It'S Perfect

It'S Perfect
Carikan Penghulu


__ADS_3

Alden hendak membalas ucapan Samuel, tetapi Samuel mengisyaratkan agar Alden tidak mengatakan apapun. Samuel memperlihatkan ponselnya yang terdapat tulisan sesuatu.


"Semuanya, lebih baik sekarang kita mulai acara makannya. Setelah ini kita akan lanjut membahas lagi tanggal pertunangan mereka"


"Apa yang kamu katakan memang benar Samuel, tolong siapkan semuanya ya" ucap ibu Alden memerintahkan pelayan untuk menyiapkan semuanya.


Setelah melalui semua acara makan, kini keluarga Alden dan calonnya mulai membahas untuk mencari tanggal pertunangan. Lagi-lagi Alden ingin buka suara, namun Samuel pun sama halnya. Yaitu mencegah Alden untuk berbicara.


Hingga akhirnya tunangan ditetapkan satu pekan lagi Alden akan melakukan pertunangan.


"Alden, papa sama mama kamu harus keluar kota lagi. Malam ini kami akan langsung menuju kebandara!" Ujar Bian


"Secepat itu? Padahal ada yang mau Alden katakan pa mengenai pertunangan ini"


"Kalian tidak perlu menunda pemberangkatan, biar Samuel yang akan menangani bocah manja ini pa, ma!" Potong Samuel.


"Kami percaya sama kamu Samuel, bimbing adik kamu"sahut Riana


Setelah berbicara hal itu, orang tua Alden meninggalkan restoran tersebut.


Samuel menatap Alden lekat, Alden yang mendapat tatapan seperti itu. Ia kemudian ditarik oleh Samuel menuju ruangan Dikta yang ada diatas.


"Dikta, apa kau didalam?"


Sebenarnya Samuel melihat Dikta yang baru saja masuk kedalam ruangannya, pasalnya sedari tadi Dikta mengintip pertemuan keluaraga Alden.


"Ya, masuklah" sahutnya.


"Kak Muel, apa kabar kak?" Dikta menjabat tangan Samuel dengan tersenyum tipis.


"Aku baik, tapi aku sedang tidak baik saat ini"


"Baik tapi tidak baik?" Tanya Dikta yang sulit mencerna ucapan dari Samuel.


"Apa yang kau katakan kak? Kenapa hari ini kau penuh dengan teka-teki hmm?"


Samuel bangkit dari duduknya. Ia berjalan memutari Alden dan menarik Dikta untuk duduk disebelah Alden. Ia menatap penuh selidik kedua insan yang ada dihadapannya saat ini.


"Oh ya kak, kenapa tadi kau menulis kalau kau akan pergi dan tidak kembali lagi jika aku menolak pertunangan? Dan membuatku tidak bisa menolaknya dengan tulisanmu itu."


"Jadi lu terima pertunangannya Al?"tanya Dikta.


Alden mengangguk, namun setelah itu ia mengirim pesan kepada Dikta. Dengan segera Dikta membuka pesan yang Alden kirimkan.


▪mungkin saat ini aku harus bertunangan, tapi nanti aku pasti akan membatalkannya Ta. Kalau aku menolak sekarang, keluarga akan mempertanyakan kenapa aku menolak sebelum mengenal gadis itu.


Dikta menatap Alden lekat, namun dehaman seseorang membuat kedua tersadar bahwa saat ini mereka tidak hanya berdua melainkan bertiga dengan kakak Alden.


"Okey, alu mengajakmu bertemu dengan Dikta karna ada yang ingin aku sampaikan" ujar Samuel.

__ADS_1


"Aku ingin Dikta membantu untuk mempersiapkan kencan untuk Al dan steva. Bagaimana Dikta, apa kamu mau membantu kakak sahabatmu ini?"


"Okey aku akan membantu kakak" timpal Dikta meskipun ia ragu.


"Karna aku akan berangkat malam ini juga, tolong urus semuanya untuk Alden Dikta. Jangan kecewakan aku! Ya sudah aku harus pergi"


Setelah selesai dengan ucapannya, Samuel segera beranjak dari tempat duduknya. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, Samuel melihat Alden dan dikta bergantian. Ia tau saat ini Dikta begiyu terpukul mendengar pertunangan Alden, namun ia tidak bisa membiarkan Dikta dan Alden untuk bersatu.


