
Lesya bersandar disandaran ranjang temoat tidur miliknya. malam ini malam yang panjang untuk Lesya yang harus tidur sendiri tanpa ditemani suaminya.
ceklek
"sayang.."panggil nyonya guntara yang kini duduk di sampingnya.
"mama.." Lesya menjatuhkan kepalanya tepat di pangkuan sang ibu. tanpa berkata apapun lagi, ia menangis sejadinya.
nyonya Guntara tidak mengucapkan apapun, ia menenangkan putrinya dengan menepuk-nepuk pelan punggung anaknya dan sesekali mengelus puncuk kepalanya. ia tahu, bahwa saat ini Lesya hanya membutuhkam perhatian untuk menumpahkan semua kesedihannya.
Ditempat Lain kini Saga memijit kepalanya yang terasa pening, disana Saga terdiam mendengar semua ucapan dari keluarganya yang terkesan menyudutkannya.
"kamu kalo udah gak cinta sama Lesya, gak usahlah selingkuh segala! tinggal ceraiin aja apa susahnya Saga, dengan kaya gini kamu malah nyakitin dia kan?!" Saka semakin membuat suasana menjadi tambah memanas.
tanpa membalas ucapan dari Saka, Saga segera pergi keluar rumah tanpa memikirkan perasaan orangtuanya yang begitu kecewa.
Saga terduduk disebuah sofa dengan minuman yang ada ditangannya. ia terliht mabuk dengan ditemani Alden dan juga Dikta.
"Ga, jangan minum terlalu banyak."
Saga melirik tajam kearah suara yang begitu familiar ditelinganya, seketika ia membanting gelas yang ada ditangannya. "lu gak usah ceramahin gua, gua kaya gini itu karna lu yang gak pecus ngawasin semuanya Dikta!" Saga memekik dan menarik kaos yang dikenakan oleh Dikta.
"jangan kaya ginilah Ga, Dikta udah berusaha ngawasin semuanya!"Alden berysaha menengahi. "tapi, apa ini benar-benar karna kelengahan Dikta? atau justru memang ini kebenaran yang berusaha lu tutupi dari kami semua" kali ini Alden menatap penuh selidik kearah Saga.
"lu nuduh gua selingkuh sama Liyora Al?" Saga membulatkan matanya dan siap membogem Alden. Ya, Saga memang dalam pengaruh alkohol sehingga emosianya tidak stabil.
"stop stop jangan berantem disini!" ucap salah satu witers
"Diem lu!" pekik Alden dan Saga bersamaan.
'astaga salah gue apaan? tau-tau dibentak sama mereka! untung cakep kalo nggak, udah gue getok pakek nampan' batin witers tersebut.
"maaf mba, biar saya yang misahin mereka. mereka sedang tidak stabil, takutnya mba yang kenapa-napa!" tutur Dikta yang kemudian diangguki oleh sang witers perempuan yang kini memilih berdiri dibelakang Dikta.
'nah yang ini tipe gue banget,udah cakep sopan lagi.. beuh demi apa, semoga aja kita jodoh' witers tersebut asik dengan lamunannya sendiri.
"kalian ikut gua sekarang!" dengan tenaganya, Dikta menarik kedua sahabatnya dan memasukkannya kedalam mobilnya.
setelah ia sampai di apartmen miiliknya,ia menarik oaksa kedua sahabatnya dan menceburkan keduanya kedalam bathup dan mengguyurnya dengan air dingin.
__ADS_1
"lu gila ya Ta, lu siram kita pakek air dingin di malam hari hemmm?" ucap Alden yang segera bangkit. sementara itu, Saga justru terdiam dan menyugar rambutnya keatas.
"gua tau ada seseorang yang bekerja sama dengan Liyora! karna gua yakin gua gak pernah lakuin itu sama Liyora." ucapan Saga membuat Alden dan juga Dikta saling menatap.
💜💜
Liyora dan Friska masih mematung setelah mengetahui seseorang yang tidak ia sangka ternyata yang membuat dirinya selangkah lebih dekat dengan tujuannya untuk mendapatkan Saga.
"kalian masih tidak percaya kalau aku benar-benar menginginkan hal itu terjdi?"
"eghem, maksudku perceraian Saga dan juga Lesya. yang seharusnya memang bukan istri Saga tetapi istriku!" sambungnya lagi.
"jadi kak Saka menyesal karna membuat cewe tua itu jadi istrinya Saga?" sahut Liyora sembari mengangkat sebelah alisnya.
