It'S Perfect

It'S Perfect
Pudar


__ADS_3

"Lebih baik kamu relakan Saga, sayang. papa akan mencari ganti yang lebih segalanya dari Saga"


Agra memang seorang mafia kejam, tetapi semua ego dan kekejamannya akan melunak jika menyangkut bisnisnya. Agra sangat takut akan kemiskinan. dan jika semua bisnis ilegalnya terendus, sudah dipastikan semuanya akan hancur. bahkan dirinya pun akan masuk kedalam jeruji besi.


"aku akan merelakan Saga. tapi aku tetap tidak bisa merelakan Dewa, pa"


Saat ini Agra tidak bisa berpikir karena satu persatu bisnisnya telah di sita oleh pihak yang berwajib.


"papa tau itu, tapi dia Saga. bukan Dewa, Zora"


Bahkan saat ini Agra harus bersembunyi dari kejaran polisi. Karena itulah Agra meminta untuk Zora menyerah, dan ia juga mempunyai niatan untuk membawa Zora keluar negeri.


Zora yang tidak mau tau vergegas oergi dengan membawa senjata milik ajudan ayahnya.


Diinjaknya pedal gas, dan melakukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. hanya ke makam waktu beberapa menit saja, Zora tengah sampai di tempat yang ia tuju. dimana saat itu Saga dan Kesya tengah berada di rumahnya bersama dengan keluarganya. disana juga ada Yoo joon yang saat itu juga itu berkumpul.


Semuanya sibuk membicarakan perihal yang dialami oleh Keluarga Saga dan Lesya, hingga tidak satupun dari mereka yang sadar akan kehadiran Zora yang menyelinap masuk dan mencari keberadaan Elgara.


Namun ketika Zora berhasil membawa Elgara. ketika sampai di anak tangga yang berada di tengah, tiba-tiba Elgara menangis hingga semua pandangan tertuju ke sumber suara.

__ADS_1


Semuanya menjadi panik dengan melihat Elgara berada di dalam gendongan Zora yang membawa sebuah pist*l yang kapan saja bisa melukai Elgara.


"kembalikan anakku Zora, beraninya kamu menyentuh Elgara" bentak Saga.


"jangan apa-apakan Elgara" Lesya berlari menuju arah tangga.


"berhenti jika kau tidak mau peluru ini menembus kepalanya."


Seketika Lesya menghentikan langkahnya dengan keadaan semakin panik. "jangan main-main Zora. saat ini kau telah membawa anakku, jangan sampai kau melakukan sesuatu yang mebuatku marah"


"huh, memang kau bisa apa jika anak kesayanganmu ini ku jatuhkan dari sini"


"apa yang kauau Zora? "


"aku mau kau kembalikan Dewa ku. setelah itu, aku akan mengembalikan anakmu yang tidak berguna ini"


"hentikan ocehanmu itu Zora. kau bukan seorang ibu, jadi kau bisa memperlakukan seorang anak seperti itu! ”


_

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain Arga dan Andi kembali kedalam ruangan Rea di rawat. Keduanya terlihat tidak baik, dan hal itu disadari oleh Via.


Namun Via memilih untuk diam dan tidak bicara sepatah katapun. hingga akhirnya Dylan lah yang bertanya. dan karena Alden sudah berpesan, saat itu Andi dan Arga tidak mengatakan apapun selain pekerjaan.


"kebetulan kau sudah kembali masuk Andi. Lebih baik sekarang kita kembali ke kantor"


Karena mendapat perintah dari Dylan, Andi pun segera mengikutinya pergi. dan kini tersisa Arga yang ada diruangan. dengan segera Arga mendekat ke arah anaknya. ia membelai rambut sang anak yang masih terlelap.


"kau tidak bisa melarang seorang ayah menemui anaknya" ucap Dylan tanpa menatap Via.


Arga hanya terfokus kepada anaknya, karena ia tidak ingin terbawa suasana dengan melihat wajah Via.


Jujur saja, keinginan Arga untuk meneruskan apa yang dilakukan oleh mendiang Arvin sudah mulai pudar. ya, Lesya memang pilihan sang kaka. namun kali ini pilihannya sudah berbeda. bisa dikatakan saat ini setiap mengingat kejadian beberapa bulan lalu bersama Via, dentuman jantung terdengar dan terpacu cukup cepat.


Meskipun berulang kali Arga memperingatkan dirinya, namun ia tetap menafuh perhatian lebih kepada Via, bukannya Lesya.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2