
Malam itu udara terasa sangat dingin. karena hanya mengenakan kaos, Saga terbangun dan melihat Lesya tertidur di samping Elgara yang juga terlelap.
"sebaiknya aku keluar untuk mencari kopi"
Saga berjalan di koridor rumah sakit yang masih lumayan ramai dengan beberapa orang yang menjenguk para kerabatnya yang tengah di rawat di rumah sakit tersebut hingga pandangan Saga berhenti tepat ke sebuah ruangan yang ada di sampingnya. dimana saat itu Saga melihat Arga lah yang ada di dalam sana.
"bukannya itu Arga? siapa yang sakit" Saga mencoba melihat seseorang yang terhalang oleh tubuh Arga yang besar. hingga akhirnya Saga menunggu untuk Arga berpindah posisi.
"itu.. itu Via karyawan Lesya! "
Awalnya setelah tau itu Via, Saga ingin melanjutkan niatnya mencari kopi, namun ia mendengar sesuatu yang membuatnya sedikit bingung.
"kenapa, kenapa Via mengatakan hal itu?"
tolong anda pergi dari sini, jangan membuatku bertambah pusing tuan Arga.
tapi aku mempunyai hak atasnya, dan kamu tidak bisa melarangnya!
"mereka membicarakan apa? hak atas apa? " Karena udara malam yang semakin dingin, Saga memutuskan untuk melanjutkan mencari kopi untuknya.
Hingga akhirnya Saga membeli dia cup kopi untuknya dan untuk Lesya jika Lesya terbangun. namun lagi-lagi perhatiannya tersita ketika Saga melihat Arga dan juga Doni yang tengah berdebat di area parkir.
Dan akhirnya adu pukul terjadi antara Doni dengan Arga. hal itu pun semakin membuat Saga terheran. Saga tau jika Doni adalah sahabat Arga, namun kenapa mereka berkelahi seperti itu dan membuat Arga terus membombardir Doni dengan puk*lannya hingga terkapar.
"ini nggak bisa dibiarin, bisa-bisa Doni mati kalo di pukulin terus kayak gitu sama Arga"
Saga meletakkan kopinya di atas bangku dan berlari untuk melerai antara Arga dengan Doni.
"woe, jangan berantem disini! kalian ini apa-apaan si? bisa-bisanya kalian berkelahi di tempat umum seperti ini!"
"kau, kau masih hidup? " Arga terperangah melihat seseorang yang sudah di nyatakan menghilang dan tewas, saat ini masih berdiri di hadapannya dengan keadaan sangat baik tanpa kurang satu apapun.
"karena Tuhan tidak ingin seseorang sepertimu yang tidak bisa mengontrol emosimu untuk mendekati istriku tuan ARGA! Dan lebih baik sekarang kau hentikan aksimu itu"
'huh, tuan Saga? apa aku tidak salah mendengar? ' batin Doni yang terkulai lemah dengan mata yang terpejam
"jangan menceramahi kami Saga, ini bukan. urusanmu sama sekali" Arga terlihat sangat murka dan ingin kembali menghaj*r Doni yang sudah terkapar.
"nggak bisa kayak gini, sekarang lebih baik kau pergi dan redam emosimu itu Tuan Arga. jangan memaksaku untuk bertindak lebih. dan ini tempat umum, tidak sepantasnya seorang CEO dari perusahaan besar sepertimu melakukan perkelahian seperti ini dengan teman sekaligus tangan kananmu apapun alasannya! "
Setelah mengatakan itu semua, Waga membantu Doni untuk bangkit. Swga pun tak lupa membawa kopi miliknya sembari merapat Doni untuk keruangan Via.
__ADS_1
"ternyata kai disini untuk menunggu Via Doni?"
"iya tuan Saga, aku disini untuk menemani nona Via karena dia baru saja bercerai dari Andi. sementara ibunya, ibunya justru bersenang-senang di luaran sana tanpa mempedulikannya sama sekali"
"lalu kenapa kau berkelahi dengan tuan Arga?” tanya Saga.
Doni terdiam dan melihat Via yang masih terlelap. 'jika tuan Saga menanyakan tentang ini, itu berarti dia belum mengetahui jika anak Via adalah darah daging Arga. dan lebih baik aku tidak mengatakannya, karena hanya Via lah yang berhak memberitahu kepada semua orang'
"ada sedikit masalah di kantor, dan sepertinya Arga salah paham. jadi terjadilah perkelahian seperti tadi"
"oh jadi begitu" Saga mengangguki ucapan Doni, seketika bayangan ketika Arga dan Via yang sempat berdebat muncul di benaknya.
