
Dylan menemani Dita mengantar adiknya hingga di depan pintu ruang operasi. Kecemasan tentu saja dialami oleh Dita. siapa yang tidak cemas jika seorang kakak menanti adiknya yang tengah berjuang hidup menjalani operasi besar didalam ruangan yang terpisah darinya.
'disaat kayak gini aku butuh kamu kak Yoo joon, apa kamu benar-benar lupain kami? mungkin aku masih Terima jika kamu lupain aku, tapi Kenan? dia gak pantes kamu perlakukan kayak gitu kak' Dita sangat kecewa karena Yoo joon tidak datang disaat adiknya di operasi. padahal hal ini yang sudah dinanti-nanti olehnya.
Dylan duduk disebelah Dita dengan tangannya yang merengkuh Dita agar Dita lebih kuat dan tegar menanti Kenan yang sedang dioperasi.
"Dita, ada yang ingin aku tanyakan"
Dita lalu menoleh kearah Dylan yang saat ini sedang menatapnya.
"apa yang ingin kakak tanyakan?"
"tadi aku ingin mengurus administrasi nya, tapi mereka bilang kamu sudah melunasinya, apa itu benar? "
Dylan menatap Dita yang terlihat gusar. saat itulah Dylan menangkap ada sesuatu yang tidak ia ketahui yang mungkin Dita sengaja menutupinya. dan kini Dylan mulai mencari tau dengan menanyakan langsung terhadap Dita.
"Dita, siapa yang membayarnya? "
"tentu saja aku yang membayarnya kak"
"katakan padaku kau mendapat uang sebanyak itu darimana? "
Lagi-lagi Dita kembali terdiam seribu bahasa. hingga Dylan kini memegang kedua pundak Dita dan menatapnya tegas. "Katakan Dita, itu bukan uang yang sedikit. jadi kamu mendapatkannya dari mana? "
"Dita.." panggil seseorang yang berhasil membuat Dita dan Dylan menoleh bersama-sama.
Dita lalu bangkit dan memeluk seseorang yang datang. "sayang, bagaimana keadaan adikmu? apa operasinya berjalan lancar?"
"semoga saja tante, saat ini Dokter sedang melakukan operasinya"
"kamu harus mendoakan yang terbaik untuk adikmu ya sayang, tante juga bantu doa"
Riana mengedarkan pandangannya dan menangkap sosok seorang pria tampan yang memakai stelan jas yang menandakan bahwa dirinya bukanlah orang sembarangan.
"maaf sebelumnya, adek ini siapaa ya?"
"saya Dylan, saya dekat dengan Dita"
"maksudnya dekat itu, seperti apa?" ucap Riana dengan kedua alis yang saling menaut.
"ini kak Dylan tante, dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. kak Dylan juga sering menjagaku tante" terang Dita.
"oh..makasih ya Dylan. kamu sudah menjaga calon menantu tante"
"calon menantu? " Dylan sangat terkejut mengetahui Dita menjadi calon istri dari Alden. pandangan Dylan lalu mebelisik Alden yang saat itu berdiri dihadapan Dita.
__ADS_1
'aduh, mama pakek ngomongin calon menantu segala. tu pasti kak Dylan pasti syok banget kan?'
"Alden, aku mau bicara denganmu berdua"
"baiklah." Alden lalu melihat kearah ibunya dengan Dita mengisyaratkan harus pergi untuk berbicara dengan Dylan.
telah Dylan merasa kini mereka sudah jauh dari Dita dan Riana. Dylan lalu menarik kerah baju Alden.
"et.. et.. Apa-apaan ini? "
"apa yang kamu lakukan Alden? kenapa tiba-tiba mama kamu mengatakan Dita itu calon istri kamu? "
Alden hanya terdiam, ia masih enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "ya memang itu kenyataannya. memang kenapa jika Dita menjadi calon istriku? "
keduanya kini hanya saling menatap dengan tatapan yang benar-benar tajam. bagi siapa saja yang melihatnya pasti akan menciut.
'gue nggak bisa ngomongin yang sebenarnya sama kak Dylan. aku takut dia akan mengatakan semuanya, belum nanti jika dia menanyakan apa alsan kami membuat kesepakatan untuk pura-pura pacaran.'
_
"jadi Dita sudah menjadi calon istri Alden? kenapa aku tidak tau kalau mereka sedekat itu? dan untuk apa yang akau lakukan selama ini, apa Dita tidak pernah menganggapnya sebagai bukti Keseriausanku? "
"apa Lesya juga tau tentang ini? lebih baik aku tanyakan ini kepada Lesya."
Yoo joon yang sudah kembali dari negara asalnya sejak dia hari lalu memutuskan untuk mendatangi rumah Lesya. namun setelah ia sampai di depan rumah Lesya dan Saga, ia tidak menemukan ada orang disana kecuali satpam yang menjaga rumah tersebut.
Seseorang yang ia kenal keluar dari taksi dengan membawa koper besar. saat itu Yoo joon segera keluar dari mobilnya dan menghampiri.
"Lesya.. "
langkah kakinya terhenti sembari menatap Yoo joon dihadapannya. saat itu Lesya segera memeluk Yoo joon dengan erat. mendapati Lesya yang langsung memeluknya, Yoo joon segera membalas pelukan tersebut.
cukup lama mereka berpelukan, namun Lesya masih belum mengatakan apapun dan justru terisak didalam pelukannya.
"ada apa Sya? "
"Joonie.. " dengan suara bergetar Lesya menyebut nama Yoo joon.
"kita kedalam okey? "
Yoo joon segera membantu Lesya untuk membawa koper milik Lesya. sesampai didalam Yoo joon mendudukkan Lesya di sofa ruang tamu. saat itu Yoo joon segera mengambilkan Lesya segelas air putih.
"sebenarnya apa yang terjadi Sya? dan Saga, dimana Saga? "
"heu... heu... " bukannya menjawab ucapan Yoo joon, Lesya justru menangis lebih keras.
__ADS_1
"Lesya jawab aku, apa yang terjadi hmm? "
"Saga Joonie, dia ngekhianatin aku hiks.. hiks.."
"bagaimana bisa Saga mengkhianati kamu Sya? bukankah kalian baru saja berbaikan?"
"itu dia Joonie, aku benar-benar kecewa! "
"coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi Sya biar aku ngerti! "
Lesya mulai menceritakan dari ketika ia pergi ke labuan bajo hingga makan siang romantis dan mendapat sebuah amplop yang berisi tentang pengkhianatan Saga.
"sudah.. sudah tenanglah" Yoo joon kembali memeluk Lesya untuk menenangkannya.
'aku sendiri sebenarnya tidak baik-baik saja Sya. aku sebenarnya ingin menanyakan banyak hal. tapi melihat keadaanmu seperti ini? lebih baik aku tidak menanyakan sekarang!'
"auh.. "
Lesya memegangi perutnya yang terasa sakit.
melihat Lesya yang kesakitan Yoo joon menjadi cemas. "ada apa Lesya, apa sangat sakit? "
"mungkin perutku kram Joonie, karena dokter bilang di usia kandungan trimester memang biasa terjadi."
"jadi kamu sedang hamil Lesya? Dan Saga justru melakukan itu? "
Yoo joon meradang mengetahui hal itu, ia mengepalkan tangannya. bagaimanapun Lesya adalah perempuan kedua setelah ibunya yang sangat Yoo joon sayangi karena mereka sudah mengenal dari mereka kecil.
"astaga mba, saya harus segera balik karna istri saya sudah menaiki pesawat dengan penerbangan paling pagi. dan aku harus tau keadaannya saat ini"
"mohon bersabar tuan, saya sedang memeriksa apakah ada tiket yang tersisa"
"cckk" Saga berdecak kesal karena ia tidak bersabar menunggu.
"lihat kak Saka, mereka benar-benar bertengkar besar." Liyora terkekeh, namun Saka justru membuat kekehannya berhenti.
"ada apa kak? kenapa kau diam? "
"emm itu Liyora, kalau Lesya sudah kembali, bagaimana kita membuat alasan nantinya. dia pasti mencari kita disana kan? "
"ah iya kak kamu benar" Liyora menepuk kepalanya.
'sebenarnya aku tidak memikirkan hal itu Liyora, hanya saja dengan apa yang ku lakukan semalam' batin Saka.
.
__ADS_1
. bersambung