
Dikta tidak pernah menyerah untuk mencari tahu alamat rumah Dylan, dari media sosialpun ia coba mencari tau dimana rumah Dylan. karena merasa letih, ia turun di sebuah restoran.
"mba.." saat itu Diktamemesan minuman dan beberapa makanan ringan.
"baik kak, di tunggu ya.."
setelah kepergian sang witers, Dikta seolah terpikirkan akan sesuatu. ia seperti mengingat-ingat tentang witers yang baru saja menawarkan menu untuknya.
setelah beberapa saat minuman dan makanan yang dipesan oleh Dikta pun datang. saat sang witers hendak meninggalkan mejanya, Dikta secara tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"emm sorry... gua cuman mau bilang, kayanya kita pernah ketemu gak si?" tanya Dikta.
"iya kita sering ketemu karena lo kan sering dateng di kafe tempat dulu gue kerja!"
mendengar ucapan sang witers, Dikta menautkan kedua alisnya. ia berusaha mengingat tentang apa yang dikatakan oleh witers restoran itu.
"Dita?" terka Dikta dengan membulatkan kedua netaranya.
"iya gue Dita!" jelas Dita dengan senyum di wajahnya.
'astaga ni cowok ternyata masih inget sama nama gue? gak bisa tidur ni ntar malem! mana tangan gue tadi dipegang lagi!'
Dita menahan suka cita yang ada di hatinya. ia berusaha memasang wajah senormal mungkin agar Dikta tidak mengetahui perasaannya terhadap Dikta.
"emm ngomong-ngomong, lo kenapa pindah kerja? dan kenapa di usia lo sekarang ini lo udah kerja? lo gak sekolah!"
entah sejak kapan seorang Dikta menjadi ingin tau urusan orang lain, bahkan kali ini orang yang ia tanyai termasuk orang yang cukup asing. ia hanya bertemu beberapa kali saat mendatangi kafe kala itu.
"iya gue kerja buat biayain hidup gue karna gue orang gak mampu, jadi gue harus bantu orang tua gue buat nambah penghasilan dengan kerja part time kaya gini. dan kebetulan gue masih sekolah."
saat itu Dikta hanya mengangguki ucapan Dita sembari menikmati jus pesannnya. namun Dikta tiba-tiba saja bangkit dari duduknya, ia menarik Dita hingga jatuh kedalam pelukannya.
pandangan mereka bertemu, entah kenapa saat itu desiran aneh mengalir ditubuh Dikta.
__ADS_1
menyadari Dita yang merasa canggung, ia segera memposisikan tubuhnya sedikit mengambil jarak dengan Dita. "sorry Dit, tadi hampir aja lo ketabrak sama anak itu."
sontak Dita melihat kearah anak kecil yang berlari-lari di dalam restoran tersebut.
"mba, mas. maaf ya anak saya emang susah di bilangin!" ucap orang tua dari anak kecil yang hampir menabrak Dita dan lanjut mengejar anaknya yang terus berlarian kesana kemari didalam restoran.
"oh ya Dikta, gue harus lanjut kerja. selamat menikmati"
"yup, btw gua boleh minta nomor lo?"
Dikta menyodorkan ponselnya kepada Dita. setelah Dita selesai memasukkan nomornya diponsel Dikta, ia segera kembali untuk bekerja. dan saat Dita sibuk dengan pekerjaanya melayani pelanggan restoran, diam-diam Dikta memperhatikan Dita.
setelah beberapa menit, Dikta sudah menghabiskan jus yang dan makanan yang ia pesan. "mba.." Dikta mengangkat tangannya ke atas untuk bill pesanannya.
setelah membayar, Dikta kini mulai melanjutkan misinya untuk mencari alamat Dylan. ketika Dikta tidak sengaja melihat ke samping kirinya, ia melihat Dylan yang saat itu berada didalam mobilnya.
"ini kesempatan gua buat tau dimana rumah Dylan."
