
Zora semakin marah ketika mengetahui Saga tidak berada di rumah sakit itu lagi. Ia menambah anak buah untuk mencari keberadaan Saga.
"aku nggak mau tau, secepatnya kalian harus dapetin Saga. atau kalian bakal tau apa akibatnya"
Setelah memarahi anak buahnya, Zora memilih untuk langsung pergi menemui Saka dan Liyora di salah satu restoran yang dekat dengan rumahnya.
"ada apa kamu memanggil kami kesini? " tanya Saka.
"aku mau kalian beritahu aku, apa Dewa punya vila atau apapun? "
Saat itu Saka dan Liyira bingung ketika Zora bertanya tentang Dewa. namun saat itu Saka teringat jika Zora menganggap Saga sebagai Dewa.
"ada beberapa di tempat yang berbeda" ucap Saka.
"memang untuk apa kau menanyakan itu? "
"Dewa kabur bersama istrinya ketika anak buahku ingin menculiknya. dan anak buahku kehilangan jejak mereka" jelas Zora.
"baiklah, kirim semua alamat atau apapun milik mereka"
Dengan segera Saka memberikan semua alamat vila dan tempat lainnya kepada Zora. Saka justru merasa senang jika Zora bisa menemukan Saga. dengan begitu ia akan lebih mudah merebut Lesya.
_
Meski mendapat sikap dingin dari Dikta, Alden tidak sedikitpun merasa kesal. ia tau Dikta bersikap seperti saat ini karena dirinya lah yang menyebabkannya.
Dalam keadaan basah, Alden menuruti ucapan Dikta untuk pergi. saat itu Dikta hanya menatap kepergian Alden tanpa menawarkan handuk untuknya.
Alden yang saat itu membawa tidak membawa mobilnya harus merasakan dingin karena terpaan angin yang menerpa tubuhnya yang basah kuyup.
dan karena dirinya basah, ia menjadi pusat perhatian oleh orang yang melihatnya. bahkan ada sebagian yang menertawainya karena basah tanpa adanya hujan.
Sesampainya di rumah, Alden bertemu dengan dita yang tengah memasak makan siang yang ditemani oleh Kenan merasa heran melihat kedatangan Alden yang basah kuyup.
"kak Alden, kakak kenapa basah? " tanya Kenan dengan penasaran.
"tidak ada Kenan, kakak tadi terpeleset dan jatuh ke kolam. makanya ini kakak mau ganti baju" balasnya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
Setelah menjawab pertanyaan dari Kenan, Alden segera pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Kenan, masakannya udah jadi. kamu makan ya, biar kakak temuin kak Alden dulu ya"
"iya kak"
tok tok
Dita memasuki kamar Alden dan melihat Alden yang sudah mengganti pakaiannya. dan saat ini Alden berada di atas balkon sembari menatap ke arah jauh.
"ada apa Alden? "
__ADS_1
Alden menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. ia memutar badannya dan melihat Dita yang datang dengan membawa secangkir teh untuknya.
"minum dulu Al"
Alden segera meraih dan menyesapnya perlahan.
"ada apa Al, kenapa lo bisa sampek basah kayak gini?"
"gue menemuinya Dita"
"pacar lo? ".Alden menganggukinya.
"tapi kenapa lo basah kayak gini? "
"dia tau kalo lo hamil Dita. dan gue berusaha ngejar dia, tapi gue malah jatuh ke bal air makanya gue basah kayak gini"
"harusnya lo jelasin sama dia kalo kita ngelakuin itu cuman sekali, dan itu cuman demi mama kamu kan Al?"
"Dan dia sudah terlanjur marah sebelum gue jelasin semuanya Dita"
Melihat kegundahan di hati Alden membuat Dita merasa iba. ia segera memeluk Alden dengan hangat. "Al, lo yang tenang. lo harus yakinin dia lagi kalo kita emang gak saling cinta. dan kita lakuin itu cuman buat mama." Dita terus meyakinkan Alden untuk tidak menyerah seperti biasanya.
"atau lo mau gue yang ngomong sama dia?"tambahnya lagi.
Alden segera melepas pelukan dari Dita "emm gue yang bakal jelasin Dita, gue nggak mau kalo yang kena dampaknya"
"lo yakin nggak mau gue bantuin? "
"ya udah mending kita makan sekarang. kasian Kenan, dia sendirian di bawah"
Dita mengambilkan makanan untuk Alden, namun Alden tidak. memakannya habis dan justru hanya beberapa sendok.
