
"Lesya hamil?"
Suara Saka membuat Saga dan Lesya melepas pelukannya. Saat itu Saka mengayun kursi rodanya sendiri, dan mendekat ke arah Saga dengan Lesya.
"ya, istriku hamil" balas Saga seraya menggamit ponggang istrinya.
"apa Dina sudah tidur kak? Kenapa kak Saka tidak ditemani oleh Dina?" Lesya mengedarkan pandamgannya mencari keberadaan Dina yang seharusnya menemani Saka dan mengurus apapun yang dilakukan oleh Saka.
"maaf mba Lesya, saya dari kamar mandi" sahut Dina yang baru datang dari arah dalam.
"oh gitu, ya sudah Dina lebih baik kamu antar kak Saka kekamar. Tolong berikan obatnya supaya kak Saka bisa cepat pulih!"
"baik mba.. Mari mas Saka" ucap Dina dan bergegas mendorong Saka untuk pergi kedalam kamarnya.
Setelah Dina dan Saa pergi, Saga segera mengangkat tubuh istrinya. sontak hal itu membuat Lesya terkejut dan membuatnya memekik.
"Saga.."
Tanpa memperdulikan teriakan Lesya, Saga langsung pergi ke lantai dua untuk masuk kedalam kamar mereka. Didalam kamar Saga masih enggan untuk menurunkan istrinya. Ia menatap lekat kedua manik mata istrinya dengan tatapan teduh.
"ada apa Saga.. Kenapa kamu lihat aku kaya gitu, ada yang aneh sama aku?" tanpa menjawab ucapan Lesya, Saga justru mencium kening istrinya yang masih berada digendongannya.
Perlahan Saga mendudukkan Lesya diatas tempat tidur. Saat itu ia berlutut dengan kepala yang ia rebahkan diatas pangkuan dan menghadap kearah perut Lesya. Perlahan tangannya menyentuh perut istrinya yang masih rata, dan pandangannya terus tak henti menatapnya.
"Saga.."
"hemmm" Saga masih terus menatap ke arah perit dan sesekali mengusapnya lembut. Saga tak hentinya mengukir senyum diwajahnya sejak ia mengetahui istrinya mengandung.
"Saga.." sekali lagi Lesya memanggil suaminya sembariemainkan rambut suaminya.
"hemm"
"apa kamu bahagia kita sebentar lagi akan menjadi orang tua!"
Saga baru mendongak menatap netra istrinua yang berbinar. Sejujurnya saat utu keduanya masih belum percaya, namun pemeriksaan yang merrka lakukan adalah bukti nyata. Meskipun ia masih dua minggu mengandung, rasanya mereka ingin segera melihat bayi itu berada digendongan mereka.
"tentu saja aku sangat..sangat.. sangat..bahagia sayang." tutur Saga dan mencium perut istrinya.
'terlebih dengan kabar buruk yang kemarin aku dengar tapi ternyata semua itu hanyalah cara tuhan untuk menguji diriku sayang, dan tuhan tau kalau kita mampu dan Tuhan menganugerahkan calon anak kita'
Tanpa Lesya sadari air mata Saga lolos begitu saja karena merasa bahagia atas kehamilan dari istrinya yang sempat divonis tidak akan mudah memiliki keturuan oleh dokter.
Sementara itu ditempat lain, Arga tengah berbincang dengan Dylan dikantornya. Namun saat itu mereka juga ditemani oleh Doni.
"baik Arga, aku harus segera pergi senang bekerja sama denganmu" Dylan lalu meninggalkan ruangan Arga.
__ADS_1
Namun ada yang menyita perhatian Arga saat itu,ia tidak biasanya melihat sahabatnya sekaligus tangan kanannya itu termenung sembari memutar-mutar ponsel ditangannya.
"ada apa Don?"
Doni melihat Arga yang menatapnya dari kursi singah sananya. Ia hanya bergidik dan menatap kearah jendela.
"kita ini sudah lama mengenal, jadi aku tau saat ini kau memikirkan sesuatu kan?"
"ya ya.. Aku memang memikirkan sesuatu!"
"apa?"
"aku teringat dengan perempuan yang saat itu berlari. wajahnya sangat familiar, juga dengan wajah laki-laki itu!"
"lalu?"
"entah kenapa aku sangat tertarik ingin mengetahui tentang perempuan itu. Aku merasa dia saat ini sedang dalam masalah"
"jadi kau jatuh hati dengan perempuan yang batu sekali kau lihat?"
"sepertinya begitu!" tukas Doni.