"jaga ucapanmu, dia itu lebih baik darimu jangan menyebutnya dengan sebutan seperti itu!" Saka lalu berjalan mengelilinginya. "aku memang membantumu, tapi jangan berani-beraninya mengejek Lesya dengan sebutan seperti itu, karna yang akan kau hadapi adalah aku, Arsaka Darmawan.
sontak Liyora menciut mendengar ucapan Saka. sedangkan Friska hanya memegangi lengan Liyora karna sama halnya dengan Liyora yang merasa takut dengan ucaoan Saka.
'hiih nyebelin banget si ni calon kakak ipar, tadi bantuin gue. sekarang? sekarang dia bentak gue cuman gara-gara gue nyebut Lesya kaya gitu!' itulah yang ada di benak Liyora yang ingin sekali ia lontarkan, jika saja ia memiliki nyali untuk berdebat dengan Saka.
"maaf kak Saka, tapi aku senang kita bisa bekerja sama dengan kak Saka!"
Liyora terkesiap saat Saka menunjukkan rekaman video yang Saka ambil saat ia dan Friska menemui Dokter tempo hari.
"dan temanmu ini bisa saja dikeluarkan dari sekolah karna sudah hamil di luar nikah, beda dengan dirimu yang sangat tepat mencari sasaran. Saga adalah anggita keluarga ternama, jadi pihak sekolah tidak akan mudah mengeluarkannya."
Saka lalu melenggang pergi setelah membuat Liyora naik turun akan perasaannya yang sempat dibuat melambung dengan dukungannya, namun ia jatuhkan kembali dengan ancamannya.
Keesokan harinya, Lesya sudah bersiap untuk pergi ke kantornya. namun ia harus menemani orangtuanya untuk ke bandara.
"sayang, papa harap kamu tenang. karna setelah kami kembali, papa akan urus perpisahanmu dengan Saga!" ucap Guntara sembari mengusap lembut kepala Lesya.
"iya sayang, jika saja ini bukan hal yang penting, kami tidak akan meninggalkanmu dengan keadaanmu seperti saat ini." tambah nyonya Guntara.
"kalian tidak perlu sekhawatir ini, aku akan baik-baik saja." Lesya memang sangat pandai untuk membuat orang disekitarnya tenang, meskioun ia hrus menyembunyikan kesedihannya.
setelah cukup lama mereka berbincang, Lesya pun segera pergi menuju kantornya. namun saat ia sampai di parkiran kantor, disana terlihat Saga yang sudah menunggunya.
Lesya hanya melewati Saga tanpa menyapanya, jangankan menyapa, meliriknya saja tidak. mendapati perlakuan seperti dari Lesya, Saga memutuskan untuk mengikuti Lesya hingga keruangannya.
__ADS_1
sesampainya didalam Saga meraih Tangan Lesya, namun Lesya segera menghempaskan tangan Saga.
"Sayang, apa kamu mempercayai hasil DNA palsu itu?" hardik Saga
"aku harus bekerja saat ini, dan kamu visa keluar sekarang" itulah Lesya, yang tidak ingin membawa masalah pribadinya kedalam kantornya.
"aku gak akan keluar sebelum kamu mau percaya denganku Lesya! aku tau aku bukan orang baik,dan bahkan aku sering membuatmu kesal. tapi aku tidak akan menkhianatimu Lesya,percaya dengan bocah tengilmu ini!" Saga berlutut dan memeluk erat pinggang Lesya dengan kepalanya didepan perut langsing Lesya.
'aki juga ingin percaya denganmu Saga, tapi hasil itu sudah membuktikan semuanya!'
Lesya lalu mendorong Saga hingga terlepas dari pelukannya. namun Saga segera meraih kembali tangan Lesya, ia terus meyakinkan Lesya bahwa anak yang ada dikandungan Liyora bukanlah anaknya.
"berhenti membodohiku Saga! jangan karna aku mencintaimu, dengan mudahnya kamu memanfaatkan rasa cinta itu!"
"tapi Lesya-"
brugh
Saga terpelanting, tubuhnya terkapar dilantai seseorang menariknya dengan tenaga penuhnya. "jangan dekati Lesya lagi, karna kamu tidak pantas untuk Lesya."
Saga meradang ketika orang yang tadi menariknya hingga terjatuh menywntuh-nyentuh istrinya, meskipun itu hanya sebuah kekhawatiran.
"hei.." Saga memekik "jangan sentuh istri gua!"
bug
Saga melayangkan satu pukulannya di sudut pria tersebut dan satu lagi mengenai perut pria itu.
"berhenti Saga, sekarang kamu keluar!" Lesya lalu membantu pria tersebut bangkit "kamu gak papa kan Dylan?"
"aku tidak pa-pa"
dengan perasaan kecewa, akhirnya Saga memilih untuk meninggalkan ruangan Lesya yang tengah sibuk merawat sepupunya yang terluka karna ia pukul.
.
.bersambung
.
__ADS_1