"kenapa nggak di abisin Al? "
"gue langsung ke resto aja ya Dita"
'apa kak Yoo joon juga semarah itu sama gue? apa setelah aku punya anak sama Alden, aku bisa yakinin kak Yoo joon?' batin Dita
"Dita gue ke resto ya? "
"ah iya Al" jawabnya sedikit terbata karena memikirkan Yoo joon.
Usai makan siang, Alden memutuskan untuk ke restoran miliknya. namun sepanjang hari ia tidak bisa fokus karena terus memikirkan Dikta. dan akhirnya ketika pukul lima sore, Alden memutuskan untuk kembali menemui Dikta.
ting tung
Ceklek
Melihat kedatangan Alden, Dikta hendak menutup pintunya, namun lagi-lagi Alden masuk lebih dulu.
__ADS_1
Melihat Alden yang sudah duduk di sofa, Dikta melipat tangannya di depan dada dengan tatapannya yang tajam. namun Alden tidak memusingkan hal itu, Alden berusaha tersenyum meskipun ia merasa lumayan down dengan sikap Dikta yang terus mengabaikannya.
"udah malem, lebih baik kamu pulang"
Dengan paksa Dikta mendorong Alden hingga keluar rumah. dan ia mengunci pintu rumahnya agar Alden tidak bisa masuk.
Namun hal itu tidak membuat Alden menyerah, Alden terus menunggu Dikta di depan rumah hingga ia tertidur di sofa teras rumah Dikta.
"karena hari ini week end, lebih baik aku
joging sebelum aku menemui Saga"
Dikta bersiap untuk berlari pagi, namun ketika ia membuka pintu rumahnya, ia terkejut melihat Alden yang masih ada di rumahnya. Dikta melihat Alden yang masih terlelap.
Ia terus mengamati tiap inci wajah Alden, dan ia mengernyit ketika melihat Alden yang pucat. Dikta pun memeriksa suhu badan Alden dengan meletakkan punggung tangannya di kening Alden.
"astaga, kamu demam Al. Alden bangun Al?"
Dikta berusaha membangunkan Alden, namun Alden tak kunjung sadar. karena panik Alden membawa Alden ke kamarnya, ia mulai mengompres Alden karena suhu badannya yang terlalu tinggi.
"Alden, kamu denger aku kan?"
Saat itu Alden hanya membuka sedikit kedua matanya karena terlalu pusing. "Dikta aku minta maaf, dan aku mau jelasin sesuatu sama kamu Dikta"
"sstt, kamu diam. kamu jangan banyak bicara Al, ku harus istirahat. kamu tunggu disini, aku akan memasak sesuatu untukmu."
Tanpa mendengar jawaban dari Alden, Dikta segera pergi kedalam untuk memasak bubur untuk Alden. setelah selesai dengan masakannya, Dikta membawanya kedalam kamar.
"ayok bangun Al, aku sudah membawa bubur untukmu"
Dengan bantuan dari Dikta, Alden duduk dan di suapin oleh Dikta. saat itu Alden merasa senang karena perhatian Dikta telah kembali untuknya.
Disaat Dikta hendak mengembalikan mangkuk buburnya, Alden memeluk Dimta dari belakang.
"Dikta maafin aku, aku mau kita kayak dulu Dikta"
Alden lalu memutar badannya dan menatap Alden dengan lekat. "keadaan udah beda Al, dan kamu udah mau punya anak. jadi jangan main-main sama pernikahan kamu. kalian sudah memutuskan untuk memiliki anak, jadi jangan korbankan anak kalian"
Perasaan Alden mencelos ketika mendengar ucaoan dari Dikta. jujur saja itu benar, tetapi itu juga menyakitkan untuk Alden.
"jadi kamu nggak mau balik sama aku Ta?"
"kita bukan anak kecil lagi Al. kita harus tanggung jawab sama keputusan yang udah kita jalani selama ini, khusunya kamu! "
deg
Hati Alden terasa perih melihat orang yang dia sayangi bersikap sedingin saat ini dan memutuskan semua harapannya.
'aku memang brengs*k, tapi aku akan berjuang buat cinta kita Ta'ala batin Alden sembari terus menatap wajah Dikta.
__ADS_1
bersambung