Dikta terus mengikuti kemanapun mobil itu pergi. hingga setelah beberapa jam Dikta membuntuti Dylan, ia baru tau tempat tinggal Dylan yang ternyata tidak jauh dari rumah Alden.
Dikta memarkirkan motornya, ia lalu bergegas kedalam untuk mencari dimana Dylan dan Friska tinggal. ia terus mengikuti Dylan hingga akhirnya ia melihat Friska yang saat itu membukakan pintu untuk Dylan.
"jadi semuanya benar!"
hati Dikta mencelos saat mata kepalanya sendiri melihat seseorang yang pernah bertahta didalam sana, tinggal bersama pria yang belum menjadi suaminya. bahkan pria itu bukanlah saudaranya.
"setelah gua tau apa yang di alami Friska, gua pikir gua bakal bisa lebih dekat sama dia lagi. dan ternyata gua salah! Friska memang bukan cewe baik-baik." Dikta mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku kuku tangannya memutih.
"gua tau gua kecewa waktu itu dia khianatin gua! tapi setelah gua deket sama dia lagi beberapa hari terakhir, gua tau dia gak seburuk itu. tapi lagi-lagi keyakinan gua di patahin gitu aja dengan dia tinggal sama cowok yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya."
Dikta berbalik arah dan memilih untuk meninggalkan apartemen itu. saat ini ia kembali kecewa dengan kenyataan yang harus ia hadapi.
Dikta terua melajukan kendaraannya di tengah hiruk pikuk perkotaan yang udaranya semakin dingin saat hari semakin larut. hingga saat di penyeberangan, Dikta tidak sengaja menyenggol pejalan kaki yang hendak menyeberang.
__ADS_1
brugh
seketika Dikta menghentikan laju kendaraannya. ia berlari ke arah seseorang yang ia serempet yang saat ini terus meringis kesakitan memegangi kakinya.
"aduh sorry..sorry, biar gua anter ke rumah sakit"
"ouh.. sakit banget"
"Dita.."
"Dikta!"
_
Nafas Liyora terengah saat baru duduk di sebuah mobil. ia lalu membuang nafas kasar. ia melempar tas nya kesembarangan di jok belakan mobil.
"untung saja tadi kita lihat Saga disitu, kalo sampek kita ketauan, bisa makin panjang urusannya!" ujar Saka yang saat ini mulai melajukan mobilnya.
"iya kak, dan untungnya kita tau jalan lain biar gak ketauan sama Saga" sahut Liyoa yah ada disebelahnya.
"sekarang lupain itu, kita bahas apa yang mau kita bahas."
Saka menatap Liyora dengan datar. sementara itu Liyira justru membenarkan pakaiannya yang terlihat acak-acakan karena berlari.
"kita harus cari cara lain untuk pisahin Saga sama Lesya. aku gak mau kalau sampai Lesya jadi milik Saga."
"sebelumnya aku gak tau ya kak. tapi kali ini aku ingin tau, apa yang bikin kak Saka Nyesel gak nikah sma tu ce-, eghem maksu aku Lesya! kenaoa setelah Lesya nikah sama Saga, kak Saka baru tau kalo kakak suka sama Lesya .
"kamu gak perlu tau apa yang gak perlu kamu tau. sekarang tugas kamu cuman cari cara buat pisahin Saga sama Lesya. selebihnya, kamu tidak oerlu tau itu!" ucapan Saka begitu tegas dan lugas sehingga membuat Liyora bergidik ngeri.
'ni orang pengen gue congk*l deh matanya. dingin banget kaya es natapnya, mana galak banget lagi! untung kakaknya Saga kalo engga, udah gua jitak tu kepala. gue sentil juga tu mulut pedesnya!'
Liyora terus menggerutu didalam benaknya. namun ia berusaha untuk tenamg agar tujuannya mendaoatkan Saga kembali bisa terwujud.
__ADS_1
.
.bersambung