It'S Perfect

It'S Perfect
Mengatakan Tanpa Ragu


__ADS_3

Banyak sekali wartawan yang menunggu di luar ruang rawat Alden, hingga saat itu Saga menghubungi pihak rumah sakit untuk membuat para wartawan itu pergi.


"Kalian ada apa disini, lebih baik sekarang kalian pergi, kalian bisa menganggu pasien-pasien yang ada di disini"


Ucap security rumah sakit tersebut.


"Kami harus mewawancarai Alden dan Dikta pak, tolong jangan halangi kami"


Security rumah sakit tersebut justru terjatuh karena dorongan dari wartawan yang ingin mewawancarai Alden dan Dikta. Hingga sorang dokter pun datang untuk membuat para wartawan mengerti.


"Maaf semuanya, ini rumah sakit. tolong jangan bikin keributan di sini"


"Kami akan pergi setelah kami mewawancarai pak Dikta. Dia seorang pengusaha tetapi tidak memperdulikan status sosial dan memilih hubungan nya yang terlarang"


Dokter dan seseorang yang menyuruh para wartawan itu pun terdiam sesaat, tetapi mereka segera tersadar dan kembali memperingatkan para wartawan.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka dan para wartawan hendak masuk, namun pintu kembali tertutup setelah seseorang keluar.


"Kalian tetap di sana! Atau kalian semua akan berhadapan dengan polisi karena mengganggu ketenangan di rumah sakit dan menganggu para pasien"


Semua wartawan terdiam "dengar, kalian tidak berhak menilai kehidupan orang lain. Mungkin yang mereka pilih memang salah, tapi tidak ada seorangpun yang bisa mengatur kepada siapa mereka akan jatuh hati. Dan banyak sekali orang-orang beranggapan ini akan berdampak dan mempengaruhi orang lain untuk menirunya"


Saga kemudian melangkah semakin dekat ke arah wartawan yang juga merekamnya. "Saya sebenarnya juga tidak mendukung tentang itu. Tetapi apa kalian tidak berpikir, orang-orang akan meniru jika mereka tau. Dan orang-orang itu akan tau karena kalianlah yang berusaha mengumumkannya dengan menyebarkannya seperti ini. Apa itu juga salah Alden dan Dikta? Karena sebenarnya mereka sendiri juga merasa tidak benar makanya mereka merahasiakannya. Mereka sebenarnya juga berpikir sama dengan kalian, tapi justru kalianlah yang membuat semua orang tau dan mungkin saja akan menirunya."

__ADS_1


Semuanya masih belum mengatakan apapun karena mendengar ucapan Saga yang memang itu benar adanya.


"Harusnya kalian tidak berfokus untk menyebarkannya. Yang harus kalian lakukan itu adalah menanamkan hal positif agar kelak tidak ada yang meniru perbuatan itu, tapi jangan hakimi mereka seperti ini. Baiklah kalian sudah mendapatkan berita, lebih baik kalian cepat pergi sekarang.


Akhirnya setelah Saga mengutarakan semua yang ada di kepalanya, saat itu Semua wartawan pun beranjak pergi dan tidak memaksa untuk menemui Dikta dan Alden lagi.


-


"Saat ini mereka pasti sedang ribut, untung saja Sharena tadi memberitahukan tentang hubungan Alden dan Dikta tepat waktu, sehingga aku bisa membuat wartawan itu kesini."


Saka masih setia didalam mobil menunggu para wartawan mewawancarai Alden dan Dikta. Namun mendadak wajahnya yang terus mengembangkan senyum, mendadak pudar setelah melihat live salah satu berita.


"Sial! Kenapa mereka justru menyetujui ucapan Saga. Harusnya mereka menghinanya dan dengan begitu Saga akan semakin memikirkan teman-temannya itu, dan aku bisa terus mendekati Lesya. Tapi semuanya kacau seperti ini"


Saka memukul kemudinya karena kesal dengan rencananya yang tidak berjalan sesuai kemauannya.


_


Tap


Tap


Tap


Via menoleh kearah suara dari langkah kaki seseorang yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Dimana bang Arga?"


"Dia ada didalam, dokter masih memeriksanya" Balas Via yang ditemani oleh Doni.


"Sharen, kenapa ku baru datang? "


"Dengerin Don, semalam aku nggak enak badan makanya aku matiin hp."


"Kenapa bang Arga bisa kayak sekarang Don?"


"Tuan Arga nolongin aku bu, makanya dia sampai tertabrak"


"Lagi-lagi lo yang bikin masalah! Dasar pembawa sial" Sharena membentak Via hingga Via tersentak.


Saat itu Via mulai menyalahkan dirinya lagi setelah Doni dan Andi membuatnya untuk mengerti kalau itu bukanlah dirinya penyebabnya, melainkan karena kelalaian dari sang pengendara.


"Jangan membentak Via bu Sharena, anda sendiri sebagai saudara juga tidak baik. Anda tidak bisa dihubungi ketika tuan Arga membutuhkan persetujuan anda. Tapi untung saja ada Via yang mengatakan jika Arga ayah dari anaknya, makanya dokter mau melakukan tindakan untuk menyelamatkan tuan Arga"


Via terhenyak mendengar perkataan dari Andi barusan. 'Lo bener-bener nggak ada perasaan apapun smaa gue Ndi. Buktinya lo gampang banget mengatakan hal itu tanpa ragu'


.


.


. Bersambung

__ADS_1


__ADS_2