
Saga memperhatikan Lesya yang saat ini duduk di balkon kamarnya. ia menangkap raut kegelisahan yang sedang Lesya rasakan.
"sayang ada apa? kenapa kamu kelihatan seperti ada yang kamu pikirkan. "
"emm... begini Saga, apa yang akan kamu lakukan jika kamu melihat hal yang kurang benar terjadi dihadapanmu"
"tunggu, memang apa yang mau kamu bahas kali ini Lesya? apa ini masalah pekerjaan"
"no, jika seorang pria menaruh perhatian lebih kepada pria lain, apa yang akan kamu lakukan? "
Saga mengerutkan dahinya, ia lalu berjongkok didepan istrinya yang tengah terduduk.
"mungkin banyak yang berpikiran hal itu salah. tapi balik lagi sama yang ngalamin itu sayang. kita gak tau kan sedalam apa perasaan mereka. yang aku lihat di media sosial, seseorang yang menjalin hubungan seperti itu justru lebih setia si yang aku lihat. karena mereka pasti memiliki perasaan seperti itu karena mereka sudah tau kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing! "
"jadi kamu membenarkan hal itu? "
"aku hanya tidak ingin menilai sesuatu yang aku sendiri tidak tau menjalaninya sayang. tunggu, kamu tanya soal itu, memang siapa? apa orang yang kita kenal menjalin hubungan seperti itu? "
"oh enggak si, aku cuma kebawa suasana dama drama yang aku lihat tadi"
lagi-lagi Saga mengerutkan dahinya. pasalnya istrinya adalah seseorang yang tidak terlalu suka menonton drama. namun ia tidak menanyakan kembali karena ia tau seorang yang sedang hamil memiliki hormon yang bisa bikin seorang perempuan mudah sensitif.
"oh ya sayang, mau aku antar ke kantor? "
"boleh? "
"iya boleh dong. apapun buat istri tercinta. yang aku lihat kamu bosan jika tidak ke kantor"
Lesya lalu memeluk suaminya dan mengecup dahi Saga sekilas dan menyengir kuda sehingga membuat Saga menjadi gemas.
"ini istri aku tiap hari tambah manja ya.. "
"emang gak boleh? "
"huss, boleh dong. dan aku sangat menyukai sisi ini dari perempuan sekuat kamu sayang"
tok tok
keduanya menoleh ke arah pintu kamar, "siapa sayang? "
"entahlah, biar aku lihat"
"kita lihat bareng"
perlahan Saga memutar kenop pintu kamarnya. ia mendapati Dina yang tengah membawakan dua gelas teh untuk Saga dan juga Lesya.
"loh Dina, kamu gak perlu repot-repot kaya gini loh padahal. cukup kamu urusin kak Saka aja" ucap Lesya.
"ndak apa-apa mba Lesya. mas Saka nya juga lagi masih mandi. jadi dari pada saya nagnggur lebih baik saya siapin teh buat mba Lesya dan juga mas Saga"
__ADS_1
'gue harus pastiin kali ini Lesya keguguran. gue bakalan puas banget kalo mereka kehilangan bayi mereka. dan saat keterpurukan itu terjadi, gue bakal perlahan intimidasi Lesya dan masuk kedalam hati Saga lagi'
kini teh sudah ditangan masing- masing, Saga sudah lebih dulu menyesap teh yang diberikan oleh Liyora. dan sekarang Lesya yang hendak meminumnya.
prank
teh yang ada ditangan Lesya terjatuh sehingga membuat Liyora merasa kesal. ia lalu melihat siapa yang menyenggol Lesya. dan ternyata orang itu adalah Saka.
"maaf tingkatkan tadi terpeleset, maaf Lesya, aku membuat teh mu tumpah"
"iya gak pa-pa kak, aku harus kedalam untuk bersiap ke kantor. " Saga dan Lesya pun memasuki kamar mereka kembali.
dan saat itu Liyora menarik Saka kesudut yang jauh dari kamar Lesya dan Saga.
"kak Saka kenapa si pakek gagal untuk rancana aku? padahal tadi udah mau berhasil loh.. "
"aku tau kau hampir berhasil, tapi aku tidak rela Lesya merasakan kesakitan. aku akan merrbutnya dengan cara lain, tapi tidak menyakitinya seperti cara kamu itu" Saka menatap tajam Liyora dan berlalu pergi.
"hiihh.. " Liyora Menghentak-hentakkan kakinya karena merasa kesal rencana dihancurkan begitu saja oleh sekutunya sendiri.
-
di tengah restaurant yang ramai pengunjung, Dikta justru mengajak Alden kesuatu tempat. mereka menempuh perjalanan cukup jauh, Alden yang tidak tau rencana apa yang dipikirkan oleh Dikta merasa bingung.
