It'S Perfect

It'S Perfect
Siapa Yang Mendatangi Rumah Mantan Istrinya


__ADS_3

Dengan bantuan sang perawat, Saga dan Lesya membawa Dita untuk ditangani oleh dokter. Namun disepanjang perjalanan menuju ruangan, Dita terus menangis.


"Ini emang salahku, harusnya aku tidak setuju waktu Alden meminta pulang dan justru membuat Alden sibuk mengurusi restoran, karena lelah Alden harus dibawa ke rumah sakit lagi. Dan tadi.. Bukannya menemani Alden, aku malah ninggalin dia" Dita menangis sesenggukan dengan memegangi perutnya yang terasa amat sakit.


"Sudah tenanglah Dita, jangan menangis." Ucap Lesya


Karena melihat Dita yang terus menangis, akhirnya petugas medis memberi suntikan penenang dan membuat Dita tertidur.


Via yang baru keluar dari ruangan dokterpun terkejut karena melihat orang-orang yang ia kenal berada di rumah sakit.


"ada apa ini, kenapa kalian ada di sini?"


Semuanya terdiam, dan saat itulah Andi membawa Via sedikit menjauh dan mengatakan semua yang baru saja terjadi. Hal itupun membuat Via terkejut.


"Andi, bagaimana bisa pak Alden yang kita lihat segar dan ceria, ternyata memiliki penyakit yang parah? "


Via menatap iba ke arah orang-orang yang tengah menunggu di luar ruang operasi.


"Aku juga baru tau belum lama Via, ketika Rea masuk rumah sakit. Saat itulah aku dan tuan Arga yang membawanya untuk di tangani dokter karena kami melihat nya pingsan"


"Dan asal kamu tau Via. Bahkan, pak Dikta tadi sangat marah dengan pak Saga dan juga bu Lesya! "

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?"


"Pak Dikta marah karena hanya dia yang tidak tau dengan kondisi pak Alden saat ini."


Via mengangguki ucapan Andi tanda mengerti. Setelah berbicara dengan Andi, Via harus berpamitan untuk pulang karena saat itu Rea bersmanya. Andi pun mengantarkan Via ke rumahnya.


Tetapi ketika mereka berdua sampai, mereka melihat seseorang yang berperawakan tinggi berdiri membelakangi mereka di depan pintu rumah Rea yang tengah berbincang dengan suter yang ada di rumah Via.


Dahi Andi berkerut menelisik siapa pria yang mendatangi rumah mantan istrinya. Dan ketika mereka menghentikan mobil di halaman rumah Via, orang tersebut seketika menoleh ke arah mereka berdua.


"Pak Doni?" Ucap Via yang berjalan ke arah Doni yang diikuti oleh Andi dibelakangnya.


"Iya sore pak, ada apa pak Doni datang kesini? "


"Aku hanya ingin melihat keadaan Rea, nona Via. Kemarin waktu aku kembali dari luar kota, Arga bilang kalau Rea sakit"


"Oh terimakasih pak Doni sudah mau repot menjenguk Rea. Tapi Rea sudah baik-baik saja pak"


"Syukurlah. Oh ya, ini untuk kalian berdua"


Ekor mata Andi terus melihat bingkisan yang ada ditangan Doni. Ia menyipitkan matanya seakan menaruh curiga dengan apa yang diberikan oleh Doni.

__ADS_1


"Tunggu Via, seharusnya kamu memeriksanya lebih dulu. Kamu taukan Rea itu baru saja sembuh, dia tidak bisa menerima sembarangan barang dari orang lain"


"Kamu boleh memeriksanya nona,Via. Aku tidak mungkin memberikan barang yang tidak aman untukmu dan Rea"


Saat itu Via mengulum senyuman menatap Doni "tidak perlu pak Doni, aku percaya. Dan terimakasih pak Doni justru mau repot dan memberi oleh-oleh untuk kami berdua"


Entah mengapa,melihat senyuman dan mendengar tutur kata lembut dari mulut Via untuk Doni, membuat Andi merasa kesal.


"Gue nggak akan biarin pak Doni deketin Via" Andi bergumam dan membuat Vai memicingkan matanya.


"Kamu berbicara sesuatu Andi? "


"Emm tidak Via"


"Lalu kenapa kamu masih disini, pulanglah. Mungkin saja ibu dan calon istrimu sudah menunggumu di rumah"


"Aku tidak pernah setuju menikahi Rizza, Via"


"Entahlah, itu keputusanmu. Seperti kamu menceraikanku ketika ibumu menyuruhnya dan menginginkanmu buat menikahi perempuan itu" Via tersenyum getir dan mengajak Doni untuk masuk kedalam.


Sementara Andi masih berdiri mematung di depan rumah Via. Ia justru mengingat disaat ibunya dan Rizza mempengaruhinya dan bodohnya ia langsung percaya begitu saja karena emosi yang belum mereda.

__ADS_1


__ADS_2