"masih dengan tangan yang bergerak dengan sepatula membolak balikan sayuran, Lesya terus menggerutu.


namun hal itu semakin membuat Saga gemas dengan tingkah istrinya, hingga Saga membalikkan tubuh istrinya dan mulai mengecup bibir ranum Lesya yang semakin seperti candu untuk Saga. sehingga Saga enggan untuk melepasnya.


hingga ketika Lesya menyadari ada bau hangus, sontak Saga dan Lesya segera mematikan kompor bersamaan. dan saat ini Lesya dan Saga hanya saling pandang.


"hahaha.." Lesya dan Saga tertawa lepas ketika menyadari sarapan mereka kali ini gagal, dan harus memesannya.


mereka pun segera melakukan ritual sarapan setelah pesanan mereka datang.


"emm Sayang.." Saga menatap Lesya yang tengah membereskan meja makannya.


"ada apa Saga?"


"aku khawatir dengan hubunganmu dan papa. aku tidak ingin kalian bertengkar karna hal ini!"


Lesya lalu meraih tangan Saga dan kini menatap lekat kedua manik matanya. "dengar Saga, aku memberi kesempatan bukan asal-asalan!"


"aku mau kamu membuktikannya bahwa kamu bukan lelaki yang tidak bertanggung jawab. karna aku tau kamu bukan laki-laki seperti itu."


"tapi Sayang, kenapa kamu tiba-tiba mempercayaiku? sebelumnya kamu bahkan pergi dari liburan kita.!"


"karna cinta" sesaat Saga terdiam mendengar ucapan Lesya yang benar-benar membuat Saga mengembangkan senyumnya.


"benarkah?" tanya Saga yang hanya ingin menggodai istrinya.


"hemm" balas Lesya dengan kedua alisnya yang terangkat, dan seketika Saga menariknya kedalam pelukannya.


'aku tau kamu laki-laki bertanggung jawab saat kamu mau menikahiku menggantikan kakakmu Saga, ya meskipun awalnya kita tidak saling jatuh cinta dan hanya menjalani pernikahan tidak lebih dari pernikahan kontrak!'


dan setelah itu, Lesya seperti biasa pergi kekantornya sedangkan Saga harus pergi kesekolah karena mulai hari ini ia mulai masuk sekolah.

__ADS_1


namun ketika Lesya sampai di kantor, ia justru dikagetkan oleh kedatangan ayahnya yang membawa bodyguard untuk membawanya pergi.


"ada apa pa, kenapa papa bawa banyak bodyguard?" Lesya terlihat bingung.


"bawa anakku masuk ke mobil!" tukas Guntara mengkordinasi para bodyguardnya.


"pa, jangan paksa Lesya! Lesya gak mau ikut papa, Lesya mau kerja pa!"


"kamu bisa kerja dari rumah kita! karna mulai hari ini kamu tinggal sama papa dan mama, papa tidak mau kamu tinggal dengan anak kecil yang tidak bertanggung jawab seperti Saga!"


"tapi pa.." Lesya terua memberontak, namun tenaganya tidak bisa mengalahkan orang-orang bertubuh kekar dan besar suruhan ayahnya.


💜💜


Saga terus menatap ke arah pintu rumahnya. namun ia belum mendapati seseorang yang ia tunggu-tunggu.


"atau gua datang aja kekantornya.." Saga lalu menggelengkan kepalanya "jangan dulu deh, mending gua telfon aja"


belum sempat Saga menghubungi Lesya, nama Liyora sudah lebih dulu tertera dilayar ponselnya.


"halo ada apa?"


"hei jangan galak-galak dong Saga. inget, aku masih mengandung anak kamu Sayang.. harusnya kamu perhatiin aku dong Saga!" rengek Liyora diseberang sana.


"jangan gila Liyora, bayi itu bukan anakku. silahkan kamu mencari siapa yang hamilin kamu, tapi yang jelas bukan aku"


Saga segera mengakhiri sambungannya dengan Liyora begitu saja. ia terlihat menehan emosinya dan berusaha tidak terlihat lemah di mata Liyora.


"gua bakal cari bukti itu segera, tapi gua harus jemput Lesya dulu sekarang."


Saga segera melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. cukup lama Saga menempuh perjalanan ke keantor milik Lesya, namun setelah sampai, Kantor tersebut sudah sepi. waajar jika kantor sepi melihat waktu sudah semakin malam, mungkin saja semua pegawai sudah meninggalkan kantor tersebut.


