
Dita melihat kedalam ruangan Alden, namun saat itu ia tidak melihat siapapun.
"Ya udah gue balik dulu ya Al, kesian adek gue pasti udah nungguin gue!"
"Emm lo pulang naik apa Dit?"
"Ini gue mau pesen ojol"
"Gak perlu biar gue yang ante lo pulang, sekalian gue juga mau jengukin Kenan"
"Tapi apa gak ngerepotin Al?"
"Nggaklah Dit, ya udah ayok. Katanya kasian Kenan sendirian dirumah" akhirnya Dita menyetujui ajakan Alden.
Setelah Alden dan Dita keluar, saat itu Dikta bisa bernafas lega. Ia bersembunyi di kolong meja Alden cukup lama karena kedatangan Dita.
"Alden main ninggalin gua lagi! Mana gua tadi belum sempet nembak dia lagi. Tapi gak pa-pa, sekarang gua yakin Alden gak akan nolak gua" Dikta terus mengembangkan senyum diwajahnya saat mengingat Alden mengakui perasaannya.
Keesokan paginya Dikta datang lebih awal, ia sengaja mendahului Alden untuk memberinya sebuah kejutan. Saat itu Dikta membawa sarapan yang ia siapkan untuk Alden.
Ceklek
Pandangan Dikta mengarah kearah pintu, benar saja Alden lah yang datang. Sementara Alden, ia mengerutkan dahinya mendapati Dikta yang sudah bersedekap dihadapannya.
"Dikta, lu kok ada diruangan gua?"
"Kenapa, gak boleh?"
"Boleh aja si, cuman tumben-tumbenan lu udah dateng terus langsung keruangan gua!"
"Mulai sekarang gua bebas kapanpun mau keruangn ini, karna mulai detik ini lu pacar gua!"
Alden terhenyak ketika mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Dikta.
"Lu nembak gua Ta?"
"Dan satu lagi, mulai sekarang gak ada 'lu gua' yang ada 'aku kamu'!"
"Tapi gua mau ini dirahasiain Ta, gua gak mau kalo orang-orang tau kita berhubungan"
Dikta perlahan mendekat kearah Alden, perlahan ia melingkarkan tangannya dan mengurung Alden kedalam pelukannya.
"Aku paham Al! Lebih baik kita seperti ini sekarang, dan untuk kedepannya aku akan cari solusi supaya semua menerima hubungan kita"
Alden menyunggingkan senyumnya, ia sedikit berjinjit karena tinggi badannya memang tak setinggi Dikta. Ia mengecup sekilas bibir Dikta dan seketika Dikta kembali menyunggingkan senyumnya.
"Ada sesuatu yang aku bawakan untukmu Al"
Alden mengangkat kedua alisnya, dan segera Dikta mendudukkan Alden dikursinya dan menyiapkan apa uang sudah ia bawa.
_
Dina kini mulai melancarkan semua yang ia rencanakan sebelum ia masuk ke rumah Lesya.
Kali ini ia memasukkam sebuah obat kedalam jus yang ia siapakan. Ia sengaja menyiapkannya agar Lesya tidak curiga dengan warna yang dialibatkan oleh obat yang ia bawa.
"Saga, karena nanti malam kita mau bertemu dengan mama dan papa, gimana kalo kita pergi belanja untuk kita bawa ke rumah mama papa?"
"Siap mba istri, tapi ada syaratnya!"
Lesya mengerutkan dahinya, ia menatap Saga penuh selidik. Mengetahui Lesya terus menatapnya, Saga segera menyentuh bibirnya. Dan seketika Esya tau apa maksud yang dilakukan oleh isyarat Saga.
"SAGA" Lesya menekankan ucapannya.
"Ayolah sayang morning kiss dulu dong"
Karena malas berdebat akhirnya Lesya melakukan aoa yang diminta oleh suaminya.
Sementara Dina yang tengah berada di dapur, ia merasa sangat kesal. Namun ia berusaha untuk menahannya. Ia kemudian menatap gelas yang ada dinampannya dan tersenyum licik.