Seketika tawa Arga pecah begitu saja. Ia menertawakan Doni yang seperti anak kecil yang tengah mengalami cinta monyet. "huh, begitu mudahnya kamu jatuh cinta Doni? Bagaimana kalau ternyata perempuan itu bukan perempuan baik-baik! Bagaimana kalau dia ternyata hanya perempuan pangg*lan"
Celetukan Arga membuat Doni megerutkan dahinya, ia lalu bangkit dari duduknya dan duduk dikursi yang ada dihadapan Arga.
"hahaha" lagi-lagi tawa Arga pecah begitu saja. Arga memang seseorang ayasan yang banyak disegani, namun jika dia sudah berasama dengan Doni, seketika jiwa usilnya keluar begitu saja untuk terus menggoda sahabatnya itu.
"kalau memang seperti itu, kenapa kau tidak bertanya dengan Sharena?"
"Sharena?"
"ya, Sharena! Waktu itu sepertinya dia memakai baju untuk acara party, dan saat itu kebetulan Sharena manghadiri party juga. Mungkin saja mereka menghadiri acara yang sama!"
"ucapanmu benar Arga, kali begitu akan aku tanyakan sekarang" Doni bangkit dan hendak pergi dari ruangan Arga.
"eits, mau kemana Don?"
"ya mau ke apartemen Sharena lah Arga!"
"besok!"
"kenapa?"
"coba lihat ini jam berapa" Doni pun memeriksa jam tangannya, dan benar saja, waktu sudah larut dan tidak memungkinkan untuk Doni datang menemui Sharena. Seketika Doni menepuk dahinya dan kembali duduk. Sementara Arga justru menahan yawa karna kekonyolan sahabatnya yang terlalu bersemangat.
__ADS_1
-
Alden tengah berjalan di lobbi kampus, namun saat itu ia melihat Dikta yang berjalan sendirian dengan murung. Alden pun berinisiatif untuk memghampiri Dikta.
"pagi Ta.."
Dikta menoleh ke arah Alden yang tersenyum manis. Namun saat itu Dimta masih sangat murung. Alden mengetahui apa yamh mebuat Dikta murung, saat itu juga Alden menarik Dikta untuk ia ajak kesuatu tempat.
"mau kemana si Al, bentar lagi kelasku hampir mulai"
Tanpa memperdulikan pertanyaan dari Dikta, Alden membawa Dikta ke rooftop kampus. Disana ia memginci pintu agar tidak ada seorang pun bisa pergi ke rooftop.
Grep
Alden memeluk Dikta dengan erat, saat itu Dikta belum membalas pelulan dari Alden. Dikta justru melepas pelukannya sehingga membuat Alden menatapmya heran.
"ada apa Ta? Kamu gak suka aku meluk kamu?" Dikta masih menatap Alden dengan diam.
"aku tau, kamu marah aku tidak mebolak perjodohan itu. Tapi aku janji aku akan membatalkannya disaat waktu yang tepat Dikta!"
Dikta lalu memandang ke arah yang jauh, ia lalu kembali menatap Alden yang ada disebelahnya.
"aku cuman gak suka jika milikku alan berdekatan dengan oramg lain. Terlebih orang lain itu mendapat dukungan dari keluargamu. Dan aku takut hubungan yang bahkam baru kita mulai ini tidak bisa kita pertahan-"
Alden menempelkan jari tangannya untuk menutup mulut Dikta. Alden menatap dalam mata Alden, begitupun sebaliknya. "jangan katakan itu Ta! Kita bahkan baru tau satu sama lain kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Kadi please jangan katakan hal-hal yang buruk. Karna perkataan itu doa , dan kita akan slalu mengatakan hal yang baik buat hubungan kita!"
"Tapi aku sangat takut jika keluargamu kekeh menjodohkanmu dengan perempuan itu Al"
"ssst.." kini Alden kembali memeluk Dikta, dan kali ini Dikta membalas pelukan Alden dan sesekali mengecup puncuk kepala Alden dengan lembut.
"woe siapa diatas? Buka pintunya" teriakan itu membuat Alden dan Dikta melepas pelukannya.
"huh siapa Ta?"
Keduanya masih mematung dalam pelukan satu sama lain.
namun teriakan yang diulang-ulang membuat Dikta membuka kunci pintu tersebut.
"kalian.. Kalian kenapa disini? Dan kenapa kalian mengunci pintunya?"
Ya orang itu adalah Nadia. Pandangannya menatap Alden dan dikta penuh selidik.
'astaga kalau Nadia curiga ini gak akan baik!' kecemasan mulai timbul dihati Alden.
.
__ADS_1
.bersambung
.