'Maaf, kakak harus melakukan ini. Kalian salah karna memiliki hubungan terlarang, jadi dengan aku meminta Dikta untuk membantu persiapan, aku harap Dikta akan sadar bahwa Alden memang bukan untuknya begitupun sebaliknya' itulah yang ada dibenak Samuel.


Setelah kepergian Samuel, keduanya hanya saling menatap satu sama lain.


Ditempat lain kini Yoo joon berencana untuk menemui Dita. namun ketika ia sampao didepan rumah Dita, ia mendapati Dita yang tengah berpelukan dengan Dylan.


Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang helas saat ini perasaan Yoo joon tidak baik-baik saja. Ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.


"Apa Dita belum bisa terima aku, karna dia lebih memilih Dylan? Tapi kenapa Dita tidak pernah mengatakannya langsung? Aisshh .." Yoo joon memukul kemudinya dan mengacak rambutnya kasar.


Brak..


Tanpa ia sadari, ia telah menabrak seseorang. "Astaga, aku menabrak seseorang"


Yoo joon lalu memeriksa keadaan orang yang ia tabrak, saat itu nadinya sangat lemah. Yoo joon memutuskan untuk membawanya kerumah sakit, namun ketika ia hendak mengangkatnya seseorang berteriak dari arah belakang tubuhnya.


"Nenek.." teriak seseorang yang berlari dan disusul oleh seorang perempuan dibelakangnya.


"Andi! Kai asisten Lesya kan?"


"Jadi bapak yang menabrak nenek saya?"


"Aku tidak sengaja Andi"


"Sudah lebih baik kita langsung bawa nenek ke rumah sakit Andi" ujar Via.


Jalanan cukup padat, saat ini Andi begitu cemas melihat darah yang terus menerus keluar dari kepala neneknya. Hingga akhirnya setelah menempuh waktu 30 menit, mereka tengah sampai di rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menangani nenek Andi. Via memperhatikan Andi yang sangat kalut.


Klek


"Keluarga pasien, pasien ingin bertemu" ucap Dokter


Kini Andi, Via dan juga Yoo joon pun masuk kedalam ruangan dan melihat keadaan nenek Andi yang sangat lemah.


"Andi"


"Iya nek.." ucap Andi seraya menggenggam erat tangan neneknya.


"Dimana Via?" Sambungnya dengan suara yang lemah namun masih bisa terdengar.

__ADS_1


"Via disini nek" ujar Via berjalan mendekat ke arah nenek dan juga Andi.


Nenek Andi mengulas senyum diwajahnya. Ia menatap Andi dan juga Via bergantian. Ia lalu menyatukan tangan Andi dan juga Via.


"Sepertinya umur nenek sudah tidak lama lagi.."


"Jangan bicara seperti itu nek" ucap Via.


"Nenek mau melihat kalian menikah sekarang, karna Nenek sudah tidak tahan"


"Tapi nek"


Surr..


Darah segar keluar dari mulut nenek Andi, sontak hal itu membuat semuanya semakin cemas.


Via pun segera membersihkannya dengan tisu yang tersedia diruangan itu.


"Nek, nenek harus kuat" ucap Andi


"Tolong turuti permintaan terakhir nenekmu ini Andi, setidaknya akan ada yang merawatmu setelah nenek tiada"


"Aku tida suka nenek berbicara seperti itu" potong Andi


Nenek Andi lalu melihat ke arah Yoo joon ia melambaikan tangannya unyuk memanggil Yoo joon.


Yoo joon lalu mendekat.


"Nek, maafkan Saya. Saya menyesal membuat nenek seperti ini"


"Aku tidak apa-apa nak, tapi nenek minta sesuatu padamu"


"Iya nek, apapun yang bisa pasti akan aku lakukan untuk nenek"


"Jadilah saksi dan tolong carikan penghulu untuk pernikahan cucuku nak"


Yoo joon melihat kearah Andi, ia bingung apa yang harus ia katakan terhadap Nenek Andi saat ini.


Andi lalu mengangguki dan Yoo joon pun menyanggupi permintaan Nenek Yoo joon.


'Kenapa, kenapa Andi langsung menyetujuinya? Kenapa dia tidak bertanya padaku? Ya, mungkin memang benar aku memiliki rasa dengannya, tapi aku tidak ingin menikah dengan keterpaksaan. Terlabih aku tau Andi sangat menyukai bu Lesya!'


Entah apa yang ada dipikiran Andi, ini benar-benar membuat Via bingung.


.


.bersambung


.

__ADS_1


__ADS_2