__ADS_1
"Pagi mba Lesya, mas Saga" sapanya.
"Pagi Din. Kenapa repot-repot membuat jus, hafusnya kamu tadi menungguku agar aku bisa membantumu" ucap Lesya.
'Sok baik' batin Dina.
"Gak repot kok mba, oh iya ini buat mba Lesya"
"Makasih ya Din"
"Iya mba sama-sama, dan ini untuk mas Saga."Saga hanya menganggukinya dengan datar.
"Kak Saka dimana Din?"
"Mas Saka masih tidur mba, jadi saya gak berani buat bangunin. Karna kelihatannya mas Saka sangat letih mba"
"Oh okey"
Selang beberapa saat Lesya dan Saga pergi untuk berbelanja. Sementara itu Dina yang dirumah bersama dengan Saka ia belum memberitahukan siapa dirinya kepada Saka.
Dengan menyelinap kekamar Saga dan Lesya Dina yang seaslinya adalah Liyora melepas penyamarannya. Ia pergi keruangan ganti yang ada dikamar tersebut. Perlahan ia membuka lemari dimana pakaian Saga disimpan.
"Seleramu masih sama Saga, dan apapun yang kami suka aku juga menyukainya kecuali satu" pandangan mata Liyora menatap kearah lemari etalase yang disebelahnya yang terpampang semua koleksi pakaian milik Lesya.
"Kecuali cewek tua ini! Dia satu-satunya yang kamu suka yang tidak aku sukai." Liyora mengepalkan kedua tangannya dengan mata memerah.
Ia kembali teringat disaat Saga dulu menyatakan perasaannya ketika hari terakhir mereka menjalani studytour, yang kini kenyataan tidak sesusai dengan rencana mereka.
Perlahan air mata Liyora lolos begitu saja dan menganak sungai diwajahnya yanh cantik. Namun sayang kecantikannya harus ternodai dengan niat buruknya.
Ting tung
"Huh siapa yang datang? Gue harus cepet-cepet dandan sebagai Dina."
Selang beberapa saat Liyora keluar sebagai Dina dan membuka pintu ruang tamu. Saat itu ia mengernyit ketika orang itu menatapnya penuh selidik
"Kau siapa? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya disini?" Tanya Dylan.
Memang selama berbaikan dengan Saga, Dylan adalah satu-satunya keluarga Lesya yang mengetahuinya. Hari ini ia sengaja datang untuk melihat keadaan Lesya, tapi justru ia menemukan sesuatu yang lain. Yaitu Saka tinggal bersama dengan mereka.
"Kau perawatnya? Memang Saka kenapa, kenapa dia butuh perawat?"
"Aku kecelakaan! Sahut Saka yang baru keluar dari kamarnya dengan kursi rodanya."
"Kenapa kau tinggal disini Saka? Apa kau tidak tahu malu? Seseorang yang mau kau hancurkan justru menampungmu yang benar-benar meropatkan!" Dylan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya tersenyum mengejek.
'Brengs*k, kalau aku sudah tidak ada dikursi roda, aku pastikan semua tulangmu akan patah Dylan!' Umpatnya didalam hati.
"Kenapa? Kau hanua bisa mengumpatku didalam benakmu? Kenapa kau tidak menjawabku?"
Entah kebetulan atau apa, Dylan jistru berkata demikian sehingga membuat keduanya menegang.
"Maaf mas, mas ini siapa ya?" Dina berpura-pura seolah ia tidak pernah mengenal Dylan.
"Oh aku Dylan, sepupunya Lesya. Istri dari Saga ADIK dari Saka" ia sengaja menekankan kata Adik untuk memperjelasnya dihadapan Saka.
"Apa kau rau Dina, bukankah seorang kakak akan bahagia jika adiknya bahagia dengan pasangannya?"