"dimana Lesya, spertinya kantor sudah kosong. dan kenapa ponselny susah dihubungi."


semburat kecemasan mulai terlihat dark wajah Saga.


"mending gua tanya sama tu satpam!"Saga lalu berjalan mendekat ke posko keamanan kantor. "permisi pak, apa bapak melihat Lesya?"


"oh bu Lesya, bu Lesya sepertinya tadi di bawa pergi oleh tuan Guntara den!"


"baik, kalo gitu terimakasih pak" tutur Saga dan kembali melajukan mobilnya. disepanjanh perjalanan, Saga terus memikirkan Lesya. ia begitu takut akan kehilangan istrinya.


-


Saga berdiri didepan gerbang rumah mertuanya, ia tidak diizinkan masuk, karena itulah perintah dari sang pemilik rumah kepada satpam yang bertugas menunggu gerbang .


"pak, aku ini suami Lesya! kenapa bapak melarang aku masuk?"

__ADS_1


"maaf den, ini sudah perintah."


tanpa menghiraukan ucapan dari satpam, Saga menerobos masuk. namun saat ia baru saja menginjak halaman rumah Guntara, ia sudah di hadang oleh banyak pengawal


"pa, jangan pukuli Saga. cepat suruh berhenti mereka memukuli Saga pa!" Lesya tidak tahan melihat suaminya diserang banyak pengawal.


Saga melawan beberapa orang dengan sangat maskulin, namun masih saja ia terkena pukulan sehingga menyebabkam luka dibeberapa bagian wajah. hingga tanpa Saga sadari seseorang memukul bagian belakang kepalanya. dan membuatnya tumbang.


"Saga.." Lesya berlari menghampiri Saga yang terkapar dihalaman rumanhya.


ia meletakkan kepala Saga tepat di pangkuannya.


"Saga, bangunlah Saga. aku ada disini!" Lesya menangisi Saga yang sudah tak berdaya, namun Saga mulai membuka kedua matanya.


perlahan Saga menggerakkan telapak tangannya untuk menghapus airmata yang mengalir di pipi Lesya. "hei, aku masih hidup sayang. kamu jangan menangisiku seperti itu, itu kesannya kaya aku udah mati aja!" didalam kondisinya seperti itu, Saga masih sempat melempar candaan untuk menenangkan Lesya.


"heuuu...." Lesya mengencangkan tangisannya dan memeluk erat suaminya. namun Guntara berusaha untuk menjauhkan Lesya dari saga.


"jika papa masih mau melihatku hidup, jangan pisahkan aku dengan Saga. tolong beri Saga kesempatan untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah pa.."


"pa, papa tolong jangan sekeras ini dengan Lesya. apa papa ingin Lesya kembali seperti saat Arvin pergi dari hidupnya?" nyonya Guntara berusaha membujuk tuan Guntara.


dan sekelabat bayangan saat Lesya bunuh diri pun membuat Guntara mencemaskan keadaan putri semata wayangnya. Guntara menarik nafas panjang "baiklah aku akan memberi kesempatan untuk suamimu, tapi jika dalam waktu satu minggu dia gagal membuktikannya, dia harus setuju pisah darimu Lesya!"


"itu tidak akan terjadi karna Saga pasti berhasil pa!" tanpa mendengar apa-apa lagi tuan Guntara pergi meninggalkan putrinya dan menantu juga istrinya.


namun ketika Lesya lega dengan jawaban sang ayah, ia dikejutkan oleh Saga yang sudah tidak sadarkan diri dan terlihat sangat pucat.


"ma, Saga ma..."


dalam beberspa menit Saga kini ditangani oleh dokter. keluarganya sudah menunggu di luar ruangan dengan cemas.


"sebenarnya ada apa ini Lesya?" tanya tuan Darma.


dan kini Lesya mulai menceritakan segalanya. orang tua Saga memang baru mengetahui saat Lesya mengatakannya, pasalnya baru hari ini mereka pulang dari luar negeri.


nyonya Guntara pun memeluk erat menantunya dengan lembut "terimakasih sayang, mami beruntung punya menantu sepertimu."


"iya Lesya, papi juga nanti pasti akan membantu Saga untuk mencari bukti tentang kebenarannya."


'kalau Saga sakit, otomatis dia belum bisa bekerja dikantor. dan dengan begitu rencanaku untuk membuatnya sibuk harus tertunda' disi lain Saka bukannya mengkhawatirkan keadaan adiknya, ia justri sibuk dengan ambisinya.


.


.


..bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2