
Malam itu setelah perdebatan, Lesya terduduk di sebuah gazebo belakang rumah. ia begitu kecewa dengan Saga yang memandang dirinya seperti itu.
Lesya terus mengusap air matanya yang tak hentinya mengalit.
"boleh aku duduk?"
"duduklah Yoo joon!"
"apa yang membuat kamu bertahan dipernikahan seperti ini Sya?"
mendengar pertanyaan dari Yoo joon, Lesya seketika menatap kearah Yoo joon yang menatapnya teduh.
"apa yang kamu harapkan dengan mencintai secara sepihak? kamu lebih dari Saga,Lesya! kenapa kamu rela di injak-injak seperti ini?"
Lesya kembali menghapus air matanya, ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"ini gak seperti apa yang kamu pikirkan Yoo joon. banyak hal yang kamu gak tau, jadi tolong jangan nilai saga seperti itu!"
Yoo joon menautkan kedua alisnya, "kamu masih belain dia Lesya?"
"ada alasannya Saga seperti itu, Saga mengalami amnesia sehingga yang ia ingat adalah kehidupan sebelum menikah denganku" Lesya kembali menatap ke arah depan. "dan aku tau dia bisa berpikir seperti itu karena dia mendengar hal-hal yang tidak utuh. dia hanya mendengar sebagian cerita dari seseorang yang tidak bertanggung jawab"
Yoo joon terus mendengar cerita Lesya tanpa menyelanya lagi. ia memandang wajah Lesya daei samping, terlihat tegar. namun ia tau serapuh apa Lesya, karena ia mengenal sahabatnya itu sejak kecil.
"mungkin saja waktu itu Saga merasakan hal yang sama, dan tuhan ingin aku juga merasakan apa yang dirasakan oleh Saga!"
Lesya melihat Yoo joon yang terlihat mengerutkan dahinya "aku tau kamu bingung Yoo joon" Lesya lalu menarik nafas berat. "asal kamu tau Yoo joon, aku sempat mengalami hal yang sama dengan Saga!"
"maksud kamu, kamu pernah amnesia Lesya?"
Lesya menatap Yoo joon dan menganggukan kepalanya perlahan "mungkin bedanya saat itu aku mengenali Saga sebagai Arvin, dan setaukubdari cerita orang lain, aku mencintai Saga sebagai orang lain. dan aku yakin saat itu Saga sangat terluka, dan mungkin ini balasan yang harus aku rasain."
"baiklah Lesya, sekarang aku tau keseluruhan cerita kalian. tapi Saga tidak seharusnya seperti itu. setidaknya dia tau bahwa kamu istrinya, dan saat dia ingin menilai seseorang, harusnya dia mengenali orang itu sendiri. bukan dari ucapan orang lain!"
"yang aku bisa saat ini adalah berusaha terus bersabar untuk menunggu Saga kembali mengingatku, dan aku tidak ingin hal ini membuat Saga tertekan yang akan mempengaruhi kesehatannya. jadi aku tidak akan memaksanya untuk meninggalkan Liyora, asalkan mereka masih dalam batasan yang wajar!"
Lesya lalu bangkit dari duduknya "ini sudah larut Yoo joon, aku harus kembali ke kamarku. kamu juga harus istirahatkan" Lesya perlahan berjalan masuk, sementara itu Yoo joon masih memperhatikan Lesya dari belakang hingga Lesya tak terlihat dari pandangannya.
"kamu begitu dewasa menghadapi masalah ini Lesya, dan hal ini semakin membuatku kagum!" Yoo joon tersenyum tipis.
_
waktu berjalan cukup cepat, pagi ini Lesya menyiapkan semua sarapan. hari ini Lesya memutuskan untuk tidak berangkat ke kantornya. pasalnya matanya yang masih sembab adalah alasannya untuk tidak ke kantor, Lesya tidak ingin karyawan dan ayahnya melihat kondisinya saat ini.
"pagi sayang.. kenapa sepagi ini kamu sudah memasak banyak sekali Lesya?" tanya nyonya Darmawan mengusap pundak menantumya lembut.
__ADS_1
"aku hanya ingin memasak untuk kalian"
"apa kamu sudah membaik sayang?"
Lesya hanya tersenyum dan mengangguki pertanyaan dari ibu mertuanya.
pagi itu semuanya turun untuk makan, kecuali Saga.
nyonya Darmawan yang menyadsei itu segera menyuruh asisten rumah tangganya untuk memanggilkan Saga.
"maaf nyonya, den Saga tidak ingin sarapan. den Saga sepertinya demam karena bibi lihat den Saga begitu lemah!"
"astaga Saga"
Lesya lalu mencekal tangan ibu mertuanya "kalian makanlah, aku akan membawakan makanan ke kamar Saga!"