"Iya benar mas Dylan"
"Lalu bagaimana jika sang kakak justru menginginkan pernikahan adiknya hancur? Apa itu bisa disebut manusia?"
"Berengs*k.." Saka hendak berdiri namun karena kakinya yang belum pulih, ia justru terjatuh.
"Dylan..apa-apaan ini?" Ucap seseorang yang sedang diambang pintu.
Sontak semuanya melihat kearah sumber suara.
_
__ADS_1
Jam sudah semakin sore, Alden dan Dikta memantau persiapan untuk ibunya yang sudah memesan restoran tersebut.
"Emm Al, emang tante mau ada acara apa si pakek booking resto segala?" Tanya Dikta
"Gue juga gak tau Ta!"
"Gue?" Dikta menekankan kata 'gue', namun saat itu Alden segera menggerakkan alisnya melihat kearah Dita. Dengan seketika Dikta mengerti.
Mereka memang bersepakat untuk memanggil dengan sebutan 'aku kamu' itu hanya disaat mereka sedang berdua.
"Ada apa Dita?" Tanya Dikta
"Itu mamanya Alden udah dateng"
Dengan segera Alden dan Dikta menyambut mamanya yang datang dengan keluarganya dan juga dua irang yang tidak Alden kenal.
Kini semuanya sudah duduk dikursinya masing-masing. Ketika Alden ingin beranjak dari ruangan itu, tiba-tiba ibunya menghentikannya.
"Mau kemana Al?"
"Alden mau keruangan Alden ma, apa masih ada yang kurang?"
"Iya ada sayang, calon yang mau diperkenalkan sama calon tunangannya belum duduk" ucap mama Alden.
"Maksudnya?" Alden masih belum mengerti.
"Iya Alden, papa sama mamamu ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat papa, dia orangnya!" Kini ayah Alden menunjuk seorang gadis cantik yang ada disebelah ibunya.
"Kalian akan segera bertunangan, mereka cocok kan nak Dikta?" Tanya ibu Alden.
Hati Dikta mencelos mendemgar perkataan dari orang tua Alden. Dadanya terasa sesak bagai dihantam batu beton.
"Eh iya tan, cocok" Dikta tersenyum getir. "Kalai begitu saya permisi, semoga kalian puas dengan pelayanan yang restoran kami berikan" sambungnya dan berlalu pergi.
"Semuanya saya permisi, saya harus kebelakang dulu" tanpa persetujuan, Alden langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Tu bocah masih aja gak sopan" sahut kakak Alden.
Kini semuanya bingung kenapa Alden justru berusaha menghindar dari acara yang sudah mereka siapakan untuk memberi kejutan tentang perjodohannya.
"Dikta" Alden menyusul Dikta hingga ke ruangannya. Dikta masih berdiri didekat jendela tanpa melihat ke arah Alden.
"Dikta, aku bener-bener gak tau masalah Perjodohan ini! Aku berani bersumpah"
Namun saat itu Dikta hanua terdiam tanpa mengeluarkan suara.
"Dikta.." hingga beberapa kali Dikta masih belum menjawab panggilan dari Alden.
Alden memegang pundak Dikta, dan
Grep
Dikta berbalik dan langsung memeluk erat Alden.
"Aku gak mau kehilangan kamu Al, bahkan kita baru tau perasaan kita satu sama lain. Tapi kamu, kamu sudah akan dijodohin sama cewe lain!"
Alden tertegun mendengar ucapan Dikta yang begitu terdengar pilu.
"Tenang Dikta, aku gak akan mai dijodohin. Karna yang aku mau itu kamu, bukan yang lain"
"Kamu berjanji Al?"
"Iya Dikta, karna aku juga akan berusaha membuat keluargaku nanyi bisa menerimamu sebagai orang yang aku cintai" Alden meyakinkan.
Prank
Sesuatu terjatuh didepan pintu ruangan Dikta. Dengan segera keduanya memeriksanya, dan saat itu hanya sebuah hiasan dinding yang terjatuh.
.
__ADS_1
Bersambung