It'S Perfect

It'S Perfect
Kita Hanya Mempunyai Satu Anak, Samuel!


__ADS_3

"Sekarang lebih baik kau pergi dari sini Dikta, om tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi" Titah Biantara sembari membuka pintu ruangan dimana Alden di rawat.


Saat itulah Biantara, Dita dan juga Dikta membulatkan kedua mata mereka dengan sempurna. Dan dalam sekejap wajah tegang berubah menjadi lebih tenang.


"Alden, kamu sudah sadar nak"


Dengan perasaan yang bahagia, Biantara berjalan hendak memeluk anaknya yang sudah sadar.


"Aku mencintai Dikta"


Seketika langkah Biantara terhenti dengan rahangnya yang mengeras. Ingin sekali ia memukul anak bungsunya itu, tetapi ia melihat selang infus di tangan anaknya sehingga Biantara mengurungkan niatnya untuk mem*kul Alden.


Jika saja Dikta belum mengatakan apapun kepadanya, mungkin Biantara menganggap ucapan Alden hanya sebuah candaan. Tetapi ini berbeda ketika ia sudah mengetahuinya dari Dikta sebelumnya.


"Alden, kamu harus kembali ke ranjang nak. Tidak baik untukmu berdiri terlalu lama disini" Biantara membantu Alden untuk kembali kedalam, tetapi Alden tidak bergeming dan melihat Dikta yang sudah babak belur.


Dengan langkah gontai, ia terhuyung menuju Dikta. Melihat hal itu, Dikta tidak membiarkannya dan langsung menangkap Alden agar tidak terjatuh.


"Alden" Ketika semuanya berteriak karena takut Alden terjatuh, saat itulah semua yang berada di depan ruangan Arga di tangani pun menoleh ke sumber suara.


Semuanya pun berjalan mendatangi Alden yang saat itu di bantu oleh Dikta untuk duduk.


"Akhirnya lo sadar Al" Ucap Saga yang merasa senang. Namun senyum di wajahnya pudar ketika mendapati Biantara yang sudah berdiri di tempat itu dengan istrinya.

__ADS_1


"Om, tante, kalian kok disini? " Tanya Saga heran.


"Dengar pa, ma, aku udah denger apa yang papa katakan ketika aku baru sadar. Dan semua yang di katakan tidak sepenuhnya benar"


Bukannya menjawab ucapan Saga, Alden justru langsung membahas tentang hubungannya dengan Dikta di hadapan banyak orang.


Dan disisi lain saat ini Dikta merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Alden yang mengatakan ucapannya tidak sepenuhnya benar. Apakah Alden akan menyalahkan Dikta dan menyangkal hubungannya dengan Dikta? Tentu saja memang apa lagi yang di harapkan oleh Dikta. Raut kekecewaan dan sendu terlihat jelas saat ini. Namun ia akan menerima apapun yang di katakan oleh Alden tentangnya. Dikta tidak akan membuat Alden yang di salahkan.


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Bukan Dikta yang mempengaruhiku untuk mencintainya, tapi aku sendiri sudah jatuh cinta dengannya semenjak aku tidak bisa mendapatkan mba Lesya waktu itu"


Semua orang yang mendengarkan ucapan dari Alden terperangah. Seorang Alden yang sangat terkenal dengan sifatnya yang suka memainkan perasaan perempuan justru jatuh hati dengan seorang laki-laki, bahkan sahabatnya sendiri.


Dan yang membuat tidak habis pikir semua orang, adalah Dikta seseorang yang bijak justru melakukan kesalahan sebesar ini? Kecuali Lesya dan Saga yang memang sudah mengetahuinya sejak lama dan juga Dita baru-baru ini juga ikut mengetahuinya.


Dan pertanyaannya itu menjadi pil pahit setelah Alden mengangguki pertanyaannya barusan.


Mendadak kedua kaki Riana terasa lemas, dan saat itulah ia akan terjatuh. Namun Biantara sigap menahan tubuh istrinya yang lemah.


"Pikirkan apa yang kamu katakan saat ini Alden, papa menunggu jawabanmu di rumah"


Biantara akhirnya Hendak membawa istrinya pulang dengan perasaan kecewa.


"Untuk apa menungguku pulang jika jawabanku tetap sama! "

__ADS_1


"Alden" Teriak Biantara sehingga membuat orang-orang yang mendengarnya tersentak.


"Kalau tetap dengan pendirianmu itu, lebih baik kau menganggap orang tuamu sudah tiada"


"Papa" Riana memegangi lengan suaminya dengan air mata yang berderai.


"Jangan melarangku ma, mulai sekarang kita tidak mempunyai anak sepertinya. Kita hanya mempunyai satu anak yaitu Samuel"


" Om, jangan memutuskan apapun dengan emosi om" Saga mulai menenangkan Biantara.


"Diam kau Saga. Kau, seharusnya nasehati sahabatmu itu. Dan ini juga salahmu, sebagai sahabat kau tidak memperingatkannya untuk tidak melakukan hal yang benar" Tukas Biantara dan berjalan pergi membawa istrinya.


Namun sebelum itu, Biantara kembali melihat putranya yang terlihat sendu. "Dan kau, jangan pernah kembali ke rumahku ataupun ke tempat-tempat milikku!"


Semua mata membulat mendengar apa yang dikatakan oleh Biantara, begitupun dengan Dikta dan juga Alden.


"Aku tidak akan membiarkan ini Al, aku akan menjelaskannya" Ketika Dikta hendak mengejar Biantara, Alden mencekal lengannnya dan menahannya agar tidak pergi.


.


. Bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2