"iya sayang" ujar nyonya Darmawan dengan tersenyum manis.
tok tok
"aku sudah katakan aku tidak akan kebawah bi, jadi bibi kembalilah bekerja!" suara Saga dari balik pintu kamarnya.
Lesya akhirnya memutuskan untu masuk. ia membawa sebuah nampan yang berisi menu sarapan juga obat untuk Saga.
"aku membawakanmu sarapan, dan juga obat Saga"
"gua gak punya niat buat sarapan, mending mba Lesya makan aja sendiri" kini Saga kembali membenamkan dirinya kedalam selimutnya.
"kalo begitu aku tidak akan keluar dari kamar ini, aku akan tetap nungguin kamu sampek kamu mau makan dan minum obat!"
Saga kembali membuka selimutnya dan menatap malas Lesya. "gua gak mau makan mba Lesya, gua mau istirahat"
"kamu istirahat setelah makan ini!" tukas Lesya
"ni orang ngeyel banget si, ya udah mana?"
seketika senyum Lesya terukir di wajahnya setelah Saga bersedia untuk makan. namun saat Saga hendak mengambil Sendok, tiba-tiba Sendok terjatuh karena tangan Saga bergetar.
"aku yang akan suapi!"
"gak, gua bisa makan sendiri!"
"makan dengan tangan yang bahkan megangin sendok aja jatuh?" Lesya mengangkat kedua alisnya.
"huff, ya udah cepet suapin!"
__ADS_1
Lesya tersenyum saat menyuapi suamimya yang seperti bayi saat makan, begitu berantakan seperti anak kecil. Lesya sesekali mengusap makanan yang berantakan di wajah Saga.
'apa selama ini gua salah nilai lu mba? kenapa lu sabar banget ngadepin gua. dan semalem juga waktu gua diem-diem merhatiin lu waktu ngomong sama si Yoo joon, lu gak pernah bicara buruk tentang gua di hadapan cowok itu? apa mungkin memang mba Lesya gak seburuk itu?'
saat Saga menikmati lamunannya, tanpa terasa piringnya sudah kosong. "sudah habis, sekarang kamu minum obatnya Saga. setelah ini kamu baru istirahat!"
selama seharian penuh Lesya terus merawat Saga, tanpa sadar waktu sudah malam. namun saat Lesya tengah membawa makan malam untuk Saga, tiba-tiba ponsel Saga berdering.
"iya Yora ada apa?"
"kamu kemana si Saga, tadi kamu gak berangkat sekolah! dan padahal harusnya tadi kamu temenin aku brlanja kan?" ucap Liyora dari seberang sana.
"emm aku lagi gak ebak badan Yora, jadi maaf ya hari ini aku gak bisa nganterin kamu belanja."
"apa? sakit! aku kesitu ya Saga, aku mau lihat keadaan kamu!"
"emm ini kan udah malem Yora, besok aja ya kamu kesininya"
akhirnya merekapun mengakhiri panggilannya. dan saat itu Saga mencari keberadaan Lesya, namun tidak ia temukan.
ceklek
seketika pandangan Saga tertuju pada pintu kamarnya yang baru terbuka. "maaf aku sedikit lama Saga. makanan yang tadi aku bawakan sudah dingin, jadi aku bawakan yang baru yang masih hangat."
Lesya lalu duduk ditepian ranjang dan mulai menyuapi Saga dengan penuh pernatian.
seusai Saga menghabiskan makanan dan meminum obat, Saga lalu bersiap untuk tidur.
ketika Saga membuka matanya karena terbangun di tengah malam, ia mendapati Lesya yang tertidur denga posisi duduk di sofa yang ada di kamar Saga dengan termometer yang masih ditangannya.
perlahan Saga mendekat, ia berjongkok memperhatikan Lesya yang terlelap. Saga memperhatikan tiap inci dari wajah Lesya. Saga lalu menyibak helai rambut yang menutupi bagian wajah Lesya.
'kelihatannya lu nyenyak banget tidurnya mba. lu kecapean seharian ngurusin gua ya mba?'
Saga kemudian mengambil termoter dari tangan Lesya dan menaruhnya di atas meja. perlahan Saga membenarkan posisi Lesya untuk berbaring. Saga lalu mengambilkan selimut untuk menyelimuti Lesya. 'apa selama ini gua udah keterlaluan?'
Saga lalu kembali berbaring diranjangnya, namun ia masih terus memandangi Lesya yang tertidur di atas sofa. 'apa bener kata mba Lesya, gua cuman medengar separuh cerita tentang dia? dan ucapan Yoo joon gua akui juga benar, jika gua mau mengenali seseorang, gua harus berusaha mengenalnya sendiri. bukan dari orang lain!'
.
.bersambung
.
.
__ADS_1