
Saga termenung didalam kelasnya. saat itu Dikta dan Alden seperti biasa selalu mengagetkan Saga ketika Saga melamun.
"woe.. bengong aja lu Ga?" ucap Alden sembari menepuk pundak Saga.
"eh" Saga terkejut dengan kedatangan kedua sahabatnya "gak pa-pa gua" sambungnya lagi
"ngomong aja deh lu Ga, siapa tau kita bisa bantu!" ujar Dikta.
'kali ini gua harus bisa atasin masalah gua sendiri. inikan rumah tangga gua, gua gak boleh selalu ngandelin mereka berdua!'
"gak ada apa-apa kok Ta, gua cuman mumet belum belajar buat ualangan hari ini!" Saga beralasan.
"oh ya mampus gua, gua juga belum belajar anj*r" Alden bergegas untuk pergi ke tempat duduknya. saat itu ia mulai membuka buku catatannya untuk mempelajari pelajaran yang akan di adakan ulangan.
saat itu Dikta yang menangkap sesuatu yang lain duduk di bangku yang ada di seberang meja Saga. ia menatap Saga dengan penuh selidik.
"gua tau lu itu cerdas Saga, jadi gak mungkin banget lu mumet cuman gara-gara itu. kita sahabatan itu gak sehari dua hari Ga?"
"gua tau Ta! gua emang gak ada apa-apa!" Saga kembali menegaskan ucapannya.
"udahlah Dikta"
Dikta dan Saga mencari sumber suara yang tiba-tiba terdengar tidak asing ditelinga mereka. setelah mengetahui orang itu Liyora, Dikta mengernyitkan dahinya sementara itu, Saga menatap malas Liyora.
"lo gak perlu khawatirin Saga. sekarang Saga itu hidup bahagia dengan istrinya. mereka pasti setiap hari romantis banget. karna harus makan sepiring berdua, tidur berdua di ranjang yang sempit. dan yang pasti rumah mereka yang udah kaya kandang ayam!"
"jaga ucapan lo Liyora" hardik Dikta. dan Alden pun saat ini meninggalkan catatannya dan berdiri di samping Dikta karena mendwmgar ucapan yang kurang menuenangkan dari Liyora.
"kenapa gue harus diem? itu emang kenyataannya! sahabat kalian ini sekarang kere gak punya apa-apa!"
"kenapa lu diem aja Ga? lu gak boleh diem aja di hina sama Liyora."sahut Alden.
"apa yang dikatakan Yora emang bener. gua saat ini emang hidup sederhana sama istri Gua!"
"maksud lo hidup sederhana gimana Ga?" tanya Alden yang saat utu terlihat bingung, pasalnya yang mereka tau Saga anak dari pengusaha ternama begitupun dengan Lesya, anak dari seorang Guntara.
"gua sama Lesya harus hidup tanpa uang dari keluarga kami, termasuk Lesya juga harus keluar dari perusahaannya."
"yang gua tangkep, ini kaya ada yang aneh. iya nggak Ta, setuju nggak lu sama gua?" ucap Alden.
"gua pikir kali ini ucapan lu bener Al" Dikta menimpali Alden.
__ADS_1
melihat Liyora yang tersenyum menyeringai, membuat Dikta manutkan kedua alisnya. saat itu ia berspekulasi bahwa apa yang dialami oleh Lesya dan Saga ini ada sangkut pautnya dengan Liyora.
"apa ini lo juga yang nyebabin, setelah perubahan sikap nyokapnya Saga terhadap mba Lesya hemm?" kali ini Dikta mendekat ke arah Liyora.
"hei, apa yang lo maksud Dikta? itu bukan karna gue! tapi.." Liyora menjeda ucapannya dan saat ini meletakkan tangannya di atas bahu Dikta. "kalo emang itu karena gue.. itu artinya, gue lebih berarti dari pada Lesya di mata tante Lisa!" sambung Liyora yang masih di samping Dikta yang tengah tertegun atas ucapannya.
"minggir lo, jangan karna Saga sekarang gak kaya dulu terus lo sekarang mau godain Dikta!" saat itu Alden melepas tangan Liyora dari bahu Dikta.
"ih kasar banget si lo Al"
"huh.. cewek selicik lo itu gak pantes dilembutin"
saat itu Liyora menjadi kesal. ia pun melenggang pergi meninggalakan ketiganya.
setelah melihat Liyora pergi, Alden dan Dikta melihat Saga yang terduduk di bangkunya meminta penjelasan.
_
Saka kembali menemui Arga yang masih menunggunya diruangannya. namun saat ia masuk, saat itu Arga sudah duduk terduduk di ruang biasanya.
"maaf tuan Arga, saya terlalu lama meninggalkan anda sendirian."