"Ta, kita mau kemana si, ini udah jauh banget dari resto loh? restoran lagi butuh kita. "
"udah kamu tenang, restoran udah ada yang handle. " Dikta mengancak rambut Alden lembut.
"ini punya siapa Ta? "
"ini milik keluarga Al, dulu waktu keluargaku masih baik-baik aja kita sering ngabisin waktu bersama disini" mendadak Dikta menjadi sendu.
'aduh ini kayaknya aku salah tanya soal ini'
"emm oh ya Ta, kamu kenapa ngajakin aku kesini? "
mendapat pertanyaan seperti itu dari Alden, Dikta seketika menjadi bersemangat kembali. "ikut aku" Dikta menggandeng tangan Alden. satu persatu ruangan ia tunjukkan, hingga yang terakhir adalah kamar yang akan mereka tempati.
sontak Alden membulatkan kedua matanya melihat hiasan kamar yang terkesan seperti kamar sweet honeymoon. dilengkapi dengan aroma yang sangat lembut.
"kamu kapan siapin ini semua Ta? "
"kemarin aku udah prepare in semuanya. gimana, seneng nggak? " dengan malu-malu Alden mengangguki pertanyaan dari Dikta.
Dikta merasa senang ketika ia berhasil membuat kejutan untuk Alden. ia lalu merengkuh Alden dan memeluknya erat dan sesekali mencium lembut puncuk kepala Alden.
Dikta lalu menarik Alden keluar kamar dan sedikit berlari kecil. "mau kemana lagi Ta? "
Dikta membuka sebuah pintu yang terbuat dari kaca besar, dimana dibalik pintu tersebut adalah kolam renang yang cukup besar.
__ADS_1
Dikta perlahan menanggalkan pakaiannya dan tersisa boxer dan masuk kedalam air. saat itu Dikta mengisyaratkan Alden untuk ikut turun ke dalam air, namun Alden hanya duduk ditepian dan memasukkan kakinya kedalam air.
"aaakk tolong Alden, kakiku kram"
byur
Alden segera masuk kedalam air dan berusaha menolong Dikta. namun setelah ia berhasil meraih Dikta, saat itu justru Dikta sudah muncul kepermukaan air dengan tawanya.
"Dikta, kamu bohongin aku? " Alden merajuk dengan bibir yang mengurucut dan hendak keluar dari dalam air. namun Dikta justru memeluknya dan memberinya sebuah kecupan lembut sekilas.
sontak hal itu membuat Alden luluh dan wajahnya kini tersipu. "jangan marah lagi okey.. "
"abisnya becandaan kamu gak asik si Ta, aku khawatir kami malah Cengengesan. "
"udah marah-marahnya, lagian aku gak Pa-pa kan. sekarang kita nikmati kebersamaan kita. setelah itu kita pikirin gimana caranya kamu batal dijodohin sama tunangan kamu. dan kita bisa ngakuin hubungan ini sama orang tua kita"
Alden mengangguki ucapan Dikta dan kini ia menyandarkan dagunya dipundak Dikta.
"halo tuan, mereka saat ini sedang berlibur disebuah vila. dan saya sudah mengirimkan foto kebersamaan mereka pada anda" ucap seseorang diujung telefon.
brak
ponsel nya dilempar sembarangan arah. ia melihat begitu intens hubungan antara Alden dan juga Dikta.
"ini gak bisa dibiarin, bagaimanapun Alden harus tetep nikah sama tunangannya. aku tau Dikta anak yang baik. tapi mereka tidak bisa menjalin hubungan itu"
Samuel begitu ingin memisahkan Alden dan juga Dikta. ia tidak ingin adiknya memiliki hubungan dengan Dikta. ya hubungan seperti ini memang sangat tabu di negara kita, sehingga masyarakatnya akan memiliki pandangan yang bisa dikatakan tidak membenarkannya. namun apa bisa dikata jika perasaan cinta tumbuh di hati Alden dan juga Dikta.
"halo pa, ma ada yang ingin muel katakan"
"ada apa Samuel, tidak biasanya kamu segusar ini? " ucap ayahnya diseberang sana. "
"aku ingin pernikahan Alden dipercepat"
"nggak, mama mau kamu nikah lebih dulu sama pacar kamu itu sayang. nanti setelah kamu menikah, baru adik kamu juga akan menikah. "
"tapi ma, apa nggak sebaiknya kita segera nikahkan mereka. yang aku lihat Alden sudah sangat cocok! "
"nggak bisa sayang, kamu harus nikah dulu baru adik kamu. "
klik
belum sempat Samuel membalas ucapan ibunya, sambungan sudah diakhiri begitu saja. hal itupun semakin membuat Samuel tidak tenang.
"mau tidak mau aku harus pakai cara itu" Samuel menatap tajam ke depan dengan rahang yang mengeras.
.
.
__ADS_1
. bersambung
.