
Lesya terlelap setelah ditangani oleh dokter. sementara itu Saga masih belum tenaga karena dokter belum mengatakan apapun perihal kandungan Lesya.
"emm tuan Saga, bisa kita berbicara"
"oh baik dok"
Saga meninggalkan Lesya didalam ruangan bersama dengan kedua orang tua Lesya. Dan saat itu ia mengikuti kemana dokter mengajak nya berbicara. perasaanya sudah gelisah sejak ia mengetahui Lesya disekap oleh para preman, dan ditambah lagi dokter harus mengajaknya keluar ketika ingin membicarakan hasil atas pemeriksaan Lesya.
"ada apa dok, kenapa anda mengajak saya keluar? apa ini menyangkut kandungan istri saya? "
"benar tuan Saga. saya hanya ingin mengatakan bahwa kandungan istri anda saya akui sangat kuat tuan Saga. setelah semalaman tidak mengkonsumsi apapun, dia masih sekuat saat ini tuan Saga. hanya saya sarankan setelah ini ada baiknya untuk anda dan istri anda berlibur tuan Saga"
"fuh.. saya kira ada yang membahayakan dok. tapi untung saja hasilnya diluar dugaan. tapi saya sangat senang mendengarnya dok. terimakasih atas saran dari dokter"
Saga tersenyum penuh karena apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. dan setelah itu sangat dokter pun meninggalkan Saga untuk menangani pasien yang lain.
saat itu Saga melihat kedua sahabatnya yang masih terduduk di bangku tunggu di depan ruangan Lesya.
Saga lalu teringat dengan ucapan Alden yang akan menceritakan apa yang menyebabkan dirinya memanggil Lesya untuk merawat Dikta.
Saga pun bergabung dengan kedua sahabatnya, saat itulah Alden menarik nafas dalam dan mempersiapkan diri untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
pandangan mata Saga terus melihat kearah tangan Dikta yang terus bergenggaman dengan Alden. sontak Saga berpikir bahwa ada sesuatu antara Dikta dan Alden, namun ia segera menepisnya. 'nggak mungkin, gua tau Alden itu sangat senang bermain perempuan. sementara Dikta, Dikta seseorang yang bijaksana. jadi mana mungkin..' Saga tidak melanjutkan ucapannya.
"ada yang harus kita bicarakan Saga, tapi nggak disini"
Dikta dan Alden mengajak Saga untuk mencari tempat yang jauh dari lalu lalang orang di rumah sakit.
pandangan mata Saga tidak lepas dari tangan yang sedari tadi terus bertaut, hingga pikiran itu muncul kembali. Saga yang tidak tahan dengan pikirannya segera memberhentikan keduanya.
"sebenarnya apa yang kalian sembunyiin dari gua? dan itu apa itu? " Saga menunjuk tangan Alden dan juga Dikta.
"inilah yang ingin kami bicarakan Saga! " ucap Dikta sembari mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Alden.
"apa maksud dari perkataan lu Dikta? "
"gua sama Alden pacaran!" tegas Dikta.
__ADS_1
"apa? " Saga begitu terkejut mendengar statment yang ungkapkan oleh Dikta. bahkan ia tidak pernah membayangkan apa yang selama ini ia lihat di media justru saat ini terjadi pada kedua sahabatnya.
"apa ini waktunya bercanda Ta, Al? gua tanya benaran! "
"kita gak bercanda Ga! " sahut Alden menimpali pertanyaan Saga.
sontak suasanan menjadi bersitegang karena ucapan Alden. Saga tidak pernah berpikir bahwa ada fair antara Dikta dan juga Alden.
"jadi, kalian berdua benar-benar menjalin hubungan? "
keduanya mengangguk dan seketika Saga menunduk. "apa Lesya tau hal ini? "
"ya, mba Lesya tau soal ini. tapi kami melarangnya memberitaumu Saga." ucap Alden.
"awalnya mba Lesya tnggak mau ngerahasiain ini dan ingin mengatakan langsung ke lo Sgaa. tapi karena kami berjanji akan memberitaumu sendiri, makanya mba Lesya menuruti kami" sambung Dikta.