"it's okay, tapi apa anda melihat asisten saya?"
klek
"maaf saya tadi pergi ke toilet" ucap Lesya yang baru datang.
"baik, ayo kita pergi sekarang." Arga menatap Lesya mengisyaratkan untuk segera keluar dari ruangan itu. "mari tuan Saka" sambung Arga.
"memang kita mau kemana pak?"
"jangan banyak bertanya!"
'aku harus memberitahu Saga kalau sepertinya aku akan pulang sesikit terlambat' saat itu Lesya hanya mengikuti kemanapun bosnya pergi. kali ini ia juga bersama dengan kakak iparnya. mengingat hari semakin sore, saat itu Lesya mengirimkan pesan untuk memberitahu Saga dia akan pulang terlambat.
setelah menempuh beberapa menit diperjalanan, akhirnya mereka sampai disebuah lahan kosong. disana terlihat sangat gelap tanpa adanya permukiman.
"ini tanah yang saya maksudkan tuan Saka. Saya ingin anda mengurus pembangunannya, untuk masalah biayanya anda tenang saja."
"maaf pak, kalo boleh saya tau, apa yang akan kalian bangun disini?" karena merasa penasaran, akhirnya Lesya tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
seketika saaat itu Arga dan Saka saling beradu pandang. mereka berdua seperti enggan untuk memberitahukan kepada Lesya. "ada saatnya untuk kamu tahu. yang penting sekarang kamu hanya perlu imut denganku Lesya"
'sebenarnya gak ada kepentingan gue ajak lo kesini. tujuan gue supaya lo semakin hari semakin jauh dari suami lo. abang gue udah relain nyawanya buat lo, dan lo dengan entengnya nikah sama cowok pecundang itu.'
_Flashback On
"kenapa kita harus bicara tanpa Lesya tuan Saka? apa yang sebenarnya ingin anda bahas?"
saat itu Saka terlihat sangat serius. ia menatap lugas Arga yang ada dihadapannya.
"begini tuan Arga, sebenarnya sekertaris anda adalah adik ipar saya."
"lalu apa masalahnya, bukannya bagus. dengan begitu anda bisa leluasa membahas semua dihadapannya."
"maaf, sebenarnya ini adalah masalah keluarga. tapi karena mereka melibatkan tentang perusahaan, saya harus mengatakan ini kepada anda."
mendengar ucapan Saka, Arga terlihat memikirkan sesuatu. namun ia memilih untuk tetap mendengar apa yang akan disampaikan oleh Saka.
"ini berawal dari Saga yang mengalami amnesia. dan dia mengingat kami kecuali Lesya."
"maksud anda?"
"dia hanya lupa ingatan beberapa bulan terakhir, dan kebetulan itu semenjak dia menikah. dan saat itu Saga kembali menjalin hubungan dengan seorang gadis, yaitu mantan kekasihnya sebelum menikah dengan Lesya." sembari bercerita, Saka berdiri sembari sesekali berjalan.
"dan ada suatu kejadian, dimana Lesya dituduh melukai kekasih Saga. sebenenya itu belum terbukti, tapi karena mami saya tidak menyukai sikap anrkis. akhirnya mami menyuruh Lesya dan Saga hidup mandiri tanpa uang dan fasilitas keluarga. dan Lesya juga harus keluar dari perusahaan dan meninggalkan jabatannya sebagau CEO G.PRO CORPORATION. dan mungkin karena itu, keluarga Lesya tidak terima dan dengan sikap mami dan menarik semua investor penting di perusahaan ini."ucap panjang lebar Saka menceritakan semuanya terhadap Arga.
"dari yang saya tangkap, adik anda tidak mengingat istrinya. tapi kenapa saat ini dia sudah bersama istrinya?" tanya Arga penuh selidik.
"karena adik saya mengalami kecelakaan dan mendapatkan ingatannya kembali tuan Arga."
Arga akhirnya mengerti kenapa Lesya saat ini bekerja ditempatnya. apa yang ia sangka tidak sepenuhnya benar, ia pikir Lesya bekerja ditempatnya untuk mengambil informasi dari perusahaannya.
"tapi saya tidak bisa melakukan apapun tanpa sekertaris saya tau tuan Saka, saya harus memberitahu soap projek yang akan saya tangani!"
"tolong tuan Arga, untuk ini saja."
'sepertinya gue harus menerima permintaannya kali ini. dengan begitu ketika rencananya berhasil, gue juga bisa sekalian tumbangin perusahaan Guntara. ya walaupun itu sulit, tapi setidaknya ada orang lain yang mempunyai tujuan yang sama!' Arga tersenyum smirk
_Flashback Off
.
__ADS_1
.
.bersambung