"oh ya, tetapi kenapa tadi tuan Arga juga berdebat dengan Via? hal apa yang di maksud oleh tuan Arga tadi?" tambah Saga dan membuat Doni harus memutar otak untuk memberikan alasan yang tepat.
"aku tidak tau tentang itu, karena aku baru saja sampai tuan Arga. dan ketika aku sampai, aku bertemu dengan tuan Arga di depan dan langsung berkelahi dengannya" Doni beralasan.
"ya sudah Doni, aku harus kembali ke ruangan anakku. dan lebih baik kau segera meminta suster untuk mengobati lukamu itu"
Saga beranjak dan hendak meninggalkan ruangan Via, namun saat itu Doni menghentikannya.
"memang Elgara sakit apa tuan Saga? "
"semoga Elgara lekas sembuh tuan Saga"
"Terima kasih Doni"
Saga hendak kembali ke ruangan Anaknya, namun ia menyadari bahwa kopi yang ia bawa kini sudah dingin dan Saga memutuskan untuk membelinya lagi. butuh waktu beberapa menit untuk ia kembali ke ruangan Elgara. dan disaat ia membeli kopi, didalam sana Lesya merasa cemas ketika Elgara mengalami demam tinggi.
"Saga kamu dimana si, Elgara demam tinggi dan kamu justru tidak ada? "
Lesya berharap cemas ketika dokter menangani Elgara.
"dokter jangan biarkan putraku kenapa-kenapa dok saya mohon"
"ibu yang tenang, dokter kami sedang berusaha menanganinya bu" ucap sang suster yang bersama dengan dokter yang menangani Elgara.
ceklek
Saga meletakkan kopi di atas meja dan menghampiri Lesya. saat itu Lesya yang sangat cemas segera memeluk Saga.
"Saga, Elgara demam tinggi Saga. aku sangat takut"
__ADS_1
"ssttt, tidak akan terjadi apapun Lesya. anak kita anak yang kuat, bahkan dia sudah sangat kuat ketika ayahnya belum bisa bersamanya. kali ini ia juga akan begitu" Saga menenangkan istrinya agar tidak terlalu panik. meskipun saat ini Saga pun juga merasa sangat panik melihat keadaan Anaknya seperti itu.
Setelah kejang yang di alami oleh Elgara reda, sang dokter mengatakan jika saat ini Elgara sudah stabil dan segera meninggalkan ruangan Elgara.
Elgara yang masih sangat kecil hanya bisa menangis ketika merasakan sakit. dan hal itulah yang semakin membuat Lesya sangat sakit melihat anaknya seperti itu.
Lesya kemudian menggendong Elgara dan menimangnya, seakan tak rela membiarkan Elgara jauh darinya. Lesya tidur dengan posisi duduk dengan Elgara berada di dalam dekapannya.
Melihat pemandangan seperti itu membuat Saga terharu dan duduk di lantai didekat lutut sang istri. Sesekali Saga mencium tangan Lesya dan mengecup lembut kening Elgara. ketika Saga memperhatikan Istri dan anaknya lama-lama Saga pun terlelap di atas paha Lesya.
_
Brakkk
Prankk
"kalian semua tidak becus bekerja. cepat temukan Dewa atau kalian akan tau akibatnya! "
Dengan keadaan marah, Zora keluar dan mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. hingga ketika Zora sampai di sebuah perempatan, ia hampir saja menabrak seseorang hingga membuatnya banting stir dan mengalami kecelakaan.
"astaga, dia pingsan! "
"kalau begitu bawa dia ke rumah sakit"
"kak Saka, lebih baik kita bawa dia kerumah. ini adalah kasus kecelakaan, aku takut jika ini akan buruk untuk kita"
"kamu benar Liyora"
Karena kejahatan yang pernah di lakukan oleh Saka, ia takut jika polisi akan mengendusnya dan menangkapnya hingga akhirnya ia membawa Zora ke rumahnya.
Selang beberapa saat ia tengah sampai dan membaringkannya di atas tempat tidur. "untung saja kamu mengingatkanku Liyora. atau kalau aku membawanya ke rumah sakit dan polisi mendapat laporan dari rumah sakit, bisa-bisa polisi akan tau jika aku yang membuat Saga menghilang! "
"apa, Saga? "
Liyora dan Saka menoleh ke sumber suara dengan wajah panik.
.
.
. bersambung
__ADS_1