
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Saga di hadang oleh beberapa orang. Saga berpikir orang-orang itu hannya menginginkan barang berharga darinya, sehingga Saga turun dan melawan orang-orang tersebut.
perkelahianpun tak terelakan.
Saga mulai menghajar para penjahat itu tanpa ampun. meskipun terkena beberapa pukulan, namun Saga terus bangkit dan melawan.
bug
brugh
_
Dikta dan Alden menunggu di luar ruang penanganan Lesya. sudah beberapa menit dokter menangani Lesya, namun Dokter belum kunjung keluar dari ruangan.
tap tap tap
terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah Dikta dan Alden. seketika pandangan mereka tertuju kepada dua orang yang datang.
sontak mata Dikta melebar ketika mengetahui Arga lah yang datang dan ditemani oleh Doni.
"permisi, apa ini ruangan Lesya?"
"i-iya benar!"
"tapi kalian siapa ya? kenapa kalian cari mba Lesya?" kali ini Alden yang bertanya. pasalnya Alden memang velum pernah melihat Arga, berbeda dengan Dikta yang sudah beberapa kali melihatnya meskipun hanya di jejaring sosial.
"saya Arga Lesmana atasan Lesyandi kantor." Alden membulatkan bibirnya karena baru tau bahwa orang yang ada dihadapannya adalah salah seorang CEO yang ternama di kancah dunia bisnis.
"bagaimana anda bisa tau kalo mba Lesya ada di rumah sakit ini?" Dikta menetralkan dirinya agar tidak gugup berbicara dengan seseorang yang menurutnya bukan orang sembarangan.
"begini, tadi saya ada di Coffe shop tempat Saga bekerja. dan saya tidak sengaja mendengar pembicaraannya di telfon sehingga saya datang kesini!"
"ternyata seorang bos besar juga bisa nguping ya" Dikta menyikut tangan Alden ketika mendengar celetukannya yang menyindir Arga.
'kurang ajar ni bocah, beraninya dia nyindir gue!'
"pak Arga tadi bilang kalo tau rumah sakit ini dari Saga, tapi dimana Saga? kenapa sampai sekarang dia belum sampai di sini?"
mendengar perkataan dari Saga, Arga Doni dan juga Alden pun memikirkan hal yang sama. kenapa hingga detik ini Saga tak kunjung datang.
"jangan-jangan ada masalah yang menimpa Saga dijalan?" ujar Alden
"itu yang gua takutin Al, tapi semoga aja gak ada apa-apa!"
ting
ketika mereka tengah memikirkan Saga, saat itu notifikasi ponsel milik Dikta berdenting. Dikta pun segera memeriksanya.
__ADS_1
"dari Saga.." ucap Dikta sembari melihat ke arah Alden dan bergantian melihat Arga dan Doni.
"coba lu baca Ta, siapa tau Saga butuh bantuan"
"Sorry Ta, gua gak bisa dateng. gua ada urusan penting, jadi tolong urus Lesya." seketika beberapa orang yang mendengar pun mengernyitkan dahinya.
"emang apa yang lebih penting dari istrinya si, heran gua sama Saga!" Alden terlihat kesal mendengar Dikta membacakan pesan dari Saga.
"permisi, pasien sudah sadar. kalian bisa menemuinya sekarang!"
"memang apa yang sebenernya terjadi dok?" tanya Arga.
"pasien sakit karena sepertinya pasien mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas, dan kerena itulah pasien jatuh pingsan."
"baik terima kasih dok"
setelah kepergian dokter, Arga dan Doni salaing menatap. pasalnya mereka tau siapa yang menyebabkan Lesya seperti saat ini.
setelah itu, Arga dan juga Doni mengikuti Alden dan juga Dikta yang sudah masuk lebih dulu.
Arga memperhatikan wajah Lesya yang terlihat pucat pasi. dan disaat itulah ia merasa menyesal karena perbuatannya membuat seseorang jatuh sakit seperti saat ini.
"Dikta, apa Saga belum tau?" ucap Lesya dengan lemah.
"kayaknya lagi kerja mba, makanya Saga belum lihat chat dariku"
"pak Arga, Doni. kalian ada disini?"
"namanya juga tukang nguping" gumam Alden, namun masih bisa terdengar oleh Lesya.
"apa yang kamu katakan Alden?"Lesya masih terlalu lemas untuk berbicara, namun ia berusaha untuk menanyakan apa yang terdengar ditelinganya namun tidak cukup jelas.
"emm mba Lesya, memang apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dikta untuk mengalihkan pembicaraan.
Lesya melihat Aega yang terus menatapnya. sadar akan tatapan Lesya, Aega mengalihkan pandangannya dan sedikit berdeham.
"tidak apa Dikta, hanya saja maag ku sepertinya kambuh"
"eghem, maaf sebelumnya. aku harus segera pergi!" ucap Doni.
Arga yang mengetahui kemana Doni akan pergi segera mengizinkan Doni untuk pergi. "dan untuk bu Lesya, semoga lekas sembuh. saya permisi" sambung Doni.
"terima kasih Doni" Doni hanya mengangguki ucapan Lesya dan bergegas mebinggalkan ruangan Lesya.
sesaat setelah kepeegian Doni, beberapa perawat memasuki ruangan tersebut. "permisi, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap"
"oh iya sus, silahkan" ucap Dikta.
__ADS_1
setelah perawat memindahkan Lesya keruang rawatnya, Alden dan Dikta meminta izin untuk keluar ruangan. sekarang tersisa Arga yang menemani Lesya didalam.
"lo punya maag?" tanya Arga.
"iya pak!"
'kalo dia punya maag, ke apa tadi dia gak nolak waktu gue suruh dianmakan seblak super pedes itu? dasar bodoh!'
karena sibuk dengan pikirannya, Arga tidak menyadari Lesya yang berusaha meraih air minum diatas nakas. karena tubuhnya yang masih lemah, Lesya hampir saja terjatuh. untung saja Aega sigap dan menangkap Lesya.
Dikta dan Alden bersamaan masuk kedalam ruangan sehingga melihat Lesya yang masih ada dipelukan Arga.
melihat kedatangan mereka, Aega segera melepaskan Lesya yang sudah duduk dengan benar.
"lain kali kamu harus meminta tolong jika membutuhkan sesuatu. jika kamu terjatuh, itu tidak baik untukmu." ucap Arga.
'dasar si tukang acting. tadi aja lo gue, sekarang giliran ada Dikta sama Alden sok-sokan aku kamu' batin Lesya.
"mba Lesya mau minum?" tanya Dikta dan di angguki oleh Lesya.
dengan segera Dikta membawa segelas air putih, Dikta membantu Lesya untuk meminumnya. bahkan saat itu Dikta mengelap sisa air yang adi disudut bibir Lesya. Alden melihatnya tidak suka, namun Alden segera menetralkan perasaannya.
'kenapa gua mendadak kesel kaya gini? apa karna gua masih suka sama mba Lesya!' Alden menarik nafas panjang dan segera membuangnya perlahan.
ternyata bukan hanya Alden yang merasa kesal, detik itu juga Arga mengepalkan tangannya melihat Dikta yang begitu perhatian dengan Lesya. ia kembali mengingat Arvin dan manambah kebenciannya terhadap Lesya.
melihat kedekatan Dikta dengan Lesya, Arga memutuskan untuk keluar ruangan. sesampainya diluar ruangan Arga memukul tembok rumah sakit.
Damn
'sebenernya lo itu perempuan macam apa si Lesya? kenapa lo dengan mudah khianatin abang gue. dan lebih parahnya lo justru tebar pesona kepada anak-anak SMA. gue semakin hilang respect sama lo. gue kira gue salah ngerjain lo, tapi itu aja belum cukup buat kasih lo pelajaran'
ketika Aega berbalik, ia melihat Alden yang pergi begitu saja dengan kemarahannya. Arga memutuskan untuk mengikuti Alden. tepat ketika Alden sampai di taman rumah sakit, Alden memukul bangku yang ada ditaman rumah sakit.
"kenapa gua kaya gini, apa gua masih suka sama mba Lesya? tapi kenapa, gua udah mutusin buay ngelupain dia, kenapa gua masih terpengaruh liyat Dikta perhatian sama mba Lesya!"
'apa? jadi bocah itu juga suka sama Lesya? sebenernya lo itu pakek cara apa sehingga anak-anak itu suka sama lo!'
.
.
.bersambung
.
.
__ADS_1