"lalu, kenapa lo nyuruh Lesya buat ngobatin Dikta? "
saat itu Alden menceritakan kejadian yang menimpanya dengan Dikta. dari awal penyekapan dari Samuel hingga, persetujuan Samuel tentang hubungannya. dan karena itulah Saga mulai mengerti kenapa Lesya tidak mengatakan apapun kepadsnya dan memilih menerima kemarahan Saga yang akhirnya menyebabkan dirinya dalam bahaya.
_
"Emm Vi, lo tadi kenapa gak masuk kedalam mobil gue? " Andi memulai pembicaraan dan membuat Via berhenti melanjutkan kegiatan makannya.
"gue cuman gak mau gangguin lo berduaan sama Chika Ndi, kayaknya waktu itu Chika masuk kedalam mobil"
"astaga Via, lo lupa Chika itu baru ngerayain jadiannya loh waktu itu. mana mungkin gue mau berduaan sama Chika? "
"tapi tadi Chika bilang dia udah ditungguin sama lo Andi, jadi gue Terima tawaran pak Doni lah, dari pada gue jalan kaki? "
seketika Andi terkekeh dengan penuturan dari Via. sementara Via, ia justru mengernyitkan dahinya ketika melihat Andi terkekeh.
"ada apa Andi, apa yang lo ketawain? "
"gue tau tadi lo pasti cemburu kan Vi lihat Chika masuk kembali gue? "
sontak Via sempat terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Andi yang mengatakan bahwa dirinya merasa cemburu karena kedekatannya dengan Chika.
__ADS_1
"Andi, lo kalo becanda jangan kayak gitu lah. kadang otak gue nyampe tau."
"terus kalo gak cemburu apa namanya? kalo lo gak cemburu, lo pasti langsung ikut masuk ke mobil dong Vi? "
"ya gue cuman ngikutin sama kata-kata lo tau Andi? "
"maksudnya?" sekarangbjustru Andi yang belum memahami ucapan Via.
"iya waktu itu lo bilang lo gak akan jadi penghalang kalo ada yang deketin gue, jadi gue pun sama, gua juga gak mau ngehalangin lo deket sama cewek lain! "
sebenarnya ketika Via mengatakan hal itu ia merasa sesak di dadanya. ia harus merelakan seseorang yang sebenarnya menjadi penguasa hatinya. tetapi Via tidak berani menyatakan perasaannya dan justru semakin menyembunyikan nya dari Andi.
'kenapa rasanya nyesek waktu Via bilang gak mau ngehalangin seseorang yang deket sama gue ya? padahal gue suaminya, apa dia benar-benar gak ada kepinginan buat ngelindungin suaminya dari godaan perempuan lain? '
"ya udahlah mending kita lanjut makan Andi. gak usah ngobrolin apa-apa lagi" pungkas Via.
"tapi Vi, masalah yang kemarin gue minta maaf ya, gue gak sengaja! "
"maksud lo apa si Andi? "
"iya soal ciuman itu gue minta maaf! awalnya gue mau ngagetin lo., tapi ternyata justru malah jadi kayak gitu. sorry ya Vi"
"iya udah gue maafin Andi"
"oh ya Vi, ngomong-ngomong lo pernah ciuman sama pacar lo nggak? soalnya kemarin lo kaku banget. apa karna itu karna kita gak sengaja ya? "
sontak ucapan Andi membuat pipi Via bersemu merah. andai saja Andi tau jika ciuman tersebut adalah yang pertama untuk Via. dan dia adalah laki-laki yang beruntung karena menjadi laki-laki pertama yang menyentuhnya.
"iya itu yang pertama buat gue Andi, karna lo tau kan gue gak pernah pacaran smaa siapapun"
deg
Perasaan Andi mendadak terhenyak karena Via mengatakan bahwa itu yang pertama baginya.
'jadi gue yang pertama? ' batin Andi
.
__ADS_1
.
. bersambung