It'S Perfect

It'S Perfect
Sangat Rawan


__ADS_3

Usai selesai dengan dokter, Karena sudah merasa lebih baik Via menolak untuk di rawat. Dengan langkah kecil Via menyusuri koridor rumah sakit. Tanpa ia sadari seseorang mengikutinya.


"Kayak ada yang ngikutin gue deh? " Ingin rasanya Via menoleh dan melihat siapa yang mengikutinya, namun Via lebih memilih untuk mempercepat langkahnya meskipun ia mengenakan alas kaki dengan heel yang lumayan tinggi. Hingga terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat.


'Iya bener ini ada yang ngikutin gue' Via pun mempercepat langkah kakinya. Dan karena ia hanya memikirjan agar terhindar dari seseorang yang mengikutinya, Via tidak memperhatikan jalan dan justru ia tergelincir dari tangga.


"Aaaa... "


Grep


Untung saja seseorang menariknya hingga ia terhindar dari celaka. Matanya yang tertutup perlahan terbuka. Menyadari didalam sebuah dekapan, Via mendongak melihat siapa yang saat ini menolongnya.


"Tuan Arga"


Arga lalu mengendurkan pelukannya dan saat ini ia sudah lebih menjaga jarak dengan Via. Namun Arga masih memegangi pundak Via dengan cukup kencang.


"Dasar ceroboh, apa kau tidak ingat dengan janin yang ada di dalam perutmu? Seharusnya kau menjaganya baik-baik dan berjalan layaknya perempuan yang hamil! Kenapa tidak ada satupun yang bisa kau lakukan dengan baik hmm? " Bentak Arga yang terlihat cemas melihat Via hampir tergelincir dari sebuah tangga.


"Aku merasa ada yang mengikutiku, makanya aku berjalan dengan cepat. Tapi untuk janinku, hanya aku yang tau apa yang terbaik untuknya. Anda tidak perlu mengomentari bagaimana aku menjaganya tuan Arga! Karena aku orangtuanya. Dan asalkan tuan Arga tau, orang tuanya adalah Satu-satunya orang yang akan pasang badan lebih dulu untuk keselamatan anaknya, kecuali orang tua yang tidak bertanggung jawab dan tidak ingin mengakui atau bahkan melupakan-" Via menghentikan ucapannya dan memilih meninggalkan Arga.


Seolah merasa tenggorokannya tercekat, Arga hanya tertegun mendengar ucapan Via dan hanya memperhatikan kepergian Via.


"Apa maksudnya mengatakan hal itu? Aku semakin yakin ada sesuatu yang aku tidak tau dan sengaja disembunyikan olehnya"


"Astaga, malam ini aku harus menemui Lesya. Aku tau jika saat ini Saga tidak ada dirumah, dengan begitu aku bisa memanfaatkan waktu ini, bukannya mengurusi perempuan lain yang sangat menyebalkan sepertinya"


Arga kemudian kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri. Sesampainya di rumah Arga mengingat kembali ucapan dari Via.


"Argghhh.. " Arga mengacak rambutnya kasar sembari menatap dirinya di oantilan cermin yang ada di dalam kamar mandinya.


"Kenapa aku harus memikirkannya, lagi pula dia mengatakan kalau itu bukanlah anakku. Dan itu hanya terjadi satu kali, mana mungkin itu anakku. Saat ini yang harus aku lakukan merebut kembali wanita yang aku cintai juga bang Arvan"


Setelah bergumul dengan pendapatnya sendiri, Arga segera bergegas untuk mendatangi rumah Lesya dengan beralasan membahas proyek mereka.


Selang beberapa menit, kini Arga sudah berada tepat di depan pintu rumah Lesya. Saat itu Lesya yang baru saja selesai dengan masakannya segera membuka pintu.


"Tuan Arga, kenapa anda datang ke rumahku malam-malam begini?" Tanya Lesya yang masih mengenakan Appron dibadannya.


"Sayang sekali aku harus mengganggumu dengan datang ke rumahmu karena ada pembahasan tentang proyek kita yang ada di luar kota" Tutur Arga dengan suaranya yang santai namun lugas hingga terkesan berwibawa.


"Seharusnya kau bisa menghubungiku dan kita bahas ini di luar tuan Arga, jadi kau tidak perlu datang kemari karena suamiku tidak ada di rumah" Ujar Lesya.


"Tidak perlu keluar, karena aku tau kalian tinggal bersama dengan iparmu yang tidak berguna itu kan? Jadi tidak akan ada yang membicarakan kita. Kecuali jika kita memang melakukan sesuatu". Arga kemudian menyunggingkan senyumnya hingga membuat Lesya kesal.


Namun kali ini Lesya tidak punya alasan untuk mengusir Arga. Karena ia harus profesional dalam pekerjaan. Mau tidak mau Lesya harus memoersilahkan Arga untuk masuk.


"Duduklah, aku akan segera kembali. "


Dan selang beberapa saat Lesya datang dengan membawa beberapa berkas untuk ia bahas dengan Arga.


"Dina.. "

__ADS_1


Panggilnya dan selang beberapa saat Dina keluar.


"Ada apa mbak Lesya? Ada yang bisa saya bantu? "


Arga mengerutkan dahinya ketika melihat Dina. 'Siapa perempuan berlogat Jawa ini? Sepertinya aku pernah melihatnya?' batin Arga.


Merasa jika dirinya diperhatikan oleh Arga, Literally menundukkan kepalanya.


"Din, tolong buatkan teh ya"


"Baik mba" Balasnya dan beranjak ke ruangan dapur.


"Siapa perempuan tadi Lesya? "


"Dia perawat perawat sekaligus orang yang membantuku mengurusi rumah ini, ada apa kau menanyakan itu? "


"Tidak, aku hanya memberitahu mu agar kau hati-hati dengannya, sepertinya dia tidak sepolos dengan penampilannya"


"Huh, dengar tuan Arga. Jangan menganggap semua orang sepertimu" Balas Lesya dan menarik sebelah sudut bibirnya.


Saat itu Lesya dan Arga kemudian membahas proyek milik mereka berdua. Cukup lama mereka membahasnya hingga memerlukan waktu dua jam. Dan tanpa di duga saat itu tiba-tiba Lesya sangat ingin memakan bakso yang di jual tidak jauh dari rumahnya.


"Baik tuan Arga sepertinya semua sudah selesai, lebih baik kau segera pergi"


"Kenapa kau sangat buru-buru Lesya? "


"Karena aku akan pergi!"


"Itu bukanlah urusanmu tuan Arga, jadi lebih baik. Kau tidak banyak bertanya"


Meskipun mereka adalah partner kerja, Lesya dan Arga tidak berhubungan baik. Dan semua itu karena kesalahan pahaman yang membuat Arga ingin balas dendam


Hingga akhirnya setelah ia tau yang sebenar nya, bukannya menghentikan apa yang ia lakukan untuk balas dendam, justru Arga semakin ingin merebut Lesya dari Saga yang menurutnya tidak pantas untuk Lesya.


"Baiklah aku akan pergi"


Arga menunggu Lesya untuk keluar rumah, sementara Lesya bergegas menuju penjual bakso dengan berjalan kaki. Karena memang letaknya yang tidak jauh.


Perlahan Arga mengikutinya dan ia tertegun ketika melihat Lesya berhenti di dekat gerobak bakso yang sangat jauh dari kata mewah.


"Bang, baksonya satu yang pedes bang"


"Baik neng"


Lesya menikmati baksonya dengan sangat lahab, hingga dalam waktu singkat ia sudah menghabiskannya.


Lesya kemudian berjalan kaki kembali kerumahnya.


"Astaga" Lesya menepuk dahinya cukup keras hingga ia bercak kesakitan "sshh.. Kenapa aku lupa, tadi aku masak banyak. Lalu siapa yang akan memakannya? Isshh"


Dari tempat yang tidak terlihat oleh Lesya seseorang terus terkekeh melihat tingkah Lesya yang terlihat lucu. Terlebih dengan perutnya yang mulai mebesar hingga membuat berat badannya ikut naik dan terlihat sedikit chubby sehingga membuat Arga gemas.

__ADS_1


Drrrettt Drrrttt


"Iya halo Saga"


"Kamu sedang apa mba istri, aku sangat merindukanmu" Balas Saga diseberang sana.


Karena Lesya meloundspeak ponselnya, dengan sangat jelas Arga mendengarnya hingga dalam sekejap senyum di wajah Arga menghilang.


"Ini baru sehari Saga"


"Apa boleh buat, jika istriku sangat candu bagiku. Dan aku sangat merindukannya"


Meskipun Saga sering mengatakan hal itu, tetapi Lesya masih saja merasa malu mendengarnya.


"Sshh, kenapa hari ini aku selalu di buat kesal oleh wanita-wanita hamil? Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu Lesya." Ucap Arga yang masih mengikuti Lesya.


Sementara itu Lesya yang terlalu asik berbincang, ia sampai tidak memperhatikan seorang pengendara sepeda motor melaju dengan sangat kencang dan mengarah kepadanya.


"Aaa... "


"Sayang ada apa? Kau baik-baik saja kan? " Ujar Saga di seberang telefon dengan panik.


"Lesya.. Jawab aku! "


"Sshh.. Kenapa tidak ada suaranya"


Saga begitu cemas hingga ia langsung pergi dan keluar dari kamarnya.


"Saga, kamu mau kemana?" Tanya seorang rekannya yang sama menginao di hotel tersebut.


"Aku harus kembali ke Jakarta, karena terjadi sesuatu dengan istriku"


"Jangan gila Saga, perjalan dari sini sangat rawan jika di jam seperti ini. Lebih baik kau hubungi seseorang yang dekat dengan istrimu"


"Tidak, aku tetap tidak tenang" Ujar Saga dan segera menuju mobilnya untuk kembali ke Jakarta meskipun sudah di peringatkan oleh rekannya.


Dan benar saja, ketika ia sampai di sebuah rute, dimana jauh dari pemukiman warga, beberapa orang menghentikan mobilnya. Dan mau tidak mau Sgaa harus keluar dari mobilnya.


"Mau kalian apa? Uang? Aku akan memberi kalian uang tapi aku harus segera pergi karena istriku dalam bahaya"


"Lu pikir kita mau harta? Kita disini mau nyawa lu"


Setelah mengatakan hal itu beberapa orang tersebut menyerang bersmaan hingga membuat Saga tidak bisa banyak memberi perlawanan.


Bug


Bug


Bug


"Hentikan, sepertinya dia sudah tidak bernyawa! " Ucap seseorang yang turun dari dalam mobil

__ADS_1


. Bersambung